Anggota Badan Supervisi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Hernawan Bekti Sasongko, saat menjalani fit and proper test ADK OJK di Jakarta, Rabu, 11 Maret 2026. (Foto: Tangkapan layar)
Poin Penting
Jakarta – Anggota Badan Supervisi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Hernawan Bekti Sasongko, menjadi salah satu dari 10 kandidat yang lolos untuk mengikuti uji kelayakan atau fit and proper test calon Anggota Dewan Komisioner atau DK OJK.
Hernawan diketahui mendaftar untuk posisi Wakil Ketua DK OJK. Dalam proses uji kelayakan tersebut, salah satu fraksi di Komisi XI DPR RI menanyakan langkah yang akan diambil jika ia terpilih di tengah kondisi ekonomi yang dinilai tidak sepenuhnya normal.
Baca juga: Jadwal Lengkap Fit and Proper Test 10 Calon Komisioner OJK di DPR Hari Ini
Hernawan menjelaskan bahwa posisi Wakil Ketua DK OJK nantinya akan lebih berfokus pada penguatan tata kelola organisasi serta koordinasi sistem perencanaan di internal lembaga.
Karena itu, ia menilai langkah awal yang perlu dilakukan adalah memprioritaskan penyelesaian persoalan paling mendesak di sektor jasa keuangan.
Baca juga: Seleksi Komisioner OJK: Bocoran Alus Enam Nama Sebelum Fit and Proper Test
“Katakan di sektor perbankan. Kami mencoba melihat beberapa hal yang utama yang untuk ‘di-addres‘ lebih dahulu. Katakan untuk pertama itu adalah kredit masih dominan berbentuk untuk konsumsi dan korporasi besar. Tapi nanti saya gali lebih mendalam karena memang hampir 78 persen dari struktur pembiayaan sekarang itu diserap oleh hanya 50 pengusaha-pengusaha besar,” kata Hernawan dalam fit and proper test OJK bersama Komisi XI DPR RI, Jakarta, Rabu, 11 Maret 2026.
Menurut Hernawan, penyaluran kredit seharusnya lebih banyak mengalir kepada Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang selama ini menjadi penopang pertumbuhan ekonomi nasional.
Selain itu, ia juga menyoroti masih tingginya sikap kehati-hatian berlebihan (risk aversion) di sektor perbankan yang membuat pembiayaan cenderung bersifat pro-siklus.
“Yang kedua kalau di perbankan Pak, masih ada di industri itu semacam risk aversion yang tinggi. Jadi lebih pada pro cyclical. Nah oleh karena itu, itu yang arahnya harus diubah dan memang tidak mudah kalau ini, agak panjang. Tapi kalau tidak dimulai itulah yang nanti akan menjadi proses yang seperti permasalahan klasik. Jadi reformasi prudensial untuk counter cyclical,” imbuhnya.
Baca juga: Formalitas Fit and Proper Test Calon Komisioner OJK, Panggung Senayan yang Lucu
Hernawan menilai perbaikan sistem pembiayaan tersebut dapat dimulai dari pembenahan sumber daya manusia (SDM) serta perbaikan model proses bisnis di sektor keuangan.
Selain itu, koordinasi lintas sektor juga dinilai penting agar kebijakan yang diambil mampu memperkuat stabilitas sektor jasa keuangan secara menyeluruh. (*)
Editor: Yulian Saputra
Poin Penting Visa dan Skorcard menjalin kerja sama strategis untuk memperluas akses kredit dan inklusi… Read More
Poin Penting Pemerintah belum akan merevisi APBN 2026 meski harga minyak dunia sempat menyentuh USD100… Read More
Poin Penting Dicky Kartikoyono menilai stabilitas sektor keuangan Indonesia cukup baik, namun kontribusinya terhadap pertumbuhan… Read More
Poin Penting Krisis properti dan kelebihan kapasitas industri China menjadi dua risiko utama yang dapat… Read More
Poin Penting Agus Sugiarto memaparkan tujuh pilar penguatan OJK saat mengikuti fit and proper test… Read More
Poin Penting: Status Gunung Tambora dinaikkan dari Level I (Normal) menjadi Level II (Waspada) akibat… Read More