Sementara itu, sinyalemen The Fed dalam FOMC Meeting dini hari tadi, memunculkan sentimen negatif terhadap rupiah di 2017 mendatang. Di mana Bank Sentral AS memberikan sinyal bahwa akan menaikkan suku bunganya sebanyak tiga kali di tahun depan. Kondisi ini harus segera direspon oleh bank-bank sentral di negara lain.
“Ada kenaikan tiga kali di 2017, lebih tinggi dari perkiraan awal. Setelah ECB dan the Fed mensinyalkan kebijakan moneter bias ketat di 2017 saat ini fokus langsung beralih ke pertemuan BoE malam nanti dan BoJ pada 20 Desember 2016 mendatang,” ucapnya.
Sementara dari faktor domestik, lanjut dia, pergerakan laju rupiah terhadap Dolar AS akan berfokus pada pengumuman BI 7-day Reverse Repo Rate yang akan diumumkan setelah Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG-BI) yang telah berlangsung pada 14-15 Desember 2016. (*)
(Baca juga: BI Pangkas Suku Bunga, Rupiah Berpotenso Merosot)
Editor: Paulus Yoga
Page: 1 2
Poin Penting IHSG melonjak 4,42% ke level 7.279, dengan mayoritas saham (623) ditutup menguat. Seluruh… Read More
Poin Penting: Biaya haji 2026 terancam naik signifikan akibat kenaikan harga avtur, asuransi, dan tekanan… Read More
Poin Penting Ancaman siber makin kompleks dan canggih (APT, AI, eksploitasi mobile), berdampak pada operasional,… Read More
Poin Penting SIPF belum memiliki payung hukum kuat, karena belum diatur dalam undang-undang meski risiko… Read More
Poin Penting Konflik Timteng memicu risiko gangguan infrastruktur digital global, termasuk data center dan jaringan… Read More
Poin Penting Kebocoran data masih terjadi karena penggunaan banyak tools keamanan yang tidak terintegrasi (silo),… Read More