Suasana toko plastik di Pusat Perbelanjaan Mentaya (PPM) Sampit, Kamis (2/4/2026). ANTARA/Devita Maulina
Poin Penting:
Jakarta – Kenaikan harga plastik di Indonesia menjadi sorotan pelaku usaha. Lonjakan harga plastik ini dipicu terganggunya pasokan bahan baku global akibat konflik geopolitik di Timur Tengah, khususnya perang Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Dampaknya langsung dirasakan industri dalam negeri yang bergantung pada impor bahan baku plastik. Sejumlah pedagang pun mulai menyesuaikan strategi dengan membatasi distribusi untuk menekan risiko kerugian.
Baca juga: Viral MBG Pakai Kantong Plastik, Ini Klarifikasi SPPG dan Penegasan SOP BGN
Kenaikan harga plastik juga terjadi di daerah, salah satunya di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Pedagang mengurangi stok karena harga yang terus meningkat dalam waktu singkat.
“Kenaikan mulai terasa sejak pertengahan bulan puasa, tetapi saat itu belum terlalu signifikan. Setelah Lebaran, kenaikannya semakin terasa dan sampai sekarang sudah sekitar lima kali mengalami kenaikan,” kata Iyan, pedagang plastik di Pasar Keramat Sampit, dikutip Antara, Kamis (2/4/2026).
Ia menjelaskan, salah satu produk terdampak adalah plastik kemasan es, yang harganya naik dari Rp34.000 menjadi Rp55.000 per pak, atau meningkat sekitar 50 hingga 100 persen.
Pemerintah mengakui lonjakan harga plastik dipicu gangguan pasokan bahan baku utama, yakni nafta, dari Timur Tengah. Nafta merupakan turunan minyak bumi yang digunakan dalam produksi plastik, resin, hingga karet.
Menteri Perdagangan Budi Santoso menyebutkan bahwa konflik di kawasan tersebut menghambat pasokan bahan baku ke Indonesia.
“Nafta itu kita impor dari Timur Tengah. Jadi kita terdampak dari bahan baku, yang kita impor dari Timur Tengah. Apa yang kemudian kita lakukan? Kita sekarang mencari alternatif pengganti, atau alternatif dari negara lain,” kata Mendag Budi.
Untuk meredam lonjakan harga plastik, pemerintah kini bergerak mencari sumber pasokan baru dari negara lain. Sejumlah pendekatan telah dilakukan ke berbagai negara seperti India, serta kawasan Afrika dan Amerika.
“Memang ini butuh waktu, karena tiba-tiba dari Timur Tengah harus pindah ke negara lain. Jadi kita harapan proses ini bisa berjalan dengan baik, sehingga harga bisa kembali normal,” tambahnya.
Baca juga: Skenario Pengakhiran Perang AS-Israel Versus Iran
Kementerian Perdagangan juga telah berkoordinasi dengan asosiasi industri serta pelaku usaha guna memastikan pasokan tetap terjaga. Selain itu, komunikasi dengan perwakilan Indonesia di luar negeri terus dilakukan untuk membuka akses ke pemasok baru.
Lonjakan harga plastik ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia. Sejumlah negara seperti Singapura, China, Korea Selatan, Thailand, dan Taiwan juga menghadapi tekanan serupa akibat terbatasnya pasokan bahan baku.
Bahkan, beberapa negara telah mengambil langkah protektif. Korea Selatan, misalnya, melarang ekspor nafta sejak 27 Maret guna mengamankan kebutuhan dalam negeri di tengah potensi gangguan impor.
Pemerintah Indonesia berharap upaya diversifikasi pasokan dapat segera membuahkan hasil, sehingga produksi dalam negeri tetap berjalan normal dan harga plastik kembali stabil. (*)
Editor: Yulian Saputra
Poin Penting Asbisindo Institute dan VOCASIA meluncurkan platform e-learning terintegrasi untuk memperkuat kapabilitas SDM perbankan… Read More
Poin Penting Penyelundupan BBM bersubsidi masih marak dan meresahkan masyarakat, terutama yang berhak menerima subsidi… Read More
Poin Penting Grab meluncurkan 13 fitur berbasis AI di acara GrabX untuk meningkatkan kenyamanan pengguna,… Read More
Poin Penting SIPF menyiapkan consultation paper untuk mendorong Lembaga Perlindungan Pemodal masuk dalam revisi UU… Read More
Poin Penting Ruang penurunan suku bunga makin sempit, BI fokus pada stabilitas di tengah ketidakpastian… Read More
Poin Penting Lo Kheng Hong terus mengakumulasi saham DILD dan GJTL sepanjang awal 2026 saat… Read More