Nasional

Genjot Ekonomi Pesisir, Prabowo Targetkan 1.000 Desa Nelayan Rampung Dibangun Tahun Ini

Poin Penting

  • Pemerintah mulai membangun desa nelayan dengan target 1.000 desa tahun ini dan 5.000 desa dalam empat tahun
  • Desa nelayan akan dilengkapi cold storage, dermaga, kapal, kendaraan distribusi, serta kemudahan akses ekspor melalui pelabuhan dan bandara.
  • Program desa nelayan bukan bantuan langsung, tetapi dikelola melalui koperasi dengan skema pengembalian investasi lebih dari 10 tahun (11–12 tahun).

Jakarta – Presiden Republik Indonesia (RI), Prabowo Subianto, menyatakan pembangunan desa nelayan telah mulai direalisasikan dan ditargetkan mencapai 1.000 desa nelayan pada 2026.

Menurut Prabowo, setiap desa nelayan tersebut akan dihuni sekitar 300 hingga 2.000 nelayan yang selama ini belum tersentuh fasilitas pemerintah.

“Nelayan belum pernah dapat perhatian tidak bisa dapat es tidak ada pabrik es, mereka sulit dapat solar, dapat akses ke pasar ini kita ubah,” ucap Prabowo dalam Indonesia Economic Outlook di Jakarta, 13 Februari 2026.

Baca juga: Prabowo Klaim Jumlah Penerima MBG Setara dengan Penduduk Afrika Selatan

Untuk mendukung program tersebut, pemerintah akan menyediakan berbagai fasilitas penunjang, mulai dari cold storage, dermaga, kapal, hingga kendaraan distribusi hasil tangkapan. Dalam empat tahun ke depan, pemerintah menargetkan pembangunan 5.000 desa nelayan.

“Saudara-saudara dan ini semua bukan handout, bukan kita bagi-bagi. Ini kita organisir dalam koperasi. Semua pengeluaran mereka akan bayar kembali ke bank-bank dan ke pemerintah,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Prabowo menegaskan desa nelayan juga akan dipermudah dalam mengakses pasar ekspor secara langsung melalui pelabuhan dan bandara.

“Kita akan permudah regulasi supaya mereka bisa menumbuhkan kegiatan ekonomi yang mendasar,” ujar Prabowo.

Baca juga:KPI Dukung Kelompok Nelayan Kembangkan Budidaya Ikan Lewat Teknologi Bioflok

Hingga saat ini, hampir 100 desa nelayan telah terbangun di berbagai wilayah. Para nelayan, kata Prabowo, diberikan skema pengembalian investasi dengan tenor panjang, lebih dari 10 tahun.

“Kita kasih kelonggaran mengembalikannya supaya tidak terlalu berat untuk mereka. Kita beri kelonggaran pengembaliannya bisa di atas 10 tahun, 11 sampai 12 tahun,” tambahnya. (*)

Editor: Galih Pratama

Khoirifa Argisa Putri

Recent Posts

Bidik 100 Digital Store pada 2027, BTN Resmikan Gerai Baru di Central Park

Poin Penting BTN resmikan digital store di Central Park dan menargetkan 100 Digital Store hingga… Read More

11 mins ago

KB Bank Danai Proyek Internet Rakyat 5G FWA 1.4GHz Surge

Poin Penting PT Bank KB Indonesia Tbk membiayai implementasi awal 5G FWA 1.4GHz milik PT… Read More

23 mins ago

Lewat Cek Bansos, Kemensos Ajak Warga Perbarui Data Penerima Bantuan Pemerintah

Poin Penting Aplikasi Cek Bansos kini menjadi jalur resmi partisipasi publik untuk usul dan sanggah… Read More

39 mins ago

Prabowo Tuntut Danantara Bisa Cetak Return on Asset 7 Persen: Harus Siap!

Poin Penting Presiden Prabowo Subianto menargetkan Danantara mencetak return on asset (RoA) sebesar 7 persen… Read More

43 mins ago

UUS OCBC NISP Buka Peluang Spin-Off Lebih Cepat, Ini Syaratnya

Poin Penting OCBC Syariah ingin memastikan customer base benar-benar syariah agar tetap loyal saat pemisahan… Read More

1 hour ago

Mayoritas Sektor Melemah, IHSG Turun ke 8.212 Jelang Long Weekend Imlek 2026

Poin Penting IHSG melemah 0,64% ke level 8.212,27 pada 13 Februari 2026, dengan 408 saham… Read More

2 hours ago