Poin Penting
- Ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen yoy pada kuartal I 2026, tertinggi dalam lima tahun terakhir. Seluruh sektor tumbuh positif kecuali pertambangan serta listrik dan gas
- Pertumbuhan didorong sektor utama seperti industri pengolahan, perdagangan, pertanian, dan konstruksi dengan kontribusi 63,52 persen ke PDB
- Kinerja ekonomi juga ditopang peningkatan mobilitas, pariwisata, konsumsi, serta permintaan domestik dan ekspor, yang mendorong sektor transportasi, jasa, dan industri tetap ekspansif.
Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 mencapai 5,61 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka ini menjadi yang tertinggi dalam lima tahun terakhir.
Berdasarkan data yang dipaparkan, pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 ini merupakan yang paling tinggi dalam kurun waktu lima tahun terakhir.
Secara rinci, kuartal I 2021 minus 0,69 persen, kuartal I 2022 tumbuh 5,02 persen, kuartal I 2023 5,04 persen, kuartal I 2024 5,11 persen, dan kuartal I 2025 4,87 persen.
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, nilai Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku (ADHB) Indonesia pada kuartal III 2025 mencapai Rp6.187.2 triliun dan atas dasar harga konstan (ADHK) sebesar Rp3.447,7 triliun.
“Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 bila dibandingkan kuartal I 2025 atau secara year on year tumbuh 5,61 persen,” ujar Amalia dalam Rilis BPS di Jakarta, Selasa, 5 Mei 2026.
Baca juga: Ekonomi RI Tumbuh 5,61 Persen di Kuartal I 2026
Berdasarkan lapangan usaha, kata Amalia, secara tahunan pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2026 seluruh lapangan usaha tumbuh positif, kecuali pertambangan dan pengadaan listrik dan gas.
Adapun lapangan usaha utama yang memberikan kontribusi tertinggi terhadap PDB adalah industri pengolahan, perdagangan, pertanian, konstruksi dan pertambangan, yang memberikan share sebesar 63,52 persen dari total PDB.
Lebih rinci, lapangan usaha dengan pertumbuhan tinggi, yaitu penyediaan akomodasi dan makan minum tumbuh sebesar 13,14 persen. Ini didorong oleh peningkatan kinerja penyediaan makan minum seiring perluasan cakupan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan momen libur nasional.
“Jasa lainnya tumbuh 9,91 persen didorong oleh peningkatan jumlah perjalanan wisatawan nusantara dan kunjungan wisatawan mancanegara,” kata Amalia.
Selain itu, lanjut Amalia, transportasi dan pergudangan tumbuh 8,04 persen yang ditopang oleh peningkatan mobilitas masyarakat yang tecermin dari peningkatan jumlah penumpang pada semua moda transportasi.
Selanjutnya, sektor industri pengolahan tumbuh sebesar 5,04 persen yoy pada kuartal I 2026. Kinerja sektor ini terutama didorong oleh industri makanan dan minuman, industri barang logam, komputer, barang elektronik, optik dan peralatan listrik, serta industri kimia, farmasi, dan obat tradisional.
“Pertumbuhan sektor industri pengolahan utamanya ditopang oleh meningkatnya permintaan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri,” ujar Amalia.
Kemudian, sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor mampu tumbuh 6,26 persen yoy pada kuartal I 2026 seiring meningkatnya produksi domestik dan impor.
Baca juga: Danantara Dinilai jadi Kunci Sukses Hilirisasi Fase II, Ini Dampaknya ke Ekonomi
Pertumbuhan tersebut didongkrak oleh meningkatnya aktivitas produksi barang pertanian dan industri pengolahan, impor barang-barang konsumsi, barang modal dan bahan baku, serta aktivitas belanja masyarakat.
Sementara itu, sektor konstruksi mencatat pertumbuhan yang solid 5,49 persen yoy pada kuartal I 2026, didorong oleh peningkatan aktivitas konstruksi baik oleh pemerintah maupun swasta. Sedangkan sektor pertanian tumbuh stabil pada angka 4,97 persen yoy untuk kuartal I 2026. (*)
Editor: Galih Pratama


