Expertise

Empat Luka Ekonomi dari Perang Iran-AS dan Israel

Oleh Eko B. Supriyanto, Pemimpin Redaksi Infobank Media Group

AKHIR pekan lalu, dunia dikejutkan eskalasi baru konflik Timur Tengah. Serangan gabungan Amerika Serikat (AS)-Israel ke Teheran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, membuka babak perang yang lebih luas.

Bagi Indonesia, jarak ribuan kilometer tak lagi relevan sebagai tameng. Dalam ekonomi politik global, getaran perang selalu menemukan jalannya ke “rumah” kita. Kali ini, setidaknya ada empat luka yang harus dirawat: minyak membubung, rupiah merana, kredit tertekan, dan saham limbung.

Menurut diskusi terbatas Infobank Institute, setidaknya ada empat luka yang masih akan terus terjadi bagi ekonomi Indonesia.

Satu, Selat Hormuz bukan sekadar titik di peta. Ia urat nadi ekonomi dunia—20 persen konsumsi minyak global dan 30 persen perdagangan LNG melintas di sana. Ketika Iran berseru menutup akses, pasar bereaksi. Bukan karena pasokan terganggu, tapi karena premi risiko melekat pada setiap barel.

Banyak Ekonom memperkirakan harga minyak bisa tembus 100-120 dolar AS jika konflik berlangsung lebih dari dua pekan.

Cover Majalah Infobank edisi Maret 2026.

Bagi Indonesia, ini bukan angka di layar Bloomberg. Pengalaman selama ini, setiap kenaikan harga minyak dunia akan mendorong harga BBM domestik. Pertalite dan Solar—yang digunakan masyarakat menengah ke bawah—terancam naik. Inflasi merambat, daya beli tergerus.

Indonesia sebagai net oil importer terkena dampaknya bukan lewat perdagangan langsung—ekspor kita ke Iran cuma 200 juta dolar AS setahun—melainkan lewat oil channel: biaya impor energi membengkak dan subsidi membebani APBN.

Dua, saat ketidakpastian geopolitik meninggi, investor lari dari aset berisiko di negara berkembang dan kembali ke safe haven. Yaitu, dolar AS dan emas. Infobank Institute memperkirakan rupiah berpotensi terdepresiasi ke Rp17.000 per dolar AS. Selain karena faktor dalam negeri seperti fiskal dan independensi Bank Indonesia (BI) yang diganggu “tangan tangan” kekuasaan.

Baca juga: Perang AS-Israel vs Iran Bisa Picu Volatilitas IHSG, Analis Ingatkan Hal Ini ke Investor

Pelemahan ini palu godam yang menghantam dua sisi. Pertama, biaya impor membengkak—bahan baku industri dan pangan ikut terkerek. Kedua, beban utang luar negeri pemerintah dan swasta dalam dolar ikut membesar.

BI terjepit. Menjaga stabilitas nilai tukar atau menaikkan suku bunga untuk menarik modal asing? Dalam situasi risk-off, stabilitas jadi prioritas. Ruang pelonggaran moneter tertutup, transmisi kebijakan ke sektor riil tersendat.

Tiga, konflik ini mengguncang harga minyak, yang pada gilirannya memengaruhi beban impor, subsidi, cadangan devisa, neraca pembayaran, hingga nilai tukar. Semua bermuara pada sektor riil dan perbankan.

Logikanya sederhana. Harga BBM naik, ongkos produksi membengkak, UMKM dan korporasi tertekan likuiditas. Arus kas terganggu, cicilan macet, rasio kredit bermasalah (NPL) merambat naik. Usaha kecil dengan margin tipis dan industri padat bahan baku impor paling rentan.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memang melaporkan NPL gross di level 2,05 persen hingga akhir 2025. Tapi data itu potret masa lalu. Tekanan baru dari konflik Iran-Israel belum tercermin. Gelombang diam ini akan tiba dalam beberapa bulan ke depan.

Empat, pasar saham—kanal paling kasatmata dan paling cepat bereaksi—masuk pekan ini dengan tekanan berat. Pengalaman eskalasi geopolitik besar selalu memicu risk-off di pasar global.

Jelas, konflik ini menekan sektor industri dasar dan sektor bergantung bahan baku impor. Tiongkok—mitra dagang utama Indonesia—mengimpor 13 persen minyak dari Iran. Jika pasokan terganggu, biaya energi Tiongkok melonjak, ekonomi melambat, permintaan ekspor Indonesia ikut terpukul.

Harus diwaspadai, tekanan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) datang dari dua sisi. Pertama, potensi capital outflow karena investor asing mengurangi eksposur. Kedua, risiko inflasi impor akibat kenaikan harga energi yang meningkatkan biaya produksi emiten domestik.

Tapi tak semua sektor terdampak negatif. Sektor migas justru dapat katalis positif. Emiten energi diprediksi mengalami apresiasi seiring potensi kenaikan pendapatan dari melonjaknya harga minyak.

Sektor emas juga bersinar. Harga emas dunia melonjak dan logam mulia dalam negeri juga merangkak naik.

IHSG berpotensi menguji support di level 8.100-8.150, bahkan bisa turun di bawah 8.000 jika tekanan memburuk. Tapi komposisi IHSG yang banyak ditopang saham berbasis komoditas bisa menjadi peredam. Kenaikan harga emas dan minyak berpotensi menahan pelemahan indeks.

Perang Iran-Israel mengajarkan pelajaran lama, dalam ekonomi politik global, ketahanan nasional tak cukup diukur dari cadangan devisa atau pertumbuhan kredit. Ia diukur dari kesiapan menahan guncangan eksternal yang berlapis—di energi, moneter, perbankan, dan pasar modal sekaligus.

Baca juga: Trump Deklarasi Perang Besar di Iran, Ini Potensi Dampaknya ke Ekonomi RI

Pemerintah harus siap dengan skenario terburuk: harga minyak bertahan tinggi di atas asumsi APBN, rupiah terus tertekan, NPL mulai naik, IHSG volatil menguji nyali investor.

OJK dan BI perlu mewaspadai potensi peningkatan risiko kredit, terutama di sektor paling terpapar kenaikan harga energi dan pelemahan rupiah. Penguatan cadangan energi, stabilisasi nilai tukar, dan diplomasi aktif untuk deeskalasi konflik menjadi keniscayaan.

Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mengingatkan kita waspada tapi tak panik. Pemerintah perlu preemptif memonitor resiliensi fundamental ekonomi dan lebih lincah menciptakan stimulasi produktivitas, khususnya di sisi ekspor dan penanaman modal asing.

Pada akhirnya, perang di Timur Tengah adalah pengingat: membangun ketahanan ekonomi dari dalam—hilirisasi energi, penguatan UMKM, pendalaman pasar keuangan, diversifikasi mitra dagang—adalah tameng terbaik di tengah dunia yang semakin tak menentu.

Empat “luka” ini harus dirawat bersama, agar tak menjadi infeksi yang lebih parah. Indonesia kembali waspada 1 karena dampak perang AS-Israel dan Iran. (*)

Galih Pratama

Berkecimpung di industri media sejak 2014. Saat ini di infobanknews.com bertugas menulis dan menyunting artikel yang berkaitan dengan isu ekonomi, perbankan, pasar modal hingga industri keuangan non-bank (IKNB).

Recent Posts

Rupiah Dibuka Melemah setelah Meletus Perang AS-Israel vs Iran

Poin Penting Rupiah dibuka melemah ke Rp16.839/USD pada 2 Maret 2026, turun 0,29% dari penutupan… Read More

47 mins ago

Harga Emas Antam, Galeri24, UBS Meroket di Tengah Memanasnya Konflik AS-Israel vs Iran

Poin Penting Harga emas Pegadaian kompak naik pada 2 Maret 2026: Galeri24 Rp3.130.000/gram, UBS Rp3.167.000/gram,… Read More

55 mins ago

IHSG Dibuka Ambles Hampir 2 Persen ke Posisi 8.073

Poin Penting IHSG dibuka melemah 1,97% ke 8.073 pada awal perdagangan 2 Maret, dengan 575… Read More

1 hour ago

IHSG Berpeluang Menguat, Sederet Saham Ini Direkomendasikan

Poin Penting IHSG berpeluang melanjutkan penguatan secara teknikal dengan target 8.440-8.650, setelah ditutup di 8.235… Read More

2 hours ago

Nasib, Rupiah Oh Rupiah: Rupiah “Undervalued”, Siapa Percaya?

Oleh Eko B. Supriyanto, Pemimpin Redaksi Infobank Media Group BANK Indonesia (BI) memandang nilai tukar… Read More

6 hours ago

BCA Tawarkan Bunga KPR Mulai 1,69 Persen di Expoversary Bali 2026

Poin Penting PT Bank Central Asia Tbk menggelar BCA Expoversary Bali 2026 di Mal Bali… Read More

12 hours ago