Jakarta – Pernyataan tim calon presiden Prabowo-Sandi yang berniat mewujudkan pencapaian orde baru terhadap swasembada pangan cukup menuai kritik dari berbagai pihak. Kritik tersebut sepertinya juga terlontar dari Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) senior Faisal Basri.
Faisal bahkan menyebut, program swasembada tersebutlah yang memperparah perekonomian negara dan dapat meruntuhkan perekonomian negara.
“Swasembada orde baru bikin runtuh negara. Kita swasembada minyak, tapi bikin negara hampir runtuh, karena utang Pertamina yang jatuh tempo lebih besar dari cadangan devisa kita,” kata Faisal Basri di acara Seminar Nasional The Consumer Banking Forum di Le Meridien Hotel Jakarta, Kamis 22 November 2018.
Oleh karena itu, dirinya mengimbau kepada seluruh masyarakat agar tidak gampang terpengaruh oleh janji para calon presiden serta meminta untuk para pemilih menelaah lebih dalam program kerja kedua calon presiden tersebut.
“Jangan mau dimakan resep Titiek Soeharto, yang katanya, mau ditiru Prabowo dan Sandi. Dua-duanya (Jokowi atau Prabowo) saya kritik,” tukas Faisal.
Sebelumnya, calon wakil presiden Sandiaga Uno membenarkan pihaknya akan mengadopsi sistem swasembada tersebut terhadap sektor pangan. Dirinya berharap dengan adanya swasembada pangan maka Indonesia dapat mengurangi impor. (*)
Bank Muamalat Indonesia mencatat kinerja yang solid untuk layanan cash management system bernama Muamalat Digital… Read More
Poin Penting BTN telah menyalurkan 6 juta unit KPR sejak 1976 hingga April 2026 dengan… Read More
Poin Penting ALTO luncurkan ASKARA Connect dan ASKARA Collab untuk mengintegrasikan pemantauan, pengelolaan, dan analisis… Read More
Poin Penting optimistis pertumbuhan KPR tetap positif dalam 3–5 tahun ke depan, dengan target peningkatan… Read More
Poin Penting ALTO Network memproses ~30 juta transaksi per hari hingga Maret 2026, dengan kontribusi… Read More
Poin Penting RUPST OCBC sepakat untuk membagikan dividen tunai Rp1,03 triliun atau Rp45 per saham… Read More