Categories: Perbankan

GWM Turun, Kredit Diprediksi Tumbuh 13-15% pada 2016

Jakarta–Relaksasi moneter yang dilakukan Bank Indonesia dengan menurunkan GWM primer dari 8% menjadi 7,5% diharapkan akan mendorong pertumbuhan kredit. Namun para periset Mandiri Sekuritas masih mematok pertumbuhan kredit 11%-12% pada 2015 dan naik menjadi 13%-15% pada 2016.

Dampak dari kebijakan baru itu masih belum ada untuk saat ini. Tjandra Lienandjaja, Analis Mandiri Sekuritas mengatakan kebijakan tersebut memang akan membolehkan bank menyalurkan kredit yang lebih besar lagi. Penurunan giro sebesar 0,5% itu akan membuat bank dapat menambah kredit sebesar Rp18,2 triliun, didapatkan dari dana pihak ketiga Rp3.644 triliun per September 2015, berporsi 0,5% dari total kredit per September 2015.

“Pertanyaannya adalah bagaimana bank berminat ekspansi kepada lebih banyak kredit karena permintaan yang sedang melemah. Dengan giro wajib yang turun itu, akan ditambah dengan adanya kebutuhan kredit yang lebih besar jika mereka merevaluasi aset mereka setelah skema perpajakan berubah,” kata Tjandra dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Rabu, 18 Oktober 2015.

Menurutnya, dari 10 bank yang sahamnya tercatat di bursa, dampak pelonggaran GWM itu juga akan menjadi tambahan 0,5% pada total kredit dengan bank yang lebih kecil karena mereka tidak memiliki simpanan valas.

“Untuk bank yang lebih besar, PT Bank Central Asia Tbk memiliki potensi lebih untuk meningkatkan kredit mereka dibandingkan dengan bank lain,” tambahnya.

Senada analis Mandiri Sekuritas lainnya, Aldian Taloputra mengatakan langkah melonggarkan “old school monetary tool” tersebut, akan memberi tambahan likuiditas sebesar Rp18 triliun, sehingga memberikan dorongan kepada perbankan. Dengan asumsi likuiditas adalah berarti penyaluran kredit, secara teori maka money multiplier dapat lebih besar dan menghasilkan penurunan suku bunga money market.

“Meskipun demikian, pertanyaannya adalah adanya permintaan kredit dalam jangka pendek, mengingat likuiditas sudah cukup,” kata Aldian.

Kecukupan likuiditas tersebut menurutnya terlihat dari beberapa indikator, seperti suku bunga deposito berjangka 3 bulan turun menjadi 8,3% pada Agustus dari 9,4% pada pertengahan 2014, Rasio kredit terhadap simpanan (LDR) juga turun menjadi 88,9% dari 92,3% pada periode yang sama, primary reserve mencapai 8,8% pada Agustus, mengindikasikan ada kelebihan cadangan (reserve).

“Karena itu, kebijakan yang dilonggarkan tersebut akan memiliki dampak terbatas pada jangka pendek, dan juga memberikan dampak lebih besar pada suku bunga money market. Kami meyakini kebijakan itu bertujuan memperbaiki kondisi ekonomi dalam jangka menengah,” kata dia.

Pelonggaran giro tersebut menurutnya dapat memberikan dampak optimal pada ekonomi dalam jangka menengah jika belanja fiskal berlanjut dapat mempertahankan permintaan domestik. Belanja pemerintah, terutama infrastruktur, harus menopang ekonomi di tengah melemahnya daya beli sehingga kebijakan moneter itu dapat memberikan dampak berganda (multiplier effect) terhadap ekonomi.

“Kami masih pada pendapat yang sama bahwa BI tidak menurunkan BI rate tahun ini,” kata Leo Rinaldy, analis Mandiri Sekuritas. Meskipun inflasi dan defisit neraca berjalan (CAD) diprediksi lebih rendah daripada prediksi, defisit neraca pembayaran yang melebar menunjukkan risiko ketidakpastian masih tetap tinggi. Dia memperkirakan pemangkasan suku bunga akan terjadi pada 2016 ketika fundamental domestik berlanjut membaik dan setelah dampak dari potensi kenaikan Fed Fund rate dapat diperhitungkan kemudian. (*) Ria Martati

Paulus Yoga

Recent Posts

Jelang Idul Fitri 1447 H, BSN Bagikan Ratusan Sembako

BSN bersinergi dengan Forum Wartawan BSN menggelar kegiatan sosial bertajuk “Ramadan Berkah, Sinergi BSN dan… Read More

6 hours ago

Bank Mandiri Taspen Turut Serta Lepas Mudik Bersama Keluarga Besar Kemenko Kumham Imipas

Program CSR mudik bersama ini diikuti oleh sekitar 400 peserta sebagai bentuk dukungan pemerintah dan… Read More

6 hours ago

BTN Beberkan Tiga Pilar Transformasi Layanan, Apa Saja?

Poin Penting PT Bank Tabungan Negara (BTN) Tbk tengah mengakselerasi transformasi besar-besaran di lini operasionalnya… Read More

10 hours ago

Jangan Sampai Boncos, Perencana Keuangan Ungkap 3 Prinsip Utama Kelola THR

Poin Penting PT Bank Aladin Syariah Tbk bekerja sama dengan financial planner Ayu Sara Herlia… Read More

14 hours ago

Industri Asuransi Jiwa Sudah Bayar Klaim Korban Bencana Sumatra Rp2,6 Miliar

Poin Penting Industri asuransi jiwa telah menyalurkan klaim sekitar Rp2,6 miliar kepada korban bencana di… Read More

18 hours ago

Investasi Asuransi Jiwa Tembus Rp590,54 Triliun, Mayoritas Parkir di SBN

Poin Penting AAJI mencatat industri asuransi jiwa mencatat total investasi Rp590,54 triliun pada 2025, naik… Read More

18 hours ago