Hadapi Ketidakpastian Global, RI Harus Maksimalkan Sumber Pertumbuhan Ekonomi Baru

Hadapi Ketidakpastian Global, RI Harus Maksimalkan Sumber Pertumbuhan Ekonomi Baru

Hadapi Ketidakpastian Global, RI Harus Maksimalkan Sumber Pertumbuhan Ekonomi Baru
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on email
Share on linkedin

Jakarta – Ditengah ketidakpastian yang membayangi kondisi ekonomi global, Indonesia perlu mengoptimalkan sumber-sumber pertumbuhan baru. Paling tidak ada empat sumber pertumbuhan ekonomi baru yang bisa dimaksimalkan Indonesia, termasuk memperdalam sektor keuangan dan transisi menuju green economy (ekonomi hijau).

Hal itu diungkapkan Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara di Jakarta, Kamis, 27 Oktober 2022. Wamenkeu mengatakan, empat sumber pertumbuhan baru tersebut adalah melanjutkan kebijakan hilirisasi industri minerba, mendorong penggunaan produksi dalam negeri, transisi ekonomi hijau, dan memperdalam sektor keuangan,

Kebijakan hilirisasi industri minerba akan mendorong pengolahan bahan tambang di dalam negeri. Penjualan raw material tidak diperbolehkan. Dengan begitu, harapannya industri domestik menggeliat dan mampu membuka lapangan kerja serta meningkatkan kontribusi terhadap penerimaan negara.

Pemerintah juga mendorong penggunaan produk dalam negeri. Suahasil mengungkap, dari Rp3.000 triliun belanja negara dalam APBN, sekitar Rp747 triliun di antaranya digunakan untuk belanja produk dalam negeri.

Selanjutnya, untuk jangka menengah, transisi menuju ekonomi hijau akan menjadi sumber pertumbuhan baru bagi ekonomi nasional. Sebab itu, Indonesia sudah berkomitmen untuk mencapai net zero emission pada 2060 atau lebih cepat. Komitmen tersebut akan diwujudkan dengan mengurangi pembangkit listrik batubara dan membangun renewables energy.

“Dua hal, yakni mengurangi pembangkit berbahan batubara dan membangun renewable energy harus dilakukan. Bahkan ketika saat ini kita mengalai surplus listrik,” ujarnya.

Sumber pertumbuhan ekonomi baru selanjutnya adalah memperdalam sektor keuangan. Hal ini juga didorong dengan penyusunan Rancangan Undang-undangan Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (RUU P2SK) yang sekarang tengah diproses. RUU P2SK, kata Suahasil, dibutuhkan untuk mengatasi persoalan yang ada di sektor keuangan Indonesia.

“Sektor keuangan kita belum cukup dalam. Ini adalah masalah literasi, biaya transaksi, instrumen keuangan yang harus kita buka supaya lebih variatif, lebih kreatif. Juga perlindungan konsumen dan koordinasi demi menjaga stabilitas siste keuangan,” imbuhnya.

Sebelumnya, Yasushi Itagaki Direktur Utama Danamon mengatakan, kondisi ekonomi global dibayangi ketidakpastian. Setelah pandemi COVID-19 terkendali, konflik Rusia-Ukraina memicu tensi geopolitik dan juga mengganggu rantai pasok global. Imbasnya banyak persoalan yang membuat ekonomi tidak stabil. Tapi di tengah kondisi tersebut, pelaku industri harus menghadapi kemungkinan yang akan terjadi dan melakukan penyesuaian atau beradaptasi.

“Kami percaya, di situasi yang tidak menentu seperti saat ini, nasabah dan pemangku kepentingan memerlukan informasi terkini dan terbaik untuk mendukung mereka menjawab tantangan sekaligus mencari peluang bisnis untuk tumbuh berkelanjutan bersama Danamon. Ini adalah komitmen jangka panjang kami untuk menjadi bank yang senantiasa berpusat pada kebutuhan nasabah serta memberikan solusi keuangan agar nasabah dapat memegang kendali terhadap kebutuhan finansialnya,” ujar Yasushi.

Ia menegaskan, MUFG Bank, Danamon dan Adira Finance berkomitmen penuh untuk berperan aktif dalam pemulihan ekonomi nasional. Itagaki berharap, pelaku industri menyambut 2023 dengan optimisme tinggi dan berkomitment untuk memperkuat kerjasama dengan semua partner.

The Indonesia 2023 Summit sendiri, menghadirkan diskusi dengan fokus pada ekonomi Indonesia secara umum, serta mendiskusikan tantangan dan peluang di tahun mendatang. Adapun pembicara yang dihadirkan adalah Presiden Institute for International Monetary Affairs Hiroshi Watanabe, Menteri Keuangan RI 2014-2016 Bambang Brodjonegoro, Staff Khusus Menteri Keuangan Bidang Kebijakan Makroekonomi dan Fiskal Masyita Crystallin, dan CEO Sintesa Group/Ketua B20 Indonesia Shinta Kamdani. (*) Ari Astriawan.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Berita Pilihan

Segera Daftarkan Diri Anda Menjadi Kontributor di

Silahkan isi Form di bawah ini

[ultimatemember form_id=”1287″]