News Update

Faktor Modal dan SDM Hambat Pertumbuhan Asuransi Syariah

Jakarta – Masih rendahnya pertumbuhan asuransi syariah lebih disebabkan oleh dua faktor yakni persoalan permodalan dan Sumber Daya Manusia (SDM) yang belum memadai lantaran belum memahami sepenuhnya akan pengertian produk-produk syariah.

Demikian pernyataan tersebut seperti disampaikan oleh Praktisi Ekonomi Syariah, M Syakir Sula dalam diskusi di Jakarta, Rabu, 7 Maret 2018. Menurutnya, persoalan permodalan dan SDM yang belum memadai telah menghambat pertumbuhan asuransi syariah, meski industri keuangan syariah sudah ada sejak 20 tahun terakhir.

“Kalau modalnya kecil susah untuk berkembang ngapa-ngapain. Ini salah satu penyebab asuransi syariah tidak terlalu cepat pertumbuhannya karena aspek di dalamnya. Dari sisi SDM yang belum berkualitas juga menjadi penyebab lambatnya pertumbuhan asuransi syariah,” ujarnya.

Oleh sebab itu, kata dia, untuk mendorong pertumbuhan asuransi syariah, dibutuhkan komitmen besar dari induk perusahaan untuk bisa memberikan modal yang besar untuk anak usahanya di lini syariah. Dengan demikian, asuransi syariah bisa berkembang dan menjalankan bisnisnya lebih positif.

“Jadi mereka (induk usaha) kurang serius untuk memberikan modal di anak usaha syariahnya. Dari aspek permodalan dan juga SDM itu aspeknya. Dengan agen-agen yang profesional dia akan menjual dengan maksimal. Dua hal itu menjadi faktor utamanya,” ucapnya.

Baca juga: Aset Asuransi Syariah Mampu Tumbuh 22,1%

Di tempat yang sama, Corporate Communication & Sharia Director Prudential Indonesia, Nini Sumohandoyo menambahkan, bahwa sejauh ini masih banyak masyarakat Indonesia yang beragama muslim yang belum paham sepenuhnya akan produk-produk keuangan syariah seperti Asuransi Syariah.

Maka dari itu, lanjut dia, industri keuangan syariah harus bisa mengatasi persoalan tersebut dengan melakukan sosialisasi yang lebih kencang lagi. Dengan demikian, diharapkan, pangsa pasar keuangan syariah akan meningkat, sehingga nantinya akan berdampak ke pertumbuhan asuransi syariah.

“Masih banyak masyarakat muslim di Indonesia gak mengerti syariah itu apa, produk syariah itu seperti apa. Makanya kita terus-terusan untuk ngelakuin sosialisasi terkait dengan produk keuangan syariah seperti asuransi syariah juga,” paparnya.

Sebelumnya regulator Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan, bahwa proyeksi pertumbuhan industri asuransi syariah di tahun ini akan lebih rendah dari realisasi di 2017 lalu. Di 2017, proyeksi pertumbuhan aset asuransi syariah sebesar 17 persen. Sedangkan di tahun ini, proyeksi pertumbuhan aset asuransi syariah lebih rendah yakni 15 persen.

Sejauh ini, pihak regulator masih melakukan evaluasi dan analisis lebih dalam terkait dengan turunnya target pertumbuhan industri asuransi syariah di tahun ini. Pihaknya akan terus melakukan public hearing dengan para pelaku industri asuransi syariah untuk mendengar dan masukan terkait pertumbuhan itu. (*)

Rezkiana Nisaputra

Recent Posts

Iran Tutup Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Berpotensi Tembus USD200 per Barel

Poin Penting Iran menutup Selat Hormuz dan mengancam serangan terhadap kapal serta pipa minyak, memicu… Read More

20 mins ago

Inovasi Berkelanjutan Bank Saqu Dampingi Perjalanan Solopreneur hingga Entrepreneur

Poin Penting Bank Saqu telah menjangkau 3,5 juta nasabah sejak 2023, dengan sekitar 40% merupakan… Read More

33 mins ago

Ciamik! Laba Bank Banten Rp52,5 Miliar, Melonjak 31,54 Persen di 2025

Poin Penting Laba bersih Bank Banten naik 31,54 persen menjadi Rp52,52 miliar pada 2025, ditopang… Read More

35 mins ago

Telkom Indonesia (TLKM) Siapkan Roadmap Pengembangan AI hingga 2028

Poin Penting Telkom susun roadmap Sovereign AI hingga 2028 untuk membangun model dan infrastruktur AI… Read More

2 hours ago

Update Harga Emas Pegadaian (3/3): Antam Turun, Galeri24 dan UBS Kompak Naik

Poin Penting Harga emas Galeri24 naik Rp43.000 ke Rp3.173.000/gram, sementara UBS naik ke Rp3.195.000/gram di… Read More

3 hours ago

Rupiah Dibuka Menguat di Tengah Eskalasi Geopolitik Timur Tengah

Poin Penting Rupiah menguat 0,03% ke Rp16.863 per dolar AS pada awal perdagangan 3 Maret… Read More

3 hours ago