Poin Penting
Jakarta – Tren penggunaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) terus meluas. Industri kreatif dan dunia pendidikan beradaptasi dengan AI agar terus relevan dan berkembang.
Jika diadopsi dengan benar, AI akan sangat membantu kreativitas di era digital sekarang ini. Maka itu, dunia pendidikan harus meng-embrace atau merangkul AI. Membekali mendorong generasi muda dan mahasiswanya dengan kemampuan menggunakan AI. Dengan begitu, mereka akan lebih siap jika harus terjun ke industri kreatif atau industri lain.
Menurut Irfan Rifai, Head of Program Creative Digital English BINUS University, pelaku industri kreatif mungkin merasa secara tradisional bahwa AI menjadi ancaman. Tapi sebenarnya AI juga membawa peluang besar.
“Jadi teman-teman di dunia kreatif itu selalu merasa bahwa mungkin secara tradisional terancam dengan AI. Tapi di BINUS kita embrace. Ancaman itu kita embrace sebagai sebuah kesempatan, bagaimana menjadikan AI tidak hanya sebagai sumber, tapi juga sebagai co-pilot. Jadi tetap manusia yang menjadi pilotnya, AI menjadi co-pilot-nya,” ujarnya di sela event CultureVerse 2025 di BINUS @Kemanggisan, Anggrek Campus, Jakarta, Selasa, 21 Oktober 2025.
Baca juga: Program Magister Manajemen Binus Business School Catat Kenaikan Peringkat Global
Ia menegaskan, di tengah tren budaya digital saat ini, mahasiswa didorong untuk tidak hanya mengikuti arus, tapi juga mampu menciptakan karya yang relevan dan berdampak.
Di hari kedua CultureVerse 2025 hari ini, program Creative Digital English (CDE) dari Faculty of Humanities BINUS University menjadi salah satu sorotan utama. Di tengah tren media sosial, generasi mudah semakin terbiasa mengekspresikan diri melalui digital storytelling, visual, musik, dan performance.
Dalam acara puncak yang diisi dengan Talk Show Creative Expression dan performance dari rapper Saykoji, musisi sekaligus dosen Creative Digital English Aziz ‘Comi’ dari Payung Teduh, penulis sekaligus alumni Creative Digital English Sofi Meloni, serta Puteri Indonesia 2018 sekaligus alumni Creative Digital English Sonia Fergina, para panelis juga menyoroti tren penggunaan AI di industri kreatif.
AI tidaklah dianggap sebagai musuh atau ancaman, tapi tools yang bisa membantu pekerjaan pelaku industri kreatif. Mulai dari mencari ide atau pun mempermudah proses kerja.
Di luar itu, Sofi mengungkapkan, kemampuan literasi dan kreativitas sangat penting bagi generasi muda. Bahasa dan tulisan memiliki kekuatan besar untuk mengubah cara kita melihat dunia.
Baca juga: Studi IBM: Adopsi Teknologi AI di RI Terkendala Infrastruktur, Keamanan Data, dan Talenta
Sementara, Sonia, mengungkapkan pentingnya pembelajaran yang membuka ruang ekspresi diri. Tidak terkecuali soal membangun kepercayaan diri untuk berbicara dan mengekspresikan diri. Adapun Saykoji membagikan kunci sukses bertahan dan terus berkarya di industri kreatif.
“Dua hal. Konsisten dan adaptif,” tegasnya.
Konsistensi penting agar bisa terus produktif menghasilkan karya. Sedangkan adaptif juga penting agar karya bisa tetap bertahan dalam situasi apapun. Apalagi di tengah tren digitalisasi dan AI sekarang ini, pekerja industri kreatif dituntut adaptif. (*) Ari Astriawan
Jakarta - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menegaskan bahwa informasi yang menyebut Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa… Read More
Poin Penting OJK mendorong keterbukaan informasi pasar modal melalui sistem pelaporan elektronik AKSes KSEI dan… Read More
Poin Penting Penjualan emas BSI tembus 2,18 ton hingga Desember 2025, dengan jumlah nasabah bullion… Read More
Poin Penting Transaksi Syariah Card Bank Mega Syariah melonjak 48% pada Desember 2025 dibandingkan rata-rata… Read More
Poin Penting Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa tengah membahas penambahan satu lapisan cukai rokok untuk memberi… Read More
Poin Penting Permata Bank mulai mengkaji pengembangan produk BNPL/paylater, seiring kebijakan terbaru regulator, namun belum… Read More