Moneter dan Fiskal

Fitch Revisi Outlook RI Jadi Negatif, Bos BI Bilang Begini

Poin Penting

  • Fitch Ratings mempertahankan sovereign credit rating Indonesia pada BBB, namun menurunkan outlook menjadi negatif karena kekhawatiran terhadap konsistensi kebijakan.
  • Gubernur BI, Perry Warjiyo, menegaskan prospek ekonomi tetap solid, inflasi terkendali, rupiah stabil, dan sistem keuangan terjaga meski ada ketidakpastian global.
  • BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2026 di kisaran 4,9–5,7 persen, defisit transaksi berjalan rendah, dan cadangan devisa tinggi USD154,6 miliar, mendukung stabilitas jangka menengah.

Jakarta – Bank Indonesia (BI) merespons lembaga pemeringkat Fitch Ratings (Fitch) yang mempertahankan sovereign credit rating Republik Indonesia pada BBB, namun melakukan penyesuaian outlook menjadi negatif.

Fitch menyatakan bahwa afirmasi rating Indonesia pada BBB mencerminkan rekam jejak Indonesia dalam menjaga stabilitas makroekonomi dengan prospek pertumbuhan jangka menengah yang solid, rasio utang pemerintah terhadap produk domestik bruto (PDB) yang relatif rendah, dan ketahanan eksternal yang memadai.

Di sisi lain, revisi outlook dipengaruhi oleh pandangan Fitch mengenai meningkatnya ketidakpastian kebijakan serta kekhawatiran terhadap konsistensi dan kredibilitas kebijakan Indonesia.

Baca juga: Fitch Soroti Program MBG dan Danantara, Ini Respons Airlangga

Gubernur BI, Perry Warjiyo, menyatakan, Afirmasi rating Indonesia pada BBB merefleksikan kepercayaan global terhadap fundamental ekonomi Indonesia yang tetap kuat.

“Penyesuaian outlook diyakini tidak mencerminkan pelemahan fundamental perekonomian Indonesia. Prospek perekonomian Indonesia tetap kuat dan berdaya tahan,” kata Perry dalam keterangannya, Kamis, 5 Maret 2026.

Perry menyebutkan, kekuatan ekonomi Indonesia tercermin dari pertumbuhan ekonomi domestik yang tetap solid di tengah ketidakpastian global yang meningkat, inflasi yang tetap terkendali termasuk inflasi inti yang tetap rendah, serta nilai tukar rupiah yang terus diperkuat melalui kebijakan stabilisasi nilai tukar di pasar NDF luar negeri (off-shore) maupun transaksi spot dan DNDF di pasar dalam negeri.

Stabilitas sistem keuangan juga tetap terjaga baik, ditopang likuiditas yang memadai, permodalan perbankan yang terjaga pada level tinggi, serta risiko kredit yang rendah.

Selain itu, digitalisasi sistem pembayaran yang meluas, ditopang oleh infrastruktur yang stabil, dan struktur industri yang sehat turut mendukung pertumbuhan ekonomi.”

Perry menyatakan, BI memprakirakan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka menengah tetap solid dan menunjukkan tren meningkat, didukung oleh inflasi yang terkendali. Pada tahun 2026, pertumbuhan ekonomi diprakirakan berada dalam kisaran 4,9–5,7 persen dan meningkat pada 2027, dengan inflasi yang tetap terkendali sesuai sasaran target.

“Ketahanan eksternal perekonomian Indonesia juga tetap kuat di tengah gejolak global, dengan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) terjaga sehat dan ditopang oleh kinerja neraca perdagangan yang solid,” ujar Perry.

Baca juga: Fitch Pangkas Outlook RI, Airlangga Dorong Optimalisasi Penerimaan Pajak

Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Januari 2026 tetap tinggi sebesar USD154,6 miliar, setara dengan pembiayaan 6,3 bulan impor atau 6,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

“NPI pada tahun 2026 juga diperkirakan tetap baik dengan defisit transaksi berjalan yang tetap rendah dalam kisaran defisit 0,9-0,1 persen PDB,” tambah Perry.

BI akan terus memperkuat bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di tengah ketidakpastian global yang meningkat, bersinergi erat dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dan Program Asta Cita Pemerintah, serta terus berkoordinasi dengan pemerintah untuk memperkuat komunikasi kebijakan dalam rangka memelihara kepercayaan pasar. (*)

Editor: Galih Pratama

Irawati

Bergabung dengan Infobanknews.com sejak April 2022. Lulusan Universitas Budi Luhur ini bertugas meliput isu ekonomi makro, moneter & fiskal, perbankan, hingga industri keuangan non-bank (IKNB).

Recent Posts

Daftar ATM Pecahan Rp10 Ribu dan Rp20 Ribu Terdekat untuk THR Lebaran 2026

Poin Penting Pencarian ATM pecahan Rp10 ribu dan Rp20 ribu terdekat meningkat jelang Lebaran 2026… Read More

16 mins ago

KNEKS: Spin-Off Terlalu Cepat Berpotensi Melahirkan Bank Syariah Kecil

Poin Penting KNEKS menilai spin-off UUS yang terlalu cepat berpotensi melahirkan bank syariah kecil dengan… Read More

29 mins ago

AXA Mandiri Ajak Anak Belajar Finansial Lewat Kegiatan Interaktif

Poin Penting AXA Mandiri membagikan 100 paket sekolah dan sembako senilai Rp1 juta untuk anak… Read More

1 hour ago

Klaim Penyakit Kritis Allianz Syariah Tembus Rp600 Miliar Sepanjang 2025

Poin Penting Sepanjang 2025, Allianz Syariah membayarkan klaim Rp600 miliar untuk 2.600 kasus, dengan 67… Read More

1 hour ago

Bonus Hari Raya Mitra Gojek Cair, Cek Nominal dan Kriteria Penerimanya

Poin Penting GoTo menyiapkan Rp110 miliar untuk Bonus Hari Raya mitra, meningkat dari Rp50 miliar… Read More

1 hour ago

Airlangga Sebut RI Punya Alternatif Pasokan Energi dari Luar Timur Tengah

Poin Penting Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan Indonesia memiliki alternatif pasokan energi di luar… Read More

2 hours ago