Poin Penting
- Bank Banten tidak membagikan dividen 2025, laba ditahan untuk memperkuat modal dan ekspansi 2026 dengan target kredit tumbuh 56 persen
- Keputusan tanpa dividen diambil demi menopang kebutuhan permodalan seiring strategi ekspansi agresif
- Kinerja 2025 positif: laba naik 33,55 persen jadi Rp52,52 miliar, kredit tumbuh 32 persen, dan kualitas aset membaik (NPL 4,67 persen).
Serang – PT Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk (Bank Banten) absen membagikan dividen tahun buku 2025. Hal ini disepakati dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar di Serang, Selasa, 28 April 2026.
Perseroan akan menggunakan laba 2025 sebagai laba ditahan untuk memperkuat fondasi dan permodalan demi menopang rencana pertumbuhan bisnis 2026. Emiten berkode saham BEKS ini memasang target pertumbuhan kredit sebesar 56 persen hingga akhir 2026.
Eko Virgianto, Direktur Kepatuhan Bank Banten mengungkapkan, dari sisi nilai target pertumbuhan kredit itu sekitar Rp2,7 triliun. Maka itu perseroan fokus memperkuat fundamental untuk mendukung target tersebut.
Baca juga: Bank BJB dan Bank Banten Sepakat untuk Mempererat Silaturahmi dan Kerja Sama antar Bank Daerah
“Jadi sebenarnya dalam konteks rencana bisnis kita, memang butuh modal. Bukan hanya dari dividen, tapi juga penguatan permodalan. Jadi tahun ini kita tidak ada dividen, karena pertumbuhan bisnis yang kuat perlu ditopang modal yang kuat,” kata Eko dalam Public Expose Bank Banten di Serang, Selasa, 28 April 2026.
Melanjutkan momentum pertumbuhah solid di 2025, Bank Banten memang sedang dalam mode ekspansi. Perseroan membidik pertumbuhan di atas rata-rata industri.
Kinerja Bank Banten
Adapun sepanjang 2025, BEKS mengantongi laba bersih sebesar Rp52,52 miliar, atau meningkat 33,55 persen year on year (yoy) ketimbang Rp39,33 miliar di tahun sebelumnya.
Baca juga: Kinerja Terus Meningkat, Bank Banten Raih Penghargaan The Asianpost Regional Champion 2026
Pertumbuhan laba disokong peningkatan kredit 32 persen, atau menjadi Rp5,07 triliun, dengan kualitas yang juga membaik. Ini tercermin dari rasio kredit bermasalah (NPL) gross yang berhasil ditekan ke level 4,67 persen.
Kenaikan kredit juga mendongkrak pendapatan bunga yang naik 16,09 persen dari Rp491 miliar menjadi Rp570 miliar.
Sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 32,21 persen, atau menjadi Rp6,42 triliun. Total asetnya pun melonjak 32,49 persen atau menjadi Rp10,00 triliun. (*) Ari Astriawan








