Keuangan

Gandeng DBS, AllianzGI Indonesia Perluas Akses Investasi Global Berbasis USD

Poin Penting

  • Reksa dana syariah tumbuh kuat pada 2025, dengan dana kelolaan naik 74,6 persen (yoy), sementara minat pada reksa dana syariah offshore tetap solid.
  • AllianzGI Indonesia menggandeng Bank DBS Indonesia menghadirkan dua produk investasi global berbasis USD
  • Kedua produk difokuskan pada diversifikasi portofolio jangka panjang, menawarkan eksposur saham syariah global dan pendapatan tetap USD yang dikelola profesional.

Jakarta – Di Indonesia, industri reksa dana syariah menunjukkan pertumbuhan yang semakin signifikan. Berdasarkan data Infovesta, sepanjang 2025 dana kelolaan reksa dana syariah tumbuh sekitar 74,6 persen secara tahunan. 

Meskipun dana kelolaannya relatif stagnan dengan koreksi ringan sekitar 4 persen year on year, ini mencerminkan sikap investor yang lebih selektif dan defensif di tengah volatilitas pasar.

Di sisi lain, minat terhadap eksposur saham syariah global tetap terjaga, tercermin dari pertumbuhan dana kelolaan reksa dana syariah offshore yang meningkat sekitar 21 persen secara tahunan.

Baca juga: Reksa Dana vs Emas, Mana Pilihan Investasi yang Paling Menguntungkan ?

Tren ini memperkuat relevansi solusi investasi syariah global dan berbasis dolar Amerika Serikat (USD) bagi investor Indonesia.

Melihat tren tersebut, PT Allianz Global Investors Asset Management Indonesia (AllianzGI Indonesia) menggandeng PT Bank DBS Indonesia sebagai mitra distribusi menawarkan solusi investasi global berbasis USD dengan melalui dua produk reksa dana, yakni Reksa Dana Allianz High Dividend Global Sharia Equity Dollar Fund dan Reksa Dana Allianz USD Fixed Income Fund.

“Melalui kolaborasi distribusi Reksa Dana Allianz High Dividend Global Sharia Equity Dollar Fund dan Reksa Dana Allianz USD Fixed Income Fund  dengan DBS ini diharapkan dapat terus mendukung kebutuhan diversifikasi dan tujuan investasi jangka panjang investor Indonesia,” ungkap Aliyahdin Saugi, President Director AllianzGI Indonesia, saat acara peresmian distribusi dua produk reksa dana di Jakarta, Selasa, 20 Januari 2026.

Lebih jauh dia menjelaskan, Reksa Dana Allianz High Dividend Global Sharia Equity Dollar Fund menawarkan diversifikasi eksposur terhadap dividen dengan premi risiko jangka panjang, dengan penerapan prinsip syariah yang dilakukan tanpa intervensi terhadap alokasi gaya investasi. 

Selain itu, lanjutnya, AllianzGI Indonesia juga menghadirkan Reksa Dana Allianz USD Fixed Income Fund yang berfokus pada instrumen pendapatan tetap melalui investasi pada obligasi berdenominasi USD, terutama yang diterbitkan oleh pemerintah maupun korporasi Indonesia, dengan porsi terbatas pada obligasi luar negeri.

“Kedua produk reksa dana ini masing-masing hadir untuk memberikan alternatif diversifikasi portofolio untuk investor yang membutuhkan investasi saham global berbasis syariah dan pendapatan tetap berbasis USD,” jelasnya. 

“Lewat dukungan mitra distribusi strategis seperti Bank DBS Indonesia, kami optimistis produk ini dapat memenuhi kebutuhan investor akan solusi investasi global yang dikelola secara profesional dan berorientasi pada tujuan jangka panjang,” lanjut Adi.

Baca juga: OJK Blokir 2.617 Investasi dan Pinjol Ilegal Sepanjang 2025, Kerugian Capai Rp9 Triliun

Sementara Consumer Banking Director PT Bank DBS Indonesia Melfrida Gultom menambahkan, mengelola aset di tengah ketidakpastian pasar global bukan sekadar reaktif terhadap fluktuasi, melainkan tentang menyusun strategi yang terukur dan adaptif. 

“Melalui kemitraan strategis kami dengan Allianz Global Investors, kami menghadirkan perspektif global dan solusi investasi yang lebih terintegrasi, sehingga nasabah dapat menavigasi portofolio mereka dengan presisi dan memaksimalkan potensi jangka panjang tanpa kehilangan arah di tengah kompleksitas ekonomi yang terus berkembang,” jelas Melfrida. (*)

Galih Pratama

Berkecimpung di industri media sejak 2014. Saat ini di infobanknews.com bertugas menulis dan menyunting artikel yang berkaitan dengan isu ekonomi, perbankan, pasar modal hingga industri keuangan non-bank (IKNB).

Recent Posts

BPS: Emas Alami Inflasi Selama 30 Bulan Berturut-turut

Poin Penting Badan Pusat Statistik mencatat inflasi Februari 2026 sebesar 0,68 persen (mtm), dengan IHK… Read More

2 hours ago

GoTo Klarifikasi soal Investasi Google dan Status Nadiem Makarim

Poin Penting Nadiem Makarim mendirikan Gojek (2010) hingga merger dengan Tokopedia membentuk GoTo Group pada… Read More

3 hours ago

Gubernur Kaltim Batalkan Pengadaan Mobil Dinas Baru Rp8,49 M, Ini Alasannya

Poin Penting Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud mengembalikan mobil dinas baru senilai Rp8,49 miliar yang dibeli… Read More

3 hours ago

IHSG Ditutup Ambles 2 Persen Lebih ke Level 8.016

Poin Penting Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 2,65 persen ke 8.016,83; 671 saham melemah,… Read More

3 hours ago

Inflasi Februari 2026 4,76 Persen, BI Klaim Masih Terkendali

Poin Penting Inflasi Februari 2026 terkendali di 0,68 persen (mtm) dan 4,76 persen (yoy), masih… Read More

3 hours ago

BPS Ungkap Nilai Ekspor-Impor RI dengan Negara Jalur Selat Hormuz

Poin Penting Badan Pusat Statistik menyatakan dampak konflik AS-Israel dan Iran terhadap perdagangan Indonesia masih… Read More

3 hours ago