Jakarta–Nilai tukar rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini (21/6) diprediksi masih akan mengalami tekanan, menyusul rupiah yang melemah tipis terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan kemarin.
Demikian pernyataan tersebut seperti disampaikan oleh Analis PT Samuel Sekuritas Indonesia, Rangga Cipta dalam risetnya, di Jakarta, Rabu, 21 Juni 2017. Menurutnya, rupiah yang mengalami pelemahan ini mengikuti sentimen penguatan Dolar AS yang merata di pasar Asia. “Rupiah diperkirakan masih tertekan oleh dolar yang kuat untuk sementara,” ujarnya.
Selain itu, turunnya yield global juga membuat minat terhadap Surat Utang Negara (SUN) masih tinggi, sehingga menyediakan likuiditas dolar yang dibawa oleh investor asing. Kondisi ini juga telah memberikan sentimen bagi Dolar AS untuk menguat terhadap kurs di negara Asia.
“Dolar masih melanjutkan penguatan walaupun Current Account Deficit (CAD) AS kembali melebar. Harga minyak yang konsisten anjlok, diduga menjadi penopang utama dolar,” ucap Rangga. (*)
Editor: Paulus Yoga
Poin Penting Laba bersih Astra International turun 3,34% menjadi Rp32,76 triliun pada 2025, seiring pendapatan… Read More
Poin Penting Askrindo Tarakan dan HIPMI Tarakan menandatangani MoU untuk penyediaan layanan asuransi umum, suretyship,… Read More
Poin Penting Biodiesel hemat devisa Rp720 triliun dan turunkan emisi 228 juta ton CO₂ sepanjang… Read More
Poin Penting IHSG melemah 0,31% ke level 8.209,32 pada perdagangan sesi I, belum mampu rebound.… Read More
Poin Penting Anggota Aprindo menegaskan selalu patuh terhadap semua aturan dan prosedur lokal saat membuka… Read More
Poin Penting Bank Jambi menelusuri gangguan sistem yang menyebabkan kerugian nasabah dan menurunkan tim audit… Read More