Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam wawancara cegat di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin, 16 Maret 2026. (Foto: Irawati)
Poin Penting:
Jakarta – Pemerintah memastikan harga BBM subsidi tidak akan naik hingga akhir 2026, dengan catatan tekanan harga minyak dunia masih berada dalam skenario yang telah dihitung.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, pemerintah telah menyusun berbagai simulasi untuk menjaga stabilitas harga BBM di tengah gejolak geopolitik global.
“Kami siap tidak menaikkan (harga) sampai akhir tahun untuk BBM bersubsidi ya, dengan asumsi harga minyak 100 dolar AS per barel sampai akhir tahun, sudah dihitung rata-rata,” ujar Purbaya, Senin, 6 April 2026.
Baca juga: Purbaya Jamin Harga BBM Subsidi Tak Naik hingga Akhir 2026
Purbaya menjelaskan, pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah mitigasi guna menjaga agar BBM subsidi tetap stabil. Perhitungan dilakukan dengan berbagai skenario harga minyak dunia, mulai dari 80 dolar AS hingga 100 dolar AS per barel.
“Jadi, (BBM) yang bersubsidi sampai akhir tahun aman. Jadi, masyarakat di luar nggak usah ribut, nggak usah takut, kami sudah hitung (anggaran subsidinya masih cukup),” katanya.
Menurutnya, ketahanan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) masih cukup kuat untuk menopang kebutuhan subsidi energi tersebut.
Selain mengandalkan APBN, pemerintah juga memiliki cadangan dana lain untuk menjaga kebijakan BBM subsidi. Salah satunya berasal dari Sisa Anggaran Lebih (SAL) yang mencapai Rp420 triliun, termasuk Rp200 triliun yang ditempatkan di sektor perbankan.
Purbaya juga menyoroti potensi tambahan penerimaan negara dari sektor energi dan sumber daya mineral (ESDM) sebagai bantalan anggaran.
“Yang penting adalah dananya ada, cushion kita masih ada, nanti juga Pak Menteri ESDM (Bahlil Lahadalia) menjanjikan pendapatan yang lebih dari kenaikan harga minyak dan harga batubara di pasar dunia,” tuturnya.
Baca juga: Pemerintah: Harga BBM Subsidi dan Nonsubsidi Tidak Naik
Di sisi lain, pemerintah terus mendorong efisiensi belanja kementerian dan lembaga guna menjaga kesinambungan fiskal. Langkah ini dinilai penting karena setiap kenaikan harga minyak sebesar 1 dolar AS per barel akan menambah beban subsidi sekitar Rp6,8 triliun.
Purbaya menegaskan, upaya pengendalian belanja dan peningkatan pendapatan negara dilakukan agar defisit APBN tetap terjaga di kisaran 2,92 persen tanpa harus mengandalkan SAL.
“Nanti kami ajak (kementerian dan lembaga) supaya minimum (meminimalkan pengeluaran), kami kendalikan dan kami maintain (jaga) yang lain juga, kami boost (tingkatkan) pendapatan dari beberapa sektor, termasuk komoditas,” ucapnya. (*)
Editor: Yulian Saputra
Poin Penting Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengusulkan pengambilalihan PNM dari BPI Danantara untuk dijadikan… Read More
Poin Penting Keamanan OCTO Biz diperkuat dengan sistem berlapis termasuk enkripsi data, autentikasi pengguna, dan… Read More
Poin Penting KB Bank Syariah menghadirkan layanan deposito digital melalui aplikasi BISA Mobile untuk memperluas… Read More
Poin Penting Defisit APBN kuartal I 2026 mencapai Rp240,1 triliun (0,93 persen PDB), lebih tinggi… Read More
Poin Penting: Ketua Banggar DPR menolak pengurangan subsidi BBM karena dinilai membebani masyarakat kecil. Penyesuaian… Read More
Poin Penting Kenaikan tiket pesawat domestik dibatasi 9-13% untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah… Read More