Resesi Berlanjut! Mungkinkah Pertumbuhan Ekonomi 7%, Jika Kredit Perbankan Masih Seret

Resesi Berlanjut! Mungkinkah Pertumbuhan Ekonomi 7%, Jika Kredit Perbankan Masih Seret

Oleh: Eko B. Supriyanto, Chairman Infobank Institute

RESESI berlanjut. Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan data pertumbuhan ekonomi pada kuwartal I minus 0,74% (yty). Jika dibandingkan kuwartal sebelumnya juga masih minus 0,96%. Sebelumnya, Presiden Joko Widodo optimis pertumbuhan ekonomi pada kwartal II, pertumbuhan ekonomi bisa tumbuh 7%. 

Harus diakui geliat ekonomi di kuwartal II tahun 2021 mulai tampak ada. Jalan-jalan macet, dan pusat retail juga padat. Impor barang modal juga udah naik. Ekonomi lebaran selalu mendongkrak ekonomi. Itu bukan berarti bisa terbang sampai 7% — mengikuti pola di AS yang tumbuh 6,4% dan di China yang terbang 17%.

Bahwa, diyakini oleh para pengamat, ekonomi kuwartal II akan lebih baik dan akan tumbuh. Namun sejumlah pengamat meragukan bisa mencapai 7%. Jika ekonomi lebih baik, sepakat mengatakan setuju, tapi kok super optimis bisa tumbuh 7%. Dan, data menunjukan pertumbuhan Indonesia sebesar 7% hanya berlaku ketika zaman Orde Baru di bawah Soeharto.

Presiden-presiden setelah Soeharto tidak pernah membawa Indonesia dalam pertumbuhan 7%. Namun sejak krisis global tahun 2008-2009, telah membawa Indonesia mesuk kelompok G-20 (Negara maju). Namun pertumbuhan mencapai 7% masih dalam cita-cita. Pertumbuhan ekonomi Indonesia sejak Orde Baru rata-rata 4-6,2%.

Menurut catatan Infobank Institute, tahun 2011, ekonomi Indonesia tumbuh 6,17 persen. Lalu terus melemah menjadi 6,03 persen di 2012, 5,56 persen di 2013, hingga 5,01 persen di tahun pertama Jokowi. Tahun 2015, ekonomi semakin melambat jadi 4,88 persen.

Nah, baru pada 2016 hinga 2018, ekonomi mulai berbalik arah dan tumbuh positif. Dari 5,03 pada 2016, 5,07 pada 2017, dan puncaknya 5,17 pada 2018. Pelemahan ekonomi global pun berdampak pada Indonesia sehingga ekonomi hingga tahun 2019 kembali anjlok jadi 5,02 persen. Dan, karena Pandemi COVID-19 ekonomi Indonesia kontraksi 2,07%. Angka ini lebih baik jika dibandingkan di banyak Negara yang kontraksi lebih dalam.

Perkiraan pertumbuhan angka 7% dikemukakan oleh Presiden Joko Widodo. Presiden Jokowi meyakini proses pemulihan ekonomi Indonesia berjalan dengan baik. Bahkan, menurut Presiden, ekonomi sudah hampir normal. 

Hal itu disampaikan Presiden ketika memberikan arahan kepada kepada daerah se-Indonesia, 28 April 2021. Pernyataan Jokowi itu  ditayangkan ulang tanggal 29 April 2021 melalui akun YouTube Sekretariat Presiden. 

Optimisme itu karena, menurut Presiden, Maret-April 2021, ekonomi sudah hampir menuju pada posisi normal. Sehingga, target di tahun 2021, target pertumbuhan ekonomi Indonesia 4,5%-5,5% itu bisa dicapai. Dan, Presiden yakin pertumbuhan ekonomi di Kuartal II-2021 bisa mencapai 7%. 

Alasan optimis Presiden terhadap pertumbuhan ekonomi, banyak industry mulai beroperasi. Hal itu tercermin dari Pucrhasing Managers Index (PMI). Sebelumnya PMI pada angka 51, sekarang pada level 53,2. Konsumsi listrik juga naik 3,3%. Indeks keyakinan konsumen juga nai dari 85,9-85,8 menjadi 93. Dan, menurut Presiden indek penjualan retail juga naik menjadi 182,3 di  Maret 2021. Ini artinya, menurut Presiden ada permintaan. Ada belanja, ada konsumsi yang tercermin di Index penjualan retail ini.

Kredit Bank Vs Pertumbuhan Ekonomi

Menurut data Infobank Institute yang diolah dari Bank Indonesia, setahun terakhir ini kredit kontraksi 4,13% (Maret 2020-2021). Kontraksi terdalam jika dibandingkan akhir Desember 2020. Kredit perbankan masih menyala atawa masih minus selama 9 bulan terakhir sejak Juni 2020 lalu.

Menurut catatan Infobank Institute ada banyak faktor, selain faktor kesehatan masing-masing bank – yang menyangkut permodalan, likuiditas, non performing loan (NPL) dan kapasitas bank itu sendiri. Utamanya, soal kredit bermasalah – termasuk di dalamnya loan at risk (LAR). Faktor risiko masih menjadi batu ganjalan dalam pemberian kredit selain rendahnya permintaan kredit dari debitur yang baik. Posisi LAR perbankan mencapai 24-25%. Besar, dan bisa jadi ada yang akan jatuh menjadi NPL. Perkiraan moderat yang akan jatuh menjadi NPL sekitar 7-10%.

Ada beberapa hal sehingga kredit bisa lancar mengalir. Satu, konsumsi rumah tangga. Dua, daya beli masyarakat yang sering kali disebut M2. Tiga, “banderol” suku bunga kredit. Empat, penjualan eceran, seperti departemen store dan toko kelontong termasuk retail modern dan tradisional. Penurunan suku bunga belum menjadi daya tarik utama permintaan kredit. Lebih kepada daya beli masyarakat.

Ruang untuk ekspansi kredit perbankan masih lebar. Posisi loan to deposit ratio (LDR) berkisar 80-81%. Itu artinya, bank-bank terus “minum” likuiditas. Meski bank-bank besar juga sudah menurunkan suku bunga baik dana dan kredit, tapi hasilnya berbeda. Suku bunga kredit sudah turun, tapi kredit masih minus. Sebaliknya, meski suku bunga dana terus turun, tapi brankas bank makin penuh meski punya tendensi tumbuh melambat.

Lalu, kapan perkiraan bank “kencing” kredit setelah sembilan bulan menderita disfungsi intermediasi? Jika melihat data-data Maret 2021 dan juga adanya Lebaran di bulan Mei 2021, setidaknya pada Triwulan II tahun ini ada optimisme kredit akan mulai naik meski tipis tipis. Indikasinya, selaian ditegaskan Presiden, juga  membaiknya interest coverage ratio (ICR) perusahaan membaik. Menurut data BI, jika dibandingkan, ICR per Maret 2021 ini yang mencapai 1,29% lebih baik dari Juni 2020 yang berada pada level 0,32%.

Interest coverage ratio adalah rasio untuk menilai seberapa besar kemampuan perusahaan membayar bunga dari utang yang masih tercatat dalam pembukuannya. Rasio ini dapat dihitung dengan membagi laba sebelum bunga dan pajak (earnings before interest and taxes / EBIT) dengan bunga utang yang jatuh tempo dalam periode tertentu.

Harapannya dengan membaiknya ICR ini setidaknya bisa mendekatkan persepsi risiko antara bankir dengan debitur. Bank-bank mulai “berbuka” kredit selain karena para debitur mempunyai daya tahan yang lebih baik dalam membayar pinjamannya, tapi juga “doping” yang diberikan oleh pemerintah bisa menggerakan sektor riil.

Namun demikian pertumbuhan ekonomi 7% boleh jadi sangat optimis.  Gelombang covid-19 di India juga kembali mengacaukan ekonomi global. Produk Domestik Bruto (PDB) atawa pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2020 minus 2,07%. Kondisi ekonomi yang merah itu sudah terjadi sejak kuartal II tahun 2020. Dan, pada pada kwartal I tahun 2021 ini pertumbuhan ekonomi masih negative 0,74%. Resesi berlanjut.

Pertanyaan yang paling mendasar, mengapa bank-bank masih juga belum mengucurkan kredit di Maret 2021 lalu, meski penjualan retail sudah naik, PMI juga sudah membaik dan komsumsi listrik juga sudah naik. Permintaan juga sudah ada.

Tapi faktanya, data dari BI sampai Maret 2021 lalu kredit masih minus 4,13% (YoY). Data terbaru dari OJK, kredit year-to-date (ytd) kredit naik tipis 0,27% atau Rp14,7 miliar secara nominal. Kenaikan kredit masih tipis. Namun jika memakai data dari BI (ytd) masih negative 0,10%.

Ataukah, kredit perbankan tak lagi menjadi sumber pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia? Menurut Infobank Institute, sejak tahun 2010 pertumbuhan kredit terus melambat, dan sejak tahun 2015 pula daya dorong kredit melemah terhadap pertumbuhan ekonomi. Dan, triwulan I tahun ini dengan kondisi kredit yang masih minus, resesi berlanjut yang sudah berlangsung selama setahun. Waktu yang sama – dimana kredit juga sedang kontraksi. Pendek kata, kredit masih seret.

Jika demikian, mari kita tunggu apakah mungkin pertumbuhan ekonomi bisa lompat diangka 7% di kuwartal II tahun 2021 ini tanpa pertumbuhan kredit? Semua berharap bisa terjadi, tapi sesungguhnya dari mana sumber pertumbuhan itu? 

Leave a Reply

Your email address will not be published.