Poin Penting
Jakarta – PT Amartha Mikro Fintek atau Amartha membuka peluang untuk melakukan penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) ke Bursa Efek Indonesia (BEI).
Andi Taufan Garuda Putra, CEO & Founder Amartha menjelaskan, rencana melantai di bursa telah menjadi bagian pengembangan bisnis perseroan. Terlebih, saat ini secara fundamental bisa dibilang Amartha yang berdiri sejak 2010 tersebut cukup kuat.
“Alhamdulillah fundamental bisnis kami bagus. Bisnis tahun lalu juga profit, dan profit kami terus jaga secara konsisten sepanjang beberapa tahun ke belakang,” terang Andi. pada Jumat, 23 Januari 2026.
Baca juga: Amartha Salurkan Pembiayaan Rp13,2 Triliun Sepanjang 2025, Mayoritas ke Sektor Ini
Hanya saja, Andi belum membeberkan secara detail kapan target IPO Amartha terealisasi. Pihaknya, saat ini masih mencermati kondisi pasar modal, serta minat dan permintaan investor terhadap saham Amartha.
“Insya Allah, kita lihat trennya ke depan seperti apa, dan bagaimana market serta investor, melihat Amartha. Apakah Amartha memang ditunggu-tunggu buat IPO? Ya kita ikuti permintaan pasar,” tukasnya.
Untuk diketahui, Amartha mampu menyalurkan pendanaan Rp13,2 triliun sepanjang 2025, tumbuh lebih dari 20 persen secara tahunan. Sementara, tingkat wanprestasi 90 hari (TWP90) terjaga di sekitar 4 persen.
Jika diakumulasi sejak pertama kali berdiri pada 2010, realisasi pembiayaan Amartha tembus Rp37 triliun.
Sementara portofolio Amartha sendiri mayoritas merupakan para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Saat ini, 60 persen portofolio Amartha berasal dari wilayah luar Jawa.
Baca juga: Masih Dihantui Pinjol Ilegal dan Gagal Bayar, Begini Prospek Bisnis Pindar 2026
“Tahun 2025, Amartha mampu memberi akses pinjaman uang kepada para pelaku UMKM dari 50 ribu desa di berbagai wilayah di Indonesia,” jelas Andi.
Jika dirinci, kata Andi, sebanyak 53 persen borrower Amartha pada 2025 bergerak di sektor perdagangan. Kemudian, disusul sektor pertanian (22 persen), sektor peternakan (9 persen), sektor industri rumah tangga dan lainnya (7 persen), serta sektor jasa (6 persen). (*) Mohammad Adrianto Sukarso
Poin Penting OJK mencabut izin usaha PT Varia Intra Finance (VIF) melalui SK Anggota Dewan… Read More
Poin Penting OJK menilai bank KBMI I (modal inti hingga Rp6 triliun) masih berpeluang memperkuat… Read More
Poin Penting Amartha menyalurkan pembiayaan Rp13,2 triliun pada 2025, tumbuh lebih dari 20% secara tahunan,… Read More
Poin Penting BNI–Siemens Indonesia menjalin kerja sama pembiayaan Rp300 miliar untuk proyek dan modal kerja… Read More
Poin Penting Tensi geopolitik mendorong aliran dana ke USD, membuat rupiah tetap rentan meski sempat… Read More
Poin Penting Empat BPR/BPRS dilikuidasi akibat dampak bencana di wilayah Sumatra, dengan kondisi terparah dialami… Read More