Ilustrasi: Harga minyak dunia diprediksi bakal naik imbas ditutupnya Selat Hormuz. (Foto: istimewa)
Poin Penting
Jakarta – Pasar energi global menghadapi salah satu guncangan terbesar dalam beberapa dekade setelah serangan militer gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran memicu eskalasi konflik di Timur Tengah, Sabtu (28/2
Situasi ini berpotensi mengganggu pasokan minyak dari kawasan yang menyumbang sekitar 20 persen suplai minyak dunia, sekaligus mendorong lonjakan harga energi global.
Mengutip Reuters, 1 Maret 2026, Ketidakpastian konflik langsung memicu kekhawatiran pasar. Harga minyak mentah Brent sebelumnya telah naik ke kisaran USD70 per barel, level tertinggi sejak Agustus 2025, seiring meningkatnya risiko konfrontasi militer.
Baca juga: Trump Deklarasi Perang Besar di Iran, Ini Potensi Dampaknya ke Ekonomi RI
Tanpa resolusi cepat, harga minyak diperkirakan akan melonjak tajam ketika perdagangan dibuka, didorong oleh ancaman gangguan pasokan dan jalur distribusi energi utama dunia.
Serangan militer AS dan Israel dilaporkan menargetkan pimpinan Iran, sementara Teheran merespons dengan serangan rudal ke sejumlah wilayah Teluk, termasuk Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Qatar.
Meski belum ada konfirmasi kerusakan langsung pada infrastruktur minyak dan gas, eskalasi konflik dinilai akan meningkatkan risiko gangguan pada jalur ekspor energi strategis, khususnya Selat Hormuz.
Selat Hormuz menjadi titik kritis karena menangani hampir 20 juta barel minyak per hari, atau sekitar seperlima pasokan minyak global.
Ketegangan di wilayah ini telah memicu kehati-hatian pelaku industri, dengan sejumlah perusahaan minyak dan rumah dagang dilaporkan menunda pengiriman minyak melalui jalur tersebut.
Selain itu, tarif pengangkutan tanker minyak melonjak tajam, mencerminkan tingginya risiko operasional dan terbatasnya kapal yang bersedia beroperasi di kawasan konflik.
Dampak konflik ini berpotensi meluas ke seluruh rantai pasok energi global. Produsen minyak, trader, dan operator kapal mulai menyesuaikan strategi distribusi, sementara pasar bersiap menghadapi kemungkinan gangguan yang lebih besar apabila konflik berlanjut atau meluas ke fasilitas produksi dan terminal ekspor energi.
Di sisi lain, pasar minyak global saat ini masih memiliki bantalan pasokan dari peningkatan produksi di AS, Brasil, Kanada, serta negara produsen lainnya.
Baca juga: Perjanjian Dagang RI-AS: Era Kecemasan Sistem Pembayaran dari “Ayat-ayat Setan”
Arab Saudi juga meningkatkan ekspor minyaknya hingga lebih dari 7 juta barel per hari, level tertinggi sejak April 2023, sebagai upaya menjaga stabilitas pasokan global.
Meski demikian, risiko gangguan distribusi dari Timur Tengah tetap menjadi faktor utama yang dapat memicu volatilitas harga energi dalam waktu dekat.
Skala dan durasi konflik akan menjadi penentu utama apakah gangguan ini hanya bersifat sementara atau berkembang menjadi krisis energi global yang lebih besar. (*)
Poin Penting Konflik AS-Iran memicu lonjakan harga minyak dunia dari sekitar USD73 hingga berpotensi USD120-140… Read More
Poin Penting SMF memastikan pendanaan rumah subsidi dan FLPP tetap terjaga dan berkelanjutan meski ekonomi… Read More
Poin Penting Istana memastikan anggaran pendidikan tidak dipangkas meski program Makan Bergizi Gratis (MBG) dijalankan.… Read More
Poin Penting Insentif guru honorer naik menjadi Rp400.000, pertama kali meningkat sejak program berjalan sejak… Read More
Poin Penting Industri BPD didorong mengadopsi agentic AI untuk meningkatkan efisiensi, keamanan siber, kepatuhan, dan… Read More
Poin Penting PLN beri diskon 50% tambah daya listrik via PLN Mobile selama 25 Februari–10… Read More