Categories: News UpdateOpini

Hidup Tanpa Eselon

Oleh: Awaldi, Direktur Operasional Bank Muamalat Indonesia, dan pengamat pengelolaan SDM

PARA ASN (aparat sipil negara) mesti segera siap-siap untuk hidup tanpa eselon. Presiden Jokowi tampak tak maen-maen dengan idenya memangkas eselon III dan IV dalam waktu tak terlalu lama. Gelombang ini juga akan melanda perusahaan swasta yang masih birokratis. Pegawainya juga mesti siap-siap kehilangan jabatan struktural.

Dalam ratas (rapat terbatas) terkait penciptaan lapangan kerja di Istana Negara hari Senin kemaren tanggal 11 November 2019, Jokowi menegaskan komitmentnya dan meminta para menteri untuk mengimplementasikan ide penghapusan eselon III dan IV di lembaga pemerintah.

“Saya kira di Kemenpan RB sudah menyiapkan yang nanti akan memangkas, yang pertama mungkin eselon IV terlebih dahulu di semua kementerian, meski tetap harus dilihat secara cermat kajiannya,” kata Jokowi di sela ratas terkait penciptaan lapangan kerja tersebut.

Para menteri sepertinya bergerak cepat. Kemenpan RB sudah mendeklarasikan bahwa dalam sebulan kementeriannya akan memangkas eselon III dan IV, supaya menjadi contoh bagi lembaga lainnya. Basuki Hadimulyono tanggal 12 November kemaren menyampaikan di DPR bahwa kementerian PUPR akan segera memangkas eselon IV, yang berimpak kepada lebih kurang 1300 karyawan.

Secara umum tentu kita menyambut baik inisiatif debirokratisasi ini. Namun jangan lupa dalam implementasinya pekerjaan rumah berikutnya dari pemerintah tentu masih banyak. Tidak hanya sekedar memotong 2 level eselon, sesudah itu selesai.

Contohnya apakah semua lembaga harus dipotong 2 eselon? Bagaimana dengan departemen operasional, yang sedikit membutuhkan tenaga fungsional, tetapi jenis pekerjaannya membutuhkan kontrol dan pengawasan ketat? Bukankah jenis pekerjaan seperti ini membutuhkan level struktural yang lebih banyak? Contohnya camat atau lurah, yang eselonnya jauh di bawah, mungkin IV atau bahkan V. Apakah jabatan ini harus dijadikan fungsional juga?
Bagaimana dengan framework pengelolaan karir? Seperti bagaimana pejabat fungsional naik ke jenjang yang lebih tinggi, dan bagaimana pejabat fungsional bisa menyeberang menjadi pejabat struktural?

Semua pertanyaan seputar karir ini mesti bisa dijawab sebelum ide debirokratisasi ini diimplementasikan. Dan jangan juga dianggap enteng adalah mempersiapkan mental para pegawai bahwa hidup tanpa eselon tidak berarti kiamat.

Hidup di dunia kapitalis telah menjadikan banyak orang menjadi tidak bisa survive tanpa identitas jabatan. Para pegawai merasa “bekerja” karena di kantor dia punya team; karena di kantor omongannya di dengar tanpa saringan; karena dikantor dia tinggal pakai jari telunjuk pekerjaan selesai; karena di kantor dia punya ruangan kerja sendiri, setidaknya punya batas-batas ruang dengan anak buah.

Identitas dirinya tidak bisa dipisahkan dari identitas yang fana yang berasal dari luar. Suasana hatinya menggantung seperti tak bertali, ditentukan oleh situasi angin dan “cuaca” di luar dirinya. Jika “cuaca” diluar tidak bersahabat, dia langsung merasa lesu, dingin dan tak bersemangat.

Banyak di antara kita masih mengandalkan panca indera, yang sebenarnya milik jasmani, untuk mendapatkan kebahagian, yg ranahnya ada dalam dunia rohani. Nggak nyambung antara alat yang digunakan (panca indra) dan tujuan akhir berupa kebahagiaan yang hanya bisa dirasakan oleh tubuh rohani.

Kebahagiaan kita terletak pada lidah yang merasakan nikmatnya makanan yang dihidangkan dengan sambel ikan teri dan kuah santan nangka muda. Kalau malam pulang kantor dihidangkan isteri makanan yang tak sesuai selera, gampang merasa tersinggung dan kehilangan kendali. Kalau pergi ke negeri orang dihidangkan makanan yang bumbu dan garamnya kurang, kita bersungut-sungut marah kenapa isteri lupa bawa sambal bawang, dan merasa perjalanan ke luar negeri menjadi kacau.
Kita masih tergantung kepada mata untuk mendapatkan ketenangan bathin yang semu. Senang melihat yang indah-indah, tapi muram durjana kalau yang dilihat tiap hari barang yang sama terus. Sehingga banyak pekerja tak sabar menunggu waktu holiday supaya bisa pergi ke negeri orang melihat tempat baru. Keindahan penglihatan mata menentukan suasana di dalam hati, senang atau menggerutu.

Telinga kita menjadi penentu apakah hari itu menjadi hari yang indah berseri-seri atau hari yang kelabu. Presentasi di depan direksi yang tidak diperhatikan dan didengarkan dengan baik oleh peserta, membuat kita merasa tidak dihargai. Pekerjaan bagus yang tidak diganjar dengan acungan jempol dari bos dan janji kenaikan pangkat membuat kita lesu darah dan kurang semangat bekerja.

Panca indera kita gunakan untuk mendapatkan kepuasaan dan kebahagiaan. Yang tentu saja semu, karena panca indera bersifat jasmaniah dan fana. Kehidupan di luar diri kita tentu tidak bisa diatur dan tidak akan sama setiap saat. Ketergantungan pencapaian ketenangan hidup dari panca indera atau dari dunia luar akan membuat kita gampang sakit jiwa.

Banyak pegawai masih mengandalkan panca indera untuk mendapatkan kebahagian dan ketenangan. Pegawai yang hidup semu seperti ini tentu rentan terkena dampak dari digesernya struktur yang bersangkutan dalam pekerjaan; digeser sehingga tidak lagi punya jabatan.
Eselon adalah harga dirinya. Eselon adalah pencapaiannya. Eselon adalah kebahagiaannya. Eselon hilang berarti pencapaian, harga diri, kepuasaan dan kebahagian akan redup. Hidupnya menjadi lenong. Kiamat kecil.

Pemerintah bertanggungjawab mempersiapkan pegawai ASN menghadapi perubahan deeselonisasi ini. Harus dengan sangat matang. Jangan dianggap hanya sesuatu yang remeh. Di dunia kapitalis ini, pegawai meletakkan identitas dirinya pada eselon.

Jokowi dan pemerintahannya harus memastikan bahwa pegawai mesti mulai belajar bahwa identitas dirinya tidak sama dengan identitas jabatannya. Identitas dirinya bukanlah eselon. Identitas dirinya bukanlah sesuatu yang bersumber dari panca indera. Identitas dirinya, suasana bathinnya, bukanlah sesuatu yang berada di luar jiwa. Suasana bathin, kita sendiri yang mengatur. Hidup tenang walaupun tanpa eselon. (*)

Dwitya Putra

Recent Posts

Prospek Saham 2026 Positif, Mirae Asset Proyeksikan IHSG 10.500

Poin Penting Mirae Asset menargetkan IHSG 2026 di level 10.500, meski tekanan global dan data… Read More

5 hours ago

Pembiayaan Emas Bank Muamalat melonjak 33 kali lipat

PT Bank Muamalat Indonesia Tbk mencatat kinerja positif pada pembiayaan kepemilikan emas syariah melalui produk… Read More

6 hours ago

Rosan Mau Geber Hilirisasi Kelapa Sawit dan Bauksit di 2026

Poin Penting Realisasi investasi hilirisasi 2025 mencapai Rp584,1 triliun, tumbuh 43,3 persen yoy dan menyumbang… Read More

6 hours ago

Avrist General Insurance Resmikan Kantor Baru, Bidik Pertumbuhan Dua Digit 2026

Poin Penting Avrist pindah kantor pusat ke Wisma 46 untuk mendukung pertumbuhan bisnis. Target pertumbuhan… Read More

7 hours ago

Dana Pemerintah di Himbara Minim Dampak, Ekonom Beberkan Penyebabnya

Poin Penting Penempatan dana Rp276 triliun di bank pelat merah dinilai tidak signifikan mendorong perekonomian,… Read More

8 hours ago

Gita Wirjawan: Danantara Bakal Jadi Magnet WEF 2026

Poin Penting Gita Wirjawan menilai kehadiran BPI Danantara di WEF 2026 berpotensi menjadi magnet utama… Read More

9 hours ago