CEO Aon Indonesia Karl Hamman. (Foto: Istimewa)
Poin Penting
Jakarta – Dunia bisnis kini menghadapi lanskap risiko yang jauh lebih kompleks dibanding satu dekade lalu.
Perubahan iklim, gangguan rantai pasok global, transformasi teknologi, hingga pergeseran demografi saling bertaut dan memperbesar dampak satu sama lain.
Dalam kondisi tersebut, CEO Aon Indonesia, Karl Hamman menilai pendekatan lama yang menjadikan asuransi sebagai strategi utama pengelolaan risiko sudah tidak lagi memadai.
“Kekuatan global ini sedang mendefinisikan ulang resiliensi,” ujarnya dalam acara CFO New Year’s Gathering 2026 di Jakarta, Kamis, (22/1).
Baca juga: Di Tengah Ketidakpastian Ekonomi, CFO Jalankan Peran Strategis sebagai Navigator Perusahaan
Menurut Karl, tekanan multidimensi yang dihadapi perusahaan saat ini menuntut para chief financial officer (CFO) untuk berpikir melampaui pendekatan transfer risiko tradisional.
Risiko tidak lagi sekadar persoalan finansial yang bisa dipindahkan, tetapi realitas operasional dan strategis yang harus dikelola sejak hulu.
Aon menegaskan bahwa peran asuransi seharusnya ditempatkan sebagai jaring pengaman, bukan tumpuan utama.
“Asuransi harus tetap menjadi safety net, bukan strategi yang kita bergantung padanya,” kata Karl.
Penegasan ini muncul dari pembacaan Aon terhadap pola risiko global yang kian nyata dan berulang, bukan sekadar skenario teoritis.
Pandangan tersebut didukung oleh riset dan survei tahunan Aon yang menghimpun respons ribuan eksekutif dari berbagai sektor dan wilayah.
Baca juga: Ini Dia Bank-Bank dengan Nasabah Paling Loyal Tahun 2026
Dari sana, Aon memetakan risiko-risiko utama yang akan membentuk masa depan bisnis, mulai dari dampak perubahan iklim dan ketidakstabilan penyediaan global, hingga tantangan talenta dan meningkatnya ketegangan geopolitik.
“Ini bukan teori. Ini datang langsung dari pengalaman para pemimpin bisnis global,” tegas Karl.
Hasil riset itu, lanjutnya, dirancang untuk membantu organisasi membuat keputusan yang lebih baik, bukan hanya untuk menghadapi tekanan hari ini, tetapi juga untuk menyiapkan masa depan.
Karena itu, Aon mendorong para CFO dan pimpinan perusahaan untuk mulai berpikir melampaui neraca dan laporan laba-rugi, serta berani berinvestasi pada ketahanan jangka panjang.
Baca juga: APBN 2025 Defisit 2,92 Persen, Wamenkeu Bilang Begini
Dalam konteks tersebut, Aon melihat resiliensi sebagai hasil dari keberanian strategis, penguatan institusi privat dan publik, serta inovasi berkelanjutan demi keamanan dan kesejahteraan komunitas.
“Kita perlu berinvestasi pada keberanian dan inovasi, bukan sekadar perlindungan,” ujar Karl.
Ia menegaskan tujuan manajemen risiko bukan untuk menghilangkan ketidakpastian, melainkan membangun ketahanan yang cukup kuat untuk menghadapinya.
“Jika kita melakukannya dengan benar, asuransi akan tetap ada, tetapi jarang kita butuhkan. Bukan karena kita mengabaikannya, melainkan karena kita sudah siap,” pungkas Karl. (*) Alfi Salima Puteri
Poin Penting Amartha buka peluang IPO di Bursa Efek Indonesia sebagai bagian dari strategi pengembangan… Read More
Poin Penting OJK menilai bank KBMI I (modal inti hingga Rp6 triliun) masih berpeluang memperkuat… Read More
Poin Penting Amartha menyalurkan pembiayaan Rp13,2 triliun pada 2025, tumbuh lebih dari 20% secara tahunan,… Read More
Poin Penting BNI–Siemens Indonesia menjalin kerja sama pembiayaan Rp300 miliar untuk proyek dan modal kerja… Read More
Poin Penting Tensi geopolitik mendorong aliran dana ke USD, membuat rupiah tetap rentan meski sempat… Read More
Poin Penting Empat BPR/BPRS dilikuidasi akibat dampak bencana di wilayah Sumatra, dengan kondisi terparah dialami… Read More