Direktur dan Chief Financial Officer ESSA Industries Indonesia Prakash Chand Bumb. (Foto: Tangkapan layar/Ibrahim)
Poin Penting
Jakarta – PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) menyiapkan anggaran belanja modal (capital expenditure/capex) sekitar USD20 juta atau sekitar Rp332 miliar untuk 2026.
Direktur dan Chief Financial Officer ESSA Industries Indonesia, Prakash Chand Bumb mengungkapkan, anggaran capex tersebut tergolong tidak terlalu tinggi karena tidak difokuskan pada ekspansi.
“Capex yang diperlukan tidak terlalu tinggi. Kira-kira antara USD10 juta hingga USD20 juta yang bersifat esensial,” ujar Prakash dalam Public Expose ESSA secara daring, Rabu, 3 Desember 2025.
Baca juga: ESSA Optimistis Pendapatan Akhir Tahun Ini Tembus USD310 Juta
Menurutnya, dana capex akan digunakan untuk mendukung proyek eksisting, seperti fasilitas produksi LPG dan amoniak.
Adapun proyek eksisting tersebut masih berada dalam tahapan pengembangan awal sehingga tidak membebani anggaran belanja modal.
“Untuk proyek yang sedang dalam tahap konstruksi, tidak banyak kebutuhan capex yang diharapkan pada 2026,” jelasnya.
Baca juga: ESSA Optimistis Pendapatan Akhir Tahun Ini Tembus USD310 Juta
Sementara itu, terkait rencana pembagian dividen tahun buku 2025, pihaknya tidak memberikan angka secara pasti.
“Dividen tergantung keputusan pemegang saham. Kami berharap dapat terus membagikan dividen seperti sebelumnya,” pungkasnya.
Diketahui, kinerja PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) selama sembilan bulan pertama tahun 2025 mengalami tekanan. Ini tercermin dari laba bersih perseroan yang turun 37 persen menjadi USD21 juta pada September 2025.
Baca juga: Laba Bersih ESSA Turun 37 Persen Jadi USD21 Juta di September 2025
Penurunan laba bersih tersebut dipicu pendapatan ESSA yang terkoreksi sebanyak 13 persen menjadi USD200 juta hingga September 2025 dari USD230 juta.
Tekanan lain datang dari harga amoniak yang mengalami penurunan sekitar 10 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sementara harga LPG juga mengalami sedikit penurunan sebesar 2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Namun demikian, pada kuartal ketiga terjadi pemulihan harga amoniak sebesar 7 persen dibandingkan kuartal sebelumnya. (*)
Editor: Yulian Saputra
Poin Penting Bank INA optimistis mampu melampaui target pertumbuhan kredit 8–12 persen dari OJK dengan… Read More
Poin Penting IHSG dibuka menguat 0,36% ke level 8.425,94 dengan nilai transaksi Rp415,39 miliar dan… Read More
Poin Penting OJK siapkan penghapusan KBMI I dan mendorong bank bermodal inti Rp3 triliun–Rp6 triliun… Read More
Poin Penting IHSG diprediksi melanjutkan penguatan selama bertahan di atas 8.170, dengan potensi menuju 8.440-8.503.… Read More
Poin Penting CELIOS kirim surat keberatan ke Presiden Prabowo Subianto soal perjanjian dengan Donald Trump,… Read More
Poin Penting BSI menargetkan 500 ribu hingga lebih dari 1 juta nasabah awal untuk BSI… Read More