News Update

Elev8 Beberkan Tren Pasar Keuangan 2026, Waspadai 4 Risiko Ini

Poin Penting

  • Elev8 memproyeksi dolar AS melemah moderat, emas tetap bullish, sementara Bitcoin berpotensi bergerak dalam fase konsolidasi.
  • Meski regulasi makin matang, pasar kripto dinilai kekurangan dorongan kuat untuk mencetak rekor harga baru tahun ini.
  • Gelembung AI, lonjakan harga minyak, memanasnya perang dagang AS-China, dan krisis utang negara berpotensi memicu gejolak ekonomi global 2026.

Jakarta – Elev8 memproyeksikan pasar keuangan global masih dibayangi ketidakpastian sepanjang 2026. Tren pelemahan dolar AS, lonjakan harga emas, dan konsolidasi pasar kripto menjadi perhatian utama investor.

Dalam laporannya, Analis Elev8 Kar Yong Ang menyatakan transisi The Fed menuju rezim suku bunga netral di bawah kepemimpinan baru akan menekan dolar AS. Indeks dolar AS (DXY) diperkirakan melemah secara moderat.

“Meskipun kembalinya ke level 95,5 pada DXY dapat dicapai, pergerakan berkelanjutan di bawah 92,5 akan membutuhkan katalis fundamental yang signifikan. Secara teknis, penurunan di bawah 92,5 akan menandai putusnya garis tren bullish utama dari tahun 2014, berpotensi membuka jalan menuju 89.70, level terendah dalam lima tahun,” papar analis Elev8 dikutip Kamis, 19 Februari 2026.

Baca juga: Aset Kripto Belum Masuk Kategori Halal, Begini Kata OJK

Sementara, untuk logam mulia, emas dan perak yang sempat mencetak all time high (ATH) mulai berbalik arah. Tapi secara fundamental, kedua logam itu masih tetap sangat bullish.

Kondisi itu didorong penurunan suku bunga riil, pelemahan dolar AS, serta kekhawatiran terhadap independensi The Fed. Selain itu, bank sentral dunia terus menambah cadangan logam mulia.

Selanjutnya untuk pasar kripto, Bitcoin memulai awal 2026 dengan tekanan dalam. Harganya merosot tajam ke level USD60.000. Meskipun mulai bergerak naik, tapi nilainya masih turun sekitar 17 persen sejak awal tahun.

Ke depan, pasar kripto dinilai kekurangan katalis yang mampu mendorong reli berkelanjutan menuju rekor baru. Meski lanskap regulasi sudah semakin matang, momentum untuk terobosan legislatif lebih lanjut telah terhenti.

“Dengan kebijakan moneter global yang bergeser dari pelonggaran agresif ke fase yang lebih ketat, sulit untuk membayangkan Bitcoin menembus level tertinggi sepanjang masa baru tahun ini. Sebaliknya, periode konsolidasi mendatar yang berkepanjangan tampaknya menjadi hasil yang paling mungkin untuk tahun 2026,” lanjut laporan tersebut.

Empat Risiko Global 2026

Laporan Elev8 juga menyebut ada empat ancaman utama yang berpotensi meningkatkan krisis global pada 2026. Pertama, pecahnya gelembung kecerdasan buatan (AI). Perusahaan teknologi besar AS (Google, Microsoft, Meta, dan Amazon) secara kolektif berencana menggelontorkan USD600 miliar untuk AI tahun ini.

Belanja modal jumbo ini menimbulkan pertanyaan tentang kelayakan ekonomi banyak proyek AI dan memicu kekhawatiran terkait dampak yang lebih luas bagi pertumbuhan AS dan global.

Kegagalan memonetisasi investasi AI secara efektif bisa membuat saham AS anjlok, menjerumuskan AS ke dalam resesi dan memicu pemotongan suku bunga Fed yang agresif.

Baca juga: Purbaya Sebut Tak Sulit Perkuat Rupiah Jadi Rp15.000 per Dolar AS, Ini Alasannya

Kedua, huncangan harga minyak. Rusia sebagai eksportir minyak terbesar kedua di dunia masih terkena sanksi internasional yang membatasi produksinya.

Sementara ketegangan antara AS dan Iran telah mencapai titik kritis. Iran memegang cadangan terbukti terbesar ketiga di dunia dan memiliki pengaruh atas Selat Hormuz, yang menjadi titik rawan bagi 20 persen minyak dunia.

Melihat kondisi itu, ada risiko lonjakan tajam terhadap harga minyak, meski sifatnya hanya sementara.

Ketiga, perang dagang AS-China kembali memanas. Kesepakatan perdagangan harus dinegosiasikan ulang pada suatu saat di 2026, dan negosiasi dapat menjadi buruk.

Baca juga: Ekonom Beberkan Cara “Soemitronomic” Hadapi Dampak Perang Dagang

Keempat, krisis utang negara. Sejauh ini, investor mentolerir kenaikan utang pemerintah, tetapi kesabaran mereka ada batasnya. Imbal hasil obligasi pemerintah jangka panjang di sebagian besar negara industri tidak jauh dari level tertinggi multi-tahun, dan hilangnya kepercayaan secara tiba-tiba dapat menyebabkan lonjakan.

Jika pemerintah AS terpaksa memperkenalkan kembali QE atau mengadopsi kontrol kurva imbal hasil (YCC) untuk menstabilkan kenaikan utang nasional, kredibilitas global dolar dapat menghadapi kerusakan parah, yang berpotensi memicu devaluasi yang jauh lebih tajam. Prancis dan Inggris juga berisiko. (*) Ari Astriawan

Yulian Saputra

Recent Posts

Diplomasi Dagang 19 Persen AS-Indonesia, Produk AS akan “Menjajah” Pasar Dalam Negeri

Oleh: Eko B. Supriyanto, Pemimpin Redaksi Infobank Media Group ENTAH ini kabar gembira atau kabar… Read More

33 mins ago

Kolaborasi KB Bank dan BNI-AM Perluas Akses Investasi Nasabah

Poin Penting PT Bank KB Indonesia Tbk gandeng PT BNI Asset Management untuk distribusi 8… Read More

9 hours ago

Bos BI Minta Bank Masih Perlu Turunkan Suku Bunga

Poin Penting Gubernur Perry Warjiyo meminta perbankan terus menurunkan suku bunga dana dan kredit agar… Read More

13 hours ago

OJK Pede Kredit Perbankan 2026 Tumbuh hingga 12 Persen, Bagaimana Sektor Lain?

Poin Penting OJK proyeksi kredit 2026 tumbuh 10–12 persen, ditopang DPK 7–9 persen dan kinerja… Read More

13 hours ago

Pesawat Pelita Air Jatuh di Kalimantan, Pilot Tewas

Poin Penting Pesawat Air Tractor AT-802 (PK-PAA) milik Pelita Air Service jatuh saat mengangkut BBM… Read More

14 hours ago

Bank Danamon (BDMN) Bukukan Total Kredit Rp212,7 Triliun di 2025

Poin Penting Bank Danamon mencatat total kredit dan trade finance Rp212,7 triliun pada 2025, tumbuh… Read More

14 hours ago