News Update

Ekonomi RI Masih di Jurang Resesi, Masih Manjurkah Anggaran PEN?

Jakarta – Ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2020 masih belum mampu bangkit dari jurang resesi akibat pandemi covid-19. Tercatat ekonomi RI sepanjang 2020 masih -2,07% (YoY), sementara bila dibandingkan dengan kuartal IV-2019, ekonomi Indonesia mengalami kontraksi -2,19% yoy. Dengan realisasi itu, apakah realisasi anggaran Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) covid-19 senilai Rp579,78 triliun tidak manjur menyembuhkan ekonomi?

Menanggapi hal tersebut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai, anggaran PEN sudah cukup memberikan dorongan terhadap konsumsi masyarakat, walaupun efeknya belum begitu maksimal.

“Realisasi program penanganan covid dan pemulihan ekonomi senilai Rp579,78 triliun dan realisasi APBN mencapai 94,6%, tentu ini tingkatkan kepercayaan masyarakat untuk lakukan konsumsi sehingga konsumsi rumah tangga membaik -3,61 (YoY),” kata Airlangga melalui video conference di Jakarta, Jumat 5 Febuari 2021.

Lebih lanjut Airlangga mengatakan, angka konsumsi rumah tangga tersebut lebih baik dibandingkan kuartal III-2020 sebesar -4,05%. Tak hanya itu saja, upaya Pemerintah dalam menjaga perekonomian juga telah memperbaiki angka ekspor impor nasional.

Dimana pada kuartal IV-2020 ekspor RI -7,21 atau lebih baik dari kuartal III-2020 yang terkontraksi cukup dalam di -11,66%. Sementara impor juga telah mengalami perbaikan di -13,5% pada kuartal IV-2020 dibandingkan dengan kuartal sebelumnya di -23%.

Airlangga menyatakan, berbagai industri usaha kini sudah mengalami perbaikan. Hal tersebut tercermin dari optimisme pemulihan permintaan global yang mendorong peningaktan sektor usaha di dalam negeri seperti industri pertanian yang positif 2,59% (yoy). Kemudian kontribusi pemulihan juga datang dari ndustri pengolahan, kimia, farmasi obat tradisional yang masih tumbuh 8,45% (YoY).

Meskipun belum beranjak dari jurang kontraksi, Airlangga optimis momentum pemulihan ini akan berlanjut hingga 2021 dengan mentargerkan pertumbuhan ekonomi positif di 4,5% hingga 5,5%. (*)

Editor: Rezkiana Np

Suheriadi

Recent Posts

Rupiah Babak Belur, Misbakhun Kritik Kebijakan BI yang Konvensional

Poin Penting Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, menilai BI masih menggunakan pendekatan konvensional… Read More

2 hours ago

Bank Mandiri Mau Gelar RUPST 29 April 2026, Simak Agenda Lengkapnya

Poin Penting PT Bank Mandiri (Persero) Tbk akan mengadakan RUPST tahun buku 2025 pada 29… Read More

3 hours ago

Siap-Siap! Bea Cukai Buka 300 Formasi CPNS Lulusan SMA Bulan Depan

Poin Penting Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa akan membuka rekrutmen CPNS untuk 300 lulusan SMA/sederajat… Read More

3 hours ago

Rupiah Terlemah Sepanjang Sejarah, Begini Respons BI

Poin Penting Rupiah ditutup melemah 70 poin (0,41 persen) ke Rp17.105 per dolar AS, menjadi… Read More

4 hours ago

CIMB Perluas Segmen Affluent ASEAN Sejalan Strategi Forward30

Poin Penting CIMB memperluas layanan wealth untuk menangkap pertumbuhan segmen affluent di ASEAN. Strategi ini… Read More

4 hours ago

Cinema XXI (CNMA) Tebar Dividen Jumbo Rp980 Miliar, Ini Jadwal Pembayarannya

Poin Penting CNMA membagikan dividen Rp12 per saham, termasuk dividen interim Rp5 per saham. Pembayaran… Read More

5 hours ago