Ilustrasi: Harga minyak dunia diprediksi bakal naik imbas ditutupnya Selat Hormuz. (Foto: istimewa)
Poin Penting
Jakarta – Harga minyak dunia melonjak tajam hingga melampaui 100 dolar AS per barel di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik setelah serangan militer bersama Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran.
Minyak mentah acuan global Brent Crude Oil bahkan sempat naik lebih dari 20 persen pada perdagangan Minggu (8/3) dan mencapai sekitar USD111 per barel.
Kenaikan harga minyak ini menjadi yang pertama kali melampaui level USD100 sejak pecahnya invasi Rusia ke Ukraina 2022.
Diketahui, lonjakan harga dipicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global akibat konflik di Timur Tengah. Iran dilaporkan menghentikan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, jalur laut strategis yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia.
Baca juga: Harga Minyak Dunia Berpotensi Tembus USD92 per Barel, Defisit APBN Terancam Melebar?
Presiden AS Donald Trump menepis kekhawatiran terkait lonjakan harga tersebut. Dalam unggahan di media sosial Truth Social, Trump menyebut kenaikan harga minyak hanya bersifat sementara.
“Harga minyak jangka pendek adalah harga kecil yang harus dibayar demi keselamatan dan perdamaian AS dan dunia,” kata Trump, dikutip Al Jazeera, Senin, 9 Maret 2026.
Senada dengan itu, Menteri Energi AS, Chris Wright mengatakan kenaikan harga energi hanya bersifat sementara dan tidak akan berlangsung lama.
Namun eskalasi konflik juga mulai memicu gangguan produksi energi di kawasan Teluk. Tiga produsen besar dalam OPEC — Irak, Uni Emirat Arab, dan Kuwait — dilaporkan mengurangi produksi karena meningkatnya cadangan minyak yang tidak dapat dikirim akibat penutupan jalur pelayaran.
Baca juga: Prasasti: Konflik AS-Iran jadi Momentum Investor Borong Aset Keuangan
Ketegangan juga meningkat setelah Israel melakukan serangan udara terhadap infrastruktur minyak Iran. Media pemerintah Iran melaporkan sedikitnya empat fasilitas penyimpanan minyak dan pusat transfer produksi di Teheran serta Provinsi Alborz menjadi sasaran.
Sebagai balasan, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) memperingatkan bahwa fasilitas energi di kawasan Teluk dapat menjadi target berikutnya. IRGC bahkan memperkirakan harga minyak dapat melonjak hingga USD200 per barel jika konflik terus berlanjut.
Kenaikan harga energi tersebut mulai mengguncang pasar keuangan global. Bursa saham Asia dibuka melemah pada perdagangan Senin (9/3).
Indeks Nikkei 225 di Jepang sempat anjlok lebih dari 7 persen, sementara indeks KOSPI Korea Selatan turun lebih dari 8 persen. Di Hong Kong, indeks Hang Seng Index juga melemah hampir 3 persen.
Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund pun memperkirakan kenaikan harga minyak sebesar 10 persen dapat mendorong inflasi global sekitar 0,4 persen serta menekan pertumbuhan ekonomi dunia hingga 0,15 persen.
Baca juga: Harga Minyak Terancam Melonjak, Celios Dorong Transisi Energi dan Revisi APBN
Sementara itu, Menteri Energi Qatar Saad al-Kaabi memperingatkan kemungkinan penghentian produksi oleh sejumlah negara eksportir jika konflik berkepanjangan.
“Semua eksportir di kawasan Teluk mungkin akan mengajukan force majeure jika situasi ini terus berlanjut,” kata Al-Kaabi dalam wawancara dengan Financial Times.
“Jika gangguan pasokan semakin meluas, harga minyak berpotensi mencapai 150 dolar AS per barel,” pungkasnya. (*)
Editor: Yulian Saputra
Oleh Krisna Wijaya, Honorable Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan indonesia (LPPI) DI era serbakekinian, keberadaan teknologi… Read More
Poin Penting Momentum THR dapat dimanfaatkan untuk mulai investasi emas yang relatif stabil dan mudah… Read More
Poin Penting Rupiah sempat menembus Rp17.015 per dolar AS akibat kombinasi sentimen global, terutama eskalasi… Read More
Poin Penting Askrindo dan Bank BTN menandatangani kerja sama fasilitas kontra bank garansi dengan nilai… Read More
Poin Penting Harga emas Antam turun tajam Rp55.000 menjadi Rp3.004.000 per gram pada perdagangan 9… Read More
Poin Penting Rupiah dibuka melemah ke Rp17.009 per dolar AS atau turun 0,50 persen dibandingkan… Read More