Ilustrasi: Logam mulia emas. (Foto: istimewa)
Jakarta – Harga emas diprediksi berpotensi merosot taham pasca dirilisnya laporan ketenagakerjaan non pertanian Amerika Serikat (AS). Seperti diketahui, negeri Paman Sam ini baru saja menerbitkan Laporan Ketenagakerjaan non Pertanian yang menggembirkan dan menumbuhkan kembali harapan tentang peningkatan suku bunga AS tahun ini.
Lukman Otunuga, Market Research Analyst FXTM mengatakan, logam mulia ini sangat terpengaruh oleh ekspektasi peningkatan suku bunga dan dapat semakin melemah apabila optimisme peningkatan suku bunga semakin menguat.
Walaupun penghindaran risiko mengangkat nilai komoditas ini, tambah Lukman, pulihnya nilai tukar USD dan menguatnya harapan peningkatan suku bunga Fed dapat menggoda penjual untuk menyerang harga emas.
Lukman memprediksi, Investor bullish masih memiliki ruang untuk bernapas di atas US$1315. “ Namun breakdown dapat memberi sinyal bahaya jika harga merosot menuju US$1305”ujarnya.(*)
UOB Plaza yang berlokasi di distrik bisnis Jakarta, telah menerima sertifikat dan plakat GREENSHIP Existing… Read More
Poin Penting Pembiayaan UMKM BSI tembus Rp51,78 triliun hingga November 2025, dengan Rasio Pembiayaan Inklusif… Read More
Poin Penting Direktur Operasional Bank Mandiri, Timothy Utama, membeli 155 ribu saham BMRI senilai Rp744… Read More
Poin Penting ASII lanjutkan buyback saham dengan dana maksimal Rp2 triliun, dilaksanakan pada 19 Januari–25… Read More
Poin Penting OJK menemukan delapan pelanggaran serius yang merugikan lender, termasuk proyek fiktif, informasi palsu,… Read More
Poin Penting OCBC Sekuritas bermitra dengan Makmur untuk menghadirkan fitur investasi saham di platform Makmur… Read More