Jakarta – Minyak sawit berjangka Malaysia turun Iebih dari 2 persen atau mencapai ke level terendah selama satu bulan pada perdagangan selasa malam.
Berdasarkan riset Monex Investindo Futures, Rabu, 19 September 2018, hal itu terjadi karena adanya ekspektasi kenaikan produksi.
Disisi lain Bursa Berjangka juga di bawah tekanan karena sengketa perdagangan China – AS dan pelemahan dalam minyak nabati.
Pasokan minyak sawit untuk kontrak pengiriman Desember di Bursa Malaysia Derivatives Exchange turun 2,2 persen pada 2.198 ringgit ($ 530,79) per ton pada akhir hari perdagangan. Kontrak menyentuh 2.195 ringgit per ton selama sesi perdagangan, atau terendah sejak 15 Agustus.
“Produksi tampaknya akan datang,” kata pedagang berjangka berbasis di Kuala ,Lumpur, menambahkan bahwa deretan perdagangan AS-China juga membebani.
Baca juga: GAPKI Klaim Seluruh Pengusaha Kelapa Sawit Bawa Pulang DHE
Seperti diketahui, Presiden AS Donald Trump akan memberlakukan 10 persen tarif impor Cina senilai $ 200 miliar dan mengatakan bahwa jika Tiongkok mengambil tindakan pembalasan terhadap petani atau industri AS,
Menteri perdagangan China mengatakan unilateralisme dan proteksionisme AS akan merugikan kepentingan AS dan China, serta ekonomi global.
Minyak kelapa sawit dapat jatuh ke 2.197 ringgit karena telah menembus support di 2.227 ringgit per ton, kata Wang Tao, analis pasar untuk komoditas dan teknis energi Reuters. (*)
Poin Penting Bank Indonesia menahan BI Rate di 4,75 persen pada Maret 2026, dengan suku… Read More
Oleh: Eko B. Supriyanto, Pimpinan Redaksi InfoBank Media Group ASING, Aseng dan Asep. Bank milik… Read More
Poin Penting ESDM memastikan stok BBM nasional aman dengan ketahanan mencapai 27–28 hari, di atas… Read More
Poin Penting Chubb Indonesia bekerja sama dengan Bank DBS Indonesia meluncurkan asuransi siber Cyber Guard… Read More
Poin Penting PLN mengimbau pelanggan memastikan instalasi listrik aman sebelum meninggalkan rumah saat mudik Idulfitri… Read More
Poin Penting BNI bagikan dividen Rp13,03 triliun atau Rp349,41 per saham, setara 65% dari laba… Read More