Pasukan Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon (UNIFIL) menggelar parade militer di markas besarnya di Naqoura, Lebanon selatan pada 24 Oktober 2025, untuk memperingati ulang tahun ke-80 berdirinya Perserikatan Bangsa-Bangsa. (Xinhua/Ali Hashisho)
Poin Penting
Jakarta – Temuan awal investigasi Perserikatan Bangsa-Bangsa mengungkap bahwa tiga prajurit TNI yang bertugas dalam misi UNIFIL tewas di Lebanon akibat tembakan peluru tank milik Israel. Laporan ini disampaikan Juru Bicara PBB, Stephanie Dujarric, yang memaparkan hasil identifikasi awal terhadap dua insiden yang terjadi pada 29 dan 30 Maret.
Dalam paparan resminya, Juru Bicara PBB menjelaskan bahwa pada insiden 29 Maret, analisis lokasi dampak dan fragmen proyektil yang ditemukan di Posisi PBB 7-1 menunjukkan proyektil tersebut merupakan peluru utama tank kaliber 120 mm. Peluru ini ditembakkan dari tank Merkava milik Pasukan Pertahanan Israel dari arah timur menuju Ett Taibe.
Dujarric menegaskan, “Perlu diingat bahwa, untuk mengurangi risiko terhadap personel PBB, UNIFIL kembali telah memberikan koordinat seluruh posisi dan fasilitasnya kepada Pasukan Pertahanan Israel pada 6 Maret dan 22 Maret.”
UNIFIL sendiri merupakan misi perdamaian di bawah mandat UNIFIL, tempat para prajurit TNI bertugas sejak lama untuk menjaga stabilitas kawasan perbatasan.
Baca juga: Apakah Benar AS Keluar dari PBB? Cek Faktanya Berikut Ini
Selain tembakan tank, insiden kedua pada 30 Maret juga ditelaah oleh PBB. Berdasarkan analisis lokasi ledakan, kerusakan kendaraan, dan temuan perangkat peledak rakitan (IED) kedua di sekitar lokasi, ledakan tersebut dipastikan berasal dari IED yang terpicu oleh tripwire.
Menurut Dujarric, “Investigasi menilai bahwa, mengingat lokasi kejadian, karakteristik ledakan, serta konteks saat ini, IED tersebut kemungkinan besar dipasang oleh Hizbullah.”
Kelompok Hizbullah diduga memainkan peran dalam pemasangan bahan peledak tersebut, meski investigasi penuh masih berlangsung.
Tiga anggota TNI yang gugur dalam dua insiden itu adalah Mayor Zulmi Aditya Iskandar, Sersan Satu Muhammad Nur Ichwan, dan Kopral Farizal Rhomadon. Temuan awal ini telah disampaikan kepada pemerintah Indonesia, pemerintah Lebanon, serta pemerintah Israel.
PBB menegaskan bahwa seluruh kesimpulan ini masih bersifat awal. Dujarric memastikan investigasi komprehensif terus berjalan di tengah meningkatnya ketegangan wilayah.
“Dewan Penyelidikan akan dibentuk untuk kedua kasus tersebut, sesuai dengan prosedur yang berlaku di PBB,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga para penjaga perdamaian yang gugur dan berharap pemulihan penuh bagi para korban luka.
Baca juga: Tiga Prajurit TNI Gugur di Lebanon dalam Misi Perdamaian PBB, Ini Pesan Prabowo
Dalam pernyataannya, Dujarric menegaskan bahwa serangan terhadap penjaga perdamaian PBB dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang menurut hukum internasional.
“Insiden-insiden ini tidak dapat diterima. Kami telah meminta para pihak terkait agar kasus ini diselidiki dan diproses secara hukum oleh otoritas nasional untuk membawa para pelaku ke pengadilan dan memastikan pertanggungjawaban pidana atas kejahatan terhadap penjaga perdamaian,” katanya.
Ia menambahkan bahwa seluruh pihak wajib menghormati fasilitas PBB dan menjamin keselamatan pasukan penjaga perdamaian setiap saat. (*)
Poin Penting Menkeu Purbaya akui miskomunikasi, sebagian pengadaan motor listrik untuk SPPG ternyata sempat disetujui.… Read More
Poin Penting Livin’ by Mandiri hadirkan QR antarnegara di Korea Selatan, memungkinkan transaksi QRIS tanpa… Read More
Poin Penting Bank Dunia memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 menjadi 4,7 persen dari 4,8… Read More
Grab resmi memperkenalkan 13 fitur berbasis kecerdasan buatan dalam ajang tahunan GrabX 2026.Peluncuran GrabX 2026… Read More
Poin Penting BI mencatat DPK valas Februari 2026 sebesar Rp1.367,2 triliun, relatif stabil dibanding Januari,… Read More
Poin Penting World Bank memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat menjadi 4,7 persen pada 2026, turun… Read More