News Update

Ekonomi Syariah Berpotensi Menekan Defisit Transaksi Berjalan

Jakarta — Menteri PPN/Kepala Bappenas yang juga Ketua Umum Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Bambang Brodjonegoro menilai Ekonomi syariah sangat berpotensi untuk berkontribusi menekan defisit transaksi berjalan.

“Pemerintah harus secara jeli dan cermat dapat memantau komoditas yang permintaannya tinggi, salah satunya adalah produk dan jasa halal yang menurut data Halal Industry Development Corporation tahun 2016, diperkirakan mencapai USD 2,3 triliun,” kata Bambang di Kementerian Bappenas Jakarta, Rabu 25 Juli 2018.

Dirinya menjelaskan, sejak 2011, Indonesia telah mengalami defisit transaksi berjalan akibat permintaan eksternal yang melemah terhadap komoditas ekspor serta turunnya harga komoditas ekspor. Defisit transaksi berjalan semakin meningkat pada pertengahan 2013 dan 2014, sebelum mulai membaik pada akhir 2017.

Namun demikian, pada triwulan I 2018, neraca transaksi berjalan kembali mengalami defisit sebesar USD 5,5 miliar, yang dipicu oleh defisit pada neraca pendapatan primer dan jasa yang masingmasing mengalami defisit sebesar USD 7,9 miliar dan USD 1,4 miliar.

Dengan demikian Bambang menyebutkan, pada periode tersebut, neraca pembayaran Indonesia mengalami defisit yang cukup besar, yaitu sebesar USD 3.9 miliar. Dirinya menyebut sumbangsih industri halal dapat mendongkrak angka ekspor nasional.

Berdasarkan statistik Ekonomi dan Keuangan Indonesia Bank Indonesia, dalam 6 tahun terakhir, neraca transaksi berjalan Indonesia belum pernah mengalami surplus. Hal ini patut menjadi perhatian bagi seluruh pihak, mengingat defisit ini menjadi faktor penekan utama dari nilai rupiah yang melemah dalam beberapa bulan terakhir.

“Pemerintah terus berupaya mendorong perbaikan defisit neraca transaksi berjalan, antara lain melalui peningkatan ekspor barang dan jasa,” tambah Bambang.

Asal tau saja, pada 2017, neraca perdagangan barang mencatat peningkatan dengan besaran surplus sebesar 23,3 persen. Secara umum, surplus ini ditopang oleh peningkatan ekspor barang sebesar 16,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sedangkan impor barang hanya meningkat sebesar 16,1 persen. (Dicky F Maulana)

Suheriadi

Recent Posts

Pikap India Mulai Didistribusikan ke Kopdes Merah Putih, Disaksikan Wakil Panglima TNI

Poin Penting: Pikap India Mahindra Scorpio telah diserahkan ke Kopdes Merah Putih di Surabaya dengan… Read More

16 mins ago

BEI Bidik 50 Ribu Investor Syariah Baru di 2026

Poin Penting Investor syariah melakukan 30,6 miliar saham dengan frekuensi 2,7 juta kali pada 2025.… Read More

39 mins ago

OJK Setujui Penggabungan 4 BPR Menjadi PT BPR Nusamba Tanjungsari

Poin Penting OJK menyetujui merger empat BPR di Priangan Timur menjadi PT BPR Nusamba Tanjungsari… Read More

58 mins ago

Adu Laba BCA, BRI, Bank Mandiri, dan BNI di 2025, Siapa Paling Cuan?

Poin Penting BCA tetap memimpin laba bersih – PT Bank Central Asia (BCA) mencatat laba… Read More

1 hour ago

OJK-Kemenkeu Kompak Tekan Bunga Kredit, Targetkan Lebih Rendah dari 8 Persen

Poin Penting OJK dan Kemenkeu berkoordinasi menurunkan bunga kredit melalui penempatan dana pemerintah dan pengendalian… Read More

1 hour ago

Perkuat Tata Kelola dan Etika Digital, BSI Raih ISO Global 27701:2019

Poin Penting BSI meraih sertifikasi internasional ISO 27701:2019 sebagai bukti komitmen memperkuat perlindungan data pribadi… Read More

2 hours ago