Namun, lanjut Bhima, di 2017 kondisi bisa berbalik. Inflasi per Januari sudah tercatat 0,97 persen atau tertinggi di bulan Januari sejak 3 tahun terakhir. Penyebabnya beragam, mulai dari harga pangan (volatile food) yang liar seperti cabai merah sampai inflasi harga yang diatur Pemerintah (administered price) seperti dicabutnya subsidi listrik, kenaikan biaya administrasi kendaraan bermotor, dan penyesuaian harga BBM nonsubsidi.
Dengan melihat tekanan inflasi yang justru sebagian besar bersumber dari harga yang diatur Pemerintah, maka prediksi inflasi bisa lebih dari 4-4,25 persen di 2017.
Baca juga: Tax Amnesty Sukses, Gini Ratio Jadi PR Pemerintah
“Angka inflasi jelas menggerus daya beli masyarakat dan mengakibatkan ketimpangan versi BPS sangat mungkin naik hingga 0,4-0,41. Oleh karena itu jangan terlena dengan penurunan ketimpangan yang sifatnya temporer,” jelasnya.
Di lain sisi, selain turunnya ketimpangan kecil dan temporer, Pemerintah sebenarnya juga kurang yakin terhadap data dari BPS. Pasalnya, ucap Bhima, sudah sejak lama data BPS belum sepenuhnya mencerminkan ketimpangan karena yang diukur adalah pengeluaran. Ketimpangan dari sisi pendapatan justru tidak dihitung. (Bersambung ke halaman berikutnya)
Poin Penting Maraknya penagihan intimidatif berdampak pada kebijakan perusahaan pembiayaan, yang kini memperketat prinsip kehati-hatian… Read More
Poin Penting Bank Mandiri menargetkan pertumbuhan kredit 2026 di atas rata-rata industri, sejalan dengan proyeksi… Read More
Info Penting Jual beli kendaraan STNK only dinyatakan ilegal, karena BPKB adalah satu-satunya bukti kepemilikan… Read More
Poin Penting Juda Agung resmi dilantik sebagai Wamenkeu untuk sisa masa jabatan 2024–2029 melalui Keppres… Read More
Poin Penting DPLK Avrist menargetkan pertumbuhan nasabah 15% hingga akhir 2026 dari total lebih 29… Read More
Poin Penting Bank Mandiri mencermati risiko global (geopolitik, kebijakan perdagangan, volatilitas komoditas) serta dampak penurunan… Read More