Keuangan

FDS-PAC: Keamanan Siber Tak Cukup Lagi Lindungi Sistem, tapi Ekosistem

Poin Penting

  • Ancaman siber di industri keuangan semakin masif dan kompleks, sehingga pendekatan keamanan harus bergeser dari perlindungan sistem menjadi penguatan ketahanan seluruh ekosistem
  • Potensi kerugian akibat cybercrime meningkat tajam, dengan nilai global diproyeksi mencapai USD10,5 triliun pada 2025
  • Industri keuangan memerlukan strategi keamanan terpadu berbasis tiga pilar: teknologi (SOAR, Zero Trust), proses (secure development, patch management, kepatuhan regulasi), dan manusia (pelatihan dan mitigasi risiko internal).

Jakarta — Industri keuangan dihadapkan pada ancaman siber yang kian masif dan canggih. Oleh sebab itu, Sutjahyo Budiman, Direktur Utama PT Sarana Pactindo (FDS PAC Group), menegaskan bahwa pendekatan keamanan harus berubah dari sekadar perlindungan sistem menjadi penguatan ketahanan ekosistem, seiring meningkatnya nilai transaksi dan keterhubungan antarlembaga finansial.

“Dulu kita bicara institusi keuangan, sekarang kita bicara ekosistem. Semua sudah terhubung, seperti bank, sekuritas, asuransi, dan layanan lain. Konektivitas ini membawa manfaat besar, tapi juga membuka risiko yang harus kita kelola bersama,” ujarnya, dalam Forum bertajuk “Negative Impact of Digitalization: New Security Threats” yang digelar Infobank Media Group bersama FDS PAC Group dan APEI, di JS Luwansa Hotel, Kuningan, Jakarta, Kamis, 20 November 2025.

Sutjahyo menambahkan, kerugian akibat ancaman siber di industri keuangan berpotensi meningkat tahun ini. Berdasarkan laporan Internet Crime Report yang dirilis FBI’s Crime Complaint Center (IC3), Amerika Serikat, menunjukkan bahwa kerugian akibat cybercrime mencapai USD16,6 miliar sepanjang 2024.

Sedangkan, potensi kerugian cybercrime secara global pada 2025 diproyeksi mencapai USD10,5 triliun. Sementara, kerugian akibat cyber fraud di Indonesia pada periode Januari–September 2025 telah mencapai Rp381 miliar.

Baca juga: OJK Beberkan Modus Serangan Siber yang Patut Diwaspadai Pelaku Pasar Modal

Ancaman Makin Kompleks

Ia menjelaskan peningkatan aktor dan objek serangan, seperti hacker, hacktivist, sindikat kriminal, insider, hingga nation state, yang kini lebih kreatif memanfaatkan celah pada API, identitas, data transaksi, dan integrasi pihak ketiga.

Oleh karena itu, industri keuangan butuh pendekatan yang saling melengkapi. Seperti pendekatan yang dilakukan FDS-PAC dengan menggabungkan tiga pilar utama.

Pertama, dari sisi teknologi, perusahaan menerapkan SOAR, Mobile Endpoint Security, hingga Zero Trust.

Kedua aspek proses, penguatan dilakukan melalui secure development, patch management, serta kepatuhan terhadap regulasi Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi (UU PDP).

Sementara ketiga pada sisi manusia, FDS-PAC menekankan pentingnya pelatihan dan mitigasi risiko internal sebagai bagian dari strategi keamanan yang menyeluruh.

Selain itu, penguatan keamanan tidak bisa berhenti di level perusahaan semata.

“Kesadaran keamanan itu tidak bisa hanya ada di internal perusahaan. Harus menjangkau partner, vendor, bahkan nasabah. Kalau satu titik lemah, semuanya bisa terdampak,” ujarnya.

Baca juga: Jadi Sasaran Utama Serangan Siber, BEI dan Anggota SRO Lakukan Jurus Ini

Ia pun mengingatkan bahwa ancaman kini semakin sulit ditebak dan bergerak cepat mengikuti perkembangan ekosistem digital.

“Ancaman-ancaman itu makin liar dan makin kreatif. Kalau dulu kita hanya takut serangan eksternal, sekarang ancamannya bisa datang dari mana saja. Bahkan dari dalam ekosistem kita sendiri,” pungkasnya. (*) Ayu Utami

Galih Pratama

Berkecimpung di industri media sejak 2014. Saat ini di infobanknews.com bertugas menulis dan menyunting artikel yang berkaitan dengan isu ekonomi, perbankan, pasar modal hingga industri keuangan non-bank (IKNB).

Recent Posts

Prudential Indonesia Luncurkan PRUMapan, Sasar Kebutuhan Proteksi Generasi Sandwich

Poin Penting Prudential Indonesia meluncurkan PRUMapan, asuransi jiwa tradisional yang menyasar milenial dan Gen Z,… Read More

28 mins ago

Dana Abadi LPDP Tembus Rp180,8 Triliun, Intip Rincian Alokasi dan Penggunaannya

Poin Penting Dana abadi LPDP mencapai Rp180,8 triliun, dengan alokasi terbesar untuk pendidikan Rp149,8 triliun,… Read More

51 mins ago

MTF Telusuri Dugaan Tindak Pidana yang Mengatasnamakan Perusahaan

Poin Penting PT Mandiri Tunas Finance (MTF) melakukan penelusuran menyeluruh atas dugaan tindak pidana yang… Read More

1 hour ago

ISEI Dorong Reformulasi Kebijakan UMKM Lewat Industry Matching di Bogor

Poin Penting ISEI dorong kebijakan berbasis praktik lapangan melalui ISEI Industry Matching bersama YDBA untuk… Read More

2 hours ago

Bank Mandiri Siapkan Rp44 Triliun Uang Tunai untuk Kebutuhan Ramadan-Lebaran 2026

Poin Penting Bank Mandiri menyiapkan Rp44 triliun uang tunai untuk ATM/CRM selama 24 Februari-25 Maret… Read More

3 hours ago

LPDP Minta Maaf atas Polemik Alumni Berinisial DS

Poin Penting LPDP menyampaikan permintaan maaf atas polemik yang ditimbulkan alumni berinisial DS dan menilai… Read More

3 hours ago