Jakarta–PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) berencana melakukan konversi beberapa kantor cabangnya. Ini dilakukan untuk memperkuat dan dalam rangkan mengembangkan platform digital perseroan.
Direktur Kepatuhan BTPN, Anika Faisal mengungkapkan, guna mengefisienkan layanan di perbankan pihaknya berencana akan melakukan konversi beberapa kantor cabang.
“Kita ubah jadi kantor cabang BTPN, kalau dulu kan ada mitra usaha rakyat, lalu ada purna bakti. Kita seragamkan menjadi kantor cabang BTPN. Di samping itu ada juga beberapa kantor layanan yang kita gabungkan dan ada juga yang dirubah menjadi payment point,” ungkap Anika di Menara BTPN, Jakarta, Senin, 11 September 2017.
Baca juga: Via Jenius, Buka Rekening BTPN Cuma 10 Menit
Jumlah kantor cabang pembantu (KCP) BTPN sendiri tercatat berkurang 51 KCP dalam kurun waktu 6 bulan. Pada data tersebut tercatat KCP perseroan per Juni 2017 mencapai 695 unit, tercatat menurun dari Desember 2016 di mana BTPN masih memiliki dan mengoperasikan kantor cabang pembantu sebanyak 746 unit.
Hal tersebut tercatat berbeda untuk jumlah layanan payment service point, di mana tercatat angkanya bertambah menjadi 161 pada Juni 2017 dari sebelumnya di Desember 2016 148 unit.
“Konversi ini sebenarnya sudah kami lakukan sejak lama. Cabang akan di konversi dan bertahap. Namun hanya berubah struktur jadi payment service point,” tambah Anika. (*)
Editor: Paulus Yoga
Poin Penting OJK menunjuk Bank Kalsel sebagai Bank Devisa sejak 31 Desember 2025 dengan masa… Read More
Poin Penting Presiden Prabowo mendorong riset kampus berorientasi hilirisasi dan industri nasional untuk meningkatkan pendapatan… Read More
PT Asuransi Jiwa BCA (BCA Life) berkolaborasi dengan PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menghadirkan… Read More
Poin Penting Pengawasan OJK disorot DPR karena platform Dana Syariah Indonesia (DSI) masih dapat diakses… Read More
UOB Plaza yang berlokasi di distrik bisnis Jakarta, telah menerima sertifikat dan plakat GREENSHIP Existing… Read More
Poin Penting Pembiayaan UMKM BSI tembus Rp51,78 triliun hingga November 2025, dengan Rasio Pembiayaan Inklusif… Read More