Ilustrasi: Pergerakan pasar saham. (Foto: Erman Subekti)
Poin Penting
Jakarta – Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana menilai keputusan FTSE Russell untuk menunda review indeks Indonesia pada Maret 2026 menjadi sinyal penting bagi pelaku pasar, khususnya investor institusi global.
Menurut Hendra, penundaan ini bukan mencerminkan penurunan kualitas fundamental pasar modal Indonesia, melainkan lebih menegaskan adanya ketidakpastian teknis dalam proses reformasi pasar, terutama terkait penentuan free float minimum serta potensi gangguan mekanisme pasar selama masa transisi kebijakan.
“Dari sudut pandang pasar, kebijakan ini berimplikasi pada tertahannya katalis teknikal yang biasanya muncul dari rebalancing indeks,” ucap Hendra dalam keterangannya di Jakarta, 10 Februari 2026.
Baca juga: FTSE Russell Tunda Review Indeks RI, Begini Respons BEI
Kata Hendra, hal tersebut mendorong aliran dana pasif asing cenderung lebih stabil, karena tidak adanya perubahan komposisi. Namun di sisi lain, potensi inflow tambahan ke saham-saham yang sebelumnya berpeluang masuk indeks juga ikut tertunda.
“Dalam jangka pendek, kondisi ini dapat meningkatkan sikap defensif pelaku pasar dan mendorong volatilitas berbasis sentimen, bukan fundamental,” imbuhnya.
Hendra bilang keputusan FTSE ini tidak berkaitan dengan status klasifikasi negara Indonesia dalam Equity Country Classification. Review klasifikasi negara tetap akan dilakukan sesuai jadwal dan diumumkan pada 7 April 2026.
“Dengan demikian, risiko penurunan status negara tidak melekat pada keputusan penundaan review indeks ini, sehingga sentimen negatif seharusnya lebih bersifat teknis dan sementara,” ujar Hendra.
Adapun ke depannya, perhatian pelaku pasar akan tertuju pada perkembangan reformasi pasar modal Indonesia menjelang review kuartalan FTSE berikutnya pada Juni 2026, dengan pengumuman pada 22 Mei 2026.
Kejelasan arah kebijakan free float dan konsistensi implementasinya akan menjadi faktor kunci untuk mengembalikan kepercayaan penyedia indeks global.
Dalam kondisi pasar seperti ini, kata Hendra, strategi yang lebih rasional bagi investor adalah tetap selektif, memanfaatkan koreksi di area support untuk akumulasi saham berfundamental kuat, sambil menjaga disiplin manajemen risiko di tengah volatilitas yang masih tinggi.
Secara teknikal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang menguji kembali level terendah kemarin di area 7.863. Level ini menjadi support penting dalam jangka sangat pendek karena mencerminkan area di mana minat beli mulai muncul.
Baca juga: Setelah MSCI, Kini Giliran FTSE Russell Tunda Review Indeks Saham RI
Selama level tersebut masih mampu dipertahankan, koreksi yang terjadi dapat dikategorikan sebagai pullback yang wajar dalam fase konsolidasi, bukan sinyal pembalikan tren yang lebih dalam.
Sementara itu, area 8.100 menjadi resistance psikologis yang cukup kuat. Selain sebagai angka bulat yang sensitif secara psikologis, level ini juga merupakan area distribusi sebelumnya, di mana tekanan jual cenderung kembali meningkat.
“Tanpa adanya katalis kuat, baik dari arah kebijakan global maupun domestik, peluang IHSG untuk menembus level 8.100 dalam waktu dekat relatif terbatas,” tutup Hendra. (*)
Editor: Galih Pratama
Poin Penting Program Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL/WtE) ditargetkan mulai groundbreaking Maret 2026, dengan… Read More
Poin Penting Adira Finance melihat peluang kuat pembiayaan multiguna pada Februari–Maret 2026 seiring momentum Ramadan,… Read More
Poin Penting Permintaan emas tetap kuat meski harga bergejolak, didorong ketidakpastian geopolitik, risiko fiskal, dan… Read More
Poin Penting BPI Danantara menyatakan siap berinvestasi di pasar saham Indonesia dan telah aktif membeli… Read More
Poin Penting BRI menyalurkan KPR subsidi Rp16,16 triliun sepanjang 2025 kepada lebih dari 118 ribu… Read More
Poin Penting Kemensos salurkan dua jenis bansos di kuartal I 2026, yakni bansos reguler (sembako… Read More