News Update

HRTA Sebut Permintaan Emas Tetap Tinggi Meski Harga Bergejolak, Ini Alasannya

Poin Penting

  • Permintaan emas tetap kuat meski harga bergejolak, didorong ketidakpastian geopolitik, risiko fiskal, dan ekspektasi kebijakan moneter global.
  • Proyeksi harga emas 2026 masih bullish, dengan konsensus pasar di kisaran USD5.000–6.000 per ounce seiring meningkatnya permintaan safe haven dan pembelian bank sentral.
  • HRTA mencatat kinerja solid sepanjang 2025, tercermin dari lonjakan harga saham 580% yang mencerminkan kepercayaan pasar terhadap fundamental dan prospeknya.

Jakarta – Harga emas global terus bergerak fluktuatif, di tengah dinamika geopolitik dan ketidakpastian kebijakan global. Setelah sempat menyentuh rekor tertinggi pada akhir Januari, harga emas kembali mengalami koreksi tajam hingga lebih dari 10 persen pada awal Februari 2026.

Koreksi harga emas dipicu penguatan dolar AS dan respons pasar terhadap ekspektasi kebijakan moneter AS yang lebih ketat. Volatilitas juga terjadi di pasar Indonesia. Pada awal Februari 2026, harga emas batangan sempat turun hingga Rp183.000 per gram dalam satu hari. Koreksi ini merefleksikan sensitivitas pasar terhadap dinamika global.

Meski begitu, harga emas tetap jauh di atas level harga awal tahun. Artinya, dalam jangka menengah emas masih berada dalam fase penguatan.

Baca juga: HRTA Rilis Aplikasi HRTA Gold untuk Transaksi Emas dan Perhiasan, Ini Keunggulannya

Direktur Investor Relations PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) Thendra Crisnanda, mengatakan koreksi jangka pendek itu menunjukkan bahwa karakter emas sebagai aset yang likuid dan responsif terhadap dinamika global. Ini juga membuka peluang akumulasi bagi konsumen yang ingin menabung atau investasi jangka panjang.

“Ketidakpastian geopolitik, risiko fiskal, serta arah kebijakan moneter global terus mendorong minat terhadap emas,” kata Thendra dalam keterangan resmi, dikutip Selasa, 10 Februari 2026.

Ketidakpastian ekonomi global yang masih tinggi ditambah ketegangan geopolitik membuat masyarakat kembali melirik emas sebagai safe haven.

Di sisi lain, kondisi makroekonomi AS yang relatif stabil dengan inflasi di kisaran 2 persen dan The Fed yang masih menahan suku bunga turut membentuk ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter ke depan. Kondisi ini berimbas langsung pada tren harga emas global.

Permintaan Bank Sentral

Permintaan emas dalam volume besar dari sejumlah bank sentral dunia juga memengaruhi fluktuasi harga. Data perdagangan Swiss mencatat ekspor emas Swiss meningkat 27 persen secara bulanan pada Desember 2025. Ini mencerminkan kuatnya permintaan global.

Melihat tren yang ada, sejumlah instusi keuangan global menaikan proyeksi harga emas pada 2026. Deutsche Bank menargetkan harga emas mencapai USD6.000 per ounce.

Morgan Stanley memproyeksikan skenario bullish di level USD5.700 per ounce. UBS AG menaikkan targetnya dari USD5.900 menjadi USD6.200 per ounce pada periode kuartal I–III 2026.

Sedangkan, Goldman Sachs mempertahankan target USD5.400 per ounce hingga akhir 2026. Angka itu sudah terealisasi pada akhir Januari kemarin.

Baca juga: Harga Emas Antam, Galeri24, dan UBS Hari Ini Kompak Naik, Cek Rinciannya

Secara umum, konsensus pasar menempatkan harga emas 2026 di kisaran USD5.000–6.000 per ounce. Ini sekaligus mencerminkan ekspektasi berlanjutnya permintaan safe haven dan lingkungan suku bunga riil yang relatif rendah.

Kinerja HRTA

Sebagai tambahan, HRTA sendiri mencatatkan kinerja apik sepanjang 2025. Harga saham HRTA melonjak 580 persen secara tahunan, dari Rp328 per saham menjadi Rp2.150 per saham di penutupan perdagangan 2025. Kinerja saham itu disebut mencerminkan kepercayaan pasar akan fundamental dan prospek pertumbuhan HRTA.

“Dengan fundamental yang terjaga dan ekosistem bisnis emas yang semakin terintegrasi, kami melihat momentum harga emas saat ini sebagai peluang untuk memperkuat peran HRTA dalam memenuhi kebutuhan pasar domestik, baik untuk investasi, konsumsi, maupun ekosistem emas nasional,” pungkas Thendra. (*) Ari Astriawan

Yulian Saputra

Recent Posts

Masuk Tahap Lelang, Danantara Tegaskan Tak Dominasi Pembiayaan Proyek WtE

Poin Penting Program Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL/WtE) ditargetkan mulai groundbreaking Maret 2026, dengan… Read More

1 min ago

Adira Finance Siap Genjot Pembiayaan Multiguna di Momen Ramadan

Poin Penting Adira Finance melihat peluang kuat pembiayaan multiguna pada Februari–Maret 2026 seiring momentum Ramadan,… Read More

5 mins ago

Pandu Sjahrir: Danantara Setiap Hari Borong Saham, Fokus Emiten Fundamental Solid

Poin Penting BPI Danantara menyatakan siap berinvestasi di pasar saham Indonesia dan telah aktif membeli… Read More

1 hour ago

BRI Salurkan KPR Subsidi Rp16,16 Triliun, Dukung Program 3 Juta Rumah

Poin Penting BRI menyalurkan KPR subsidi Rp16,16 triliun sepanjang 2025 kepada lebih dari 118 ribu… Read More

2 hours ago

Pemerintah Siap Tebar 2 Jenis Bansos di Kuartal I 2026, Ini Rinciannya

Poin Penting Kemensos salurkan dua jenis bansos di kuartal I 2026, yakni bansos reguler (sembako… Read More

2 hours ago

BTN Perkuat Bisnis Beyond Mortgage, Transaksi Bale by BTN Tembus Rp103 Triliun

Poin Penting Bale by BTN mencatat pertumbuhan pesat, dengan 3,7 juta pengguna dan volume transaksi… Read More

2 hours ago