Namun demikian, kata dia, gambaran perekonomian global yang membaik ini menyiratkan pandangan kebijakan moneter yang terus berlanjut. Di mana Tiongkok baru-baru ini melihat adanya pelemahan permintaan (demand) pada kredit, yang akan mulai berdampak pada pertumbuhan kredit di akhir tahun ini.
Baca juga: BI Proyeksikan Perekonomian Global Tumbuh 3,5%
Di sisi lain, The Fed juga tampaknya akan melakukan normalisasi pada tingkat suku bunganya dengan menaikkan bunganya tiga sampai empat kali lagi hingga tahun 2019 mendatang. Kendati begitu, inflasi inti yang rendah memungkinkan Bank Sentral Eropa (ECB) untuk melanjutkan kebijakan quantitative easing-nya (QE) saat ini.
“Dengan Fed sekarang menandakan bahwa QE akan mulai dibatalkan akhir tahun ini, penyesuaian kebijakan moneter ini dapat memicu beberapa volatilitas di pasar keuangan global selaras dengan akomodasi moneter yang terus-menerus,” ucap Coulton. (*)
Editor: Paulus Yoga
Page: 1 2
Poin Penting IHSG melonjak 4,42% ke level 7.279, dengan mayoritas saham (623) ditutup menguat. Seluruh… Read More
Poin Penting: Biaya haji 2026 terancam naik signifikan akibat kenaikan harga avtur, asuransi, dan tekanan… Read More
Poin Penting Ancaman siber makin kompleks dan canggih (APT, AI, eksploitasi mobile), berdampak pada operasional,… Read More
Poin Penting SIPF belum memiliki payung hukum kuat, karena belum diatur dalam undang-undang meski risiko… Read More
Poin Penting Konflik Timteng memicu risiko gangguan infrastruktur digital global, termasuk data center dan jaringan… Read More
Poin Penting Kebocoran data masih terjadi karena penggunaan banyak tools keamanan yang tidak terintegrasi (silo),… Read More