Perbankan

Ekonomi RI Diprediksi Tumbuh 5,1 Persen di 2025, HSBC Beri Saran Ini

Jakarta – HSBC memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di level 5,1 persen pada 2025. Chief India and Indonesia Economist HSBC Global Research, Pranjul Bhandari menjelaskan bahwa proyeksi pertumbuhan 5,1 persen itu adalah proyeksi pertumbuhan ekonomi yang ideal dan cukup bagus bagi Indonesia. 

Di sisi lain, target pertumbuhan ekonomi pemerintah sebesar 8 persen setiap tahunnya dipandang cukup menantang. Pranjul menyarankan pemerintah Indonesia untuk fokus mencapai pertumbuhan ekonomi berkelanjutan secara stabil daripada mengejar angka pertumbuhan yang sangat besar.

Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, pemerintah Indonesia perlu melanjutkan dan menerapkan beberapa kebijakan yang dapat menopang perekonomian nasional. Kebijakan fiskal dan moneter, termasuk di dalamnya stimulus perlu terus diterapkan dan ditingkatkan lagi.

“Reformasi struktural juga sangat dibutuhkan,” ujar Pranjul secara virtual dalam acara “HSBC Media Briefing: Indonesia and Asia Outlook 2025” di Jakarta, Kamis, 9 Januari 2025.

Baca juga: HSBC Indonesia Garap Pembiayaan Rantai Pasok Berkelanjutan di Asia Tenggara

Selain itu, hal-hal yang mendukung sektor manufaktur seperti penguatan rantai nilai atau value chain, termasuk hilirisasi di dalamnya, harus terus digalakkan ke depannya. Bukan hanya untuk industri pertambangan, tapi pemerintah Indonesia disarankannya memperluas cakupan hilirisasi ke bidang lainnya, antara lain baterai electric vehicle (EV) dan komponen EV lainnya, furnitur, hingga mainan.

“Jadi, sangat perlu yang namanya diversifikasi hilirisasi dan penguatan rantai nilai manufaktur. Kedua hal ini sangat penting jika ingin mencapai pertumbuhan 8 persen ke depan,” tegasnya.

Menyoroti Program MBG

Lebih jauh, dirinya turut menyoroti program makan bergizi gratis (MBG) yang dicanangkan Presiden Prabowo. Menurutnya, berdasarkan pengalaman beberapa negara seperti India dan sejumlah negara Amerika Latin, program MBG bagi siswa sekolah dapat meningkatkan kapasitas dan kapabilitas lapangan kerja, yang pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Meskipun demikian, program MBG memerlukan biaya yang tak sedikit. MBG memerlukan sajian makanan bergizi dalam jumlah banyak. Ini di satu sisi bisa saja mendisrupsi stabilitas perekonomian domestik.

Baca juga: Kemenkeu Sebut Anggaran Rp71 T untuk MBG Tak Bebani APBN, Ini Penjelasannya

Ia kemudian menjelaskan bagaimana India mengimplementasikan kebijakan makan bergizi gratis. Pada awalnya, biaya makan bergizi gratis yang diimplementasi pemerintah India memakan biaya sangat besar.

Lalu program MBG itu dilakukan melalui skema hyper local, yakni makanan yang ada diproduksi oleh pemerintah daerah untuk siswa di daerah.

Metode itu, diterangkannya, bisa menekan biaya produksi makan bergizi gratis dalam jumlah besar, serta meningkatkan jumlah kehadiran siswa di sekolah dan kapasitas pendidikan.

“Saya kira bila dilakukan dengan benar, itu (makan bergizi gratis) bisa sangat positif dalam jangka menengah untuk pertumbuhan ekonomi,” ucapnya.

Proyek IKN

Sedangkan terkait proyek Ibu Kota Nusantara (IKN), ia melihat bila komposisi pendanaan 20 persen dari pemerintah dan sisanya dari pihak swasta sudah tepat.

Oleh karenanya, pendanaan untuk menyelesaikan pembangunan proyek IKN harus secara konsisten dilakukan sesuai skema komposisi pembiayaan tersebut. (*) Steven Widjaja

Yulian Saputra

Berpengalaman lebih dari 10 tahun di industri media. Saat ini bertugas sebagai editor di infobanknews.com. Sebelumnya, ia menulis berbagai isu, mulai dari politik, hukum, ekonomi, hingga olahraga.

Recent Posts

CIMB Niaga Raih Penghargaan Most Trusted Financial Brand Awards 2026

Pada ajang tersebut, CIMB Niaga meraih tiga penghargaan, masing-masing pada kategori Produk Wealth Management untuk… Read More

15 mins ago

Konsistensi Fundamental, Tugu Insurance Catat Laba Rp711 Miliar di 2025

Poin Penting Tugu Insurance mencatat laba Rp711,06 miliar di 2025, meningkat dari Rp401,57 miliar (restated).… Read More

4 hours ago

Melonjak 96 Persen, Transaksi di ICDX Tembus Rp12.477 T pada Kuartal I 2026

Poin Penting Notional value transaksi ICDX mencapai Rp12.477 triliun pada kuartal I 2026, melonjak 96%… Read More

9 hours ago

OJK Buka Daftar Saham yang Dikuasai Segelintir Pihak ke Publik

Poin Penting OJK mulai membuka informasi saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (high shareholding concentration) di… Read More

9 hours ago

AAUI Beberkan Kendala Asuransi Umum Penuhi Kebutuhan Modal

Poin Penting AAUI menyebut industri kesulitan memenuhi modal minimum tahap I 2026. Minat pemegang saham… Read More

9 hours ago

KB Bank (BBKP) Balik Laba Rp66,59 Miliar di 2025, Ini Penopangnya

Poin Penting KB Bank balik laba Rp66,59 miliar di 2025 dari rugi Rp6,33 triliun pada… Read More

20 hours ago