Poin Penting
Jakarta - Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk, Josua Pardede menilai prospek ekonomi pada 2026 masih menghadapi sejumlah tantangan dari faktor global, terutama yang berasal dari dinamika geopolitik dan kondisi pasar keuangan internasional.
Menurutnya, ketidakpastian tersebut antara lain dipicu oleh meningkatnya tensi geopolitik, perang dagang, arah kebijakan suku bunga global yang semakin beragam, serta perlambatan ekonomi di sejumlah negara dan wilayah, termasuk Hong Kong.
Meski demikian, ia masih melihat prospek ekonomi secara umum tetap berada dalam jalur positif dalam skenario dasar (baseline).
“Namun kalau kita bicara dalam hal ini forecast, baseline kami memang prospek ekonomi masih positif,” ujar Josua, di Jakarta, Kamis, 12 Maret 2026.
Baca juga: Permata Bank Gelar RUPST 17 April 2026, Ini Agenda Lengkapnya
Josua menjelaskan, salah satu risiko utama yang perlu diwaspadai adalah potensi konflik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah yang dapat memicu lonjakan harga minyak mentah dunia.
Dalam skenario terburuk (worst case scenario), konflik yang berlarut-larut berpotensi mendorong kenaikan harga minyak secara signifikan. Kondisi tersebut dapat berdampak pada meningkatnya tekanan inflasi, baik global maupun domestik.
Selain itu, ketegangan geopolitik juga dapat memicu perubahan sentimen di pasar keuangan global. Dalam situasi ketidakpastian, investor cenderung memindahkan dananya ke aset-aset yang dianggap lebih aman (safe haven).
“Di pasar keuangan, kecenderungan investor akan mencari aset-aset yang aman atau safe haven di tengah konflik perang di Timur Tengah,” jelasnya.
Di sisi lain, perlambatan ekonomi akibat tekanan eksternal juga berpotensi mempengaruhi kinerja sektor perbankan, terutama dari sisi pertumbuhan kredit.
Menurut Josua, industri perbankan pada dasarnya berada di hilir aktivitas ekonomi, sehingga, perlambatan ekonomi biasanya akan tecermin pada kinerja sektor perbankan.
Baca juga: Ekonom Permata Bank Proyeksi Kredit Perbankan Tumbuh 10 Persen di 2026
Meski begitu, kondisi industri perbankan saat ini masih relatif terjaga. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), tingkat risiko sektor perbankan masih berada pada level yang terkendali.
“Meskipun memang kalau kita melihat dari beberapa data OJK yang menunjukkan bahwa tingkat risiko masih relatif manageable. Secara industri di Januari itu juga beradadi kisaran 9 persen, masih relatif lebih rendah dibandingkan akhir 2023,” bebernya.
Kendati demikian, Josua menilai perkembangan kondisi global tetap perlu dicermati karena dapat mempengaruhi kinerja sektor keuangan jika konflik geopolitik berlangsung berkepanjangan.
Page: 1 2
Bank Indonesia bekerjasama dengan Perbankan menyediakan Penukaran uang baru untuk Lebaran 2026 di Basket Hall… Read More
Poin Penting RUPST BCA menyetujui pembelian kembali saham maksimal Rp5 triliun. Program buyback akan dilaksanakan… Read More
Poin Penting RUPST BCA mengangkat David Formula sebagai Direktur setelah lolos fit and proper test… Read More
Poin Penting Bank Mandiri Region IV Jakarta 2 menyalurkan lebih dari 4.000 paket santunan kepada… Read More
Poin Penting BSI menyediakan dana tunai Rp45 triliun untuk memenuhi kebutuhan transaksi selama Ramadan dan… Read More
Poin Penting RUPST BCA mengangkat David Formula sebagai Direktur Perseroan. Masa jabatan sejumlah anggota komisaris… Read More