Pertumbuhan Ekonomi Digital Bisa Berontribusi USD150 Juta ke PDB
Jakarta– Chief Economist CIMB Niaga Adrian Panggabean memprediksi ekonomi nasional dalam enam bulan ke depan masih dibayangi oleh ketidakpastian. Dirinya memprediksi angka pertumbuhan ekonomi hingga kuartal ketiga akan lebih rendah dari kuartal I-2019.
Menurut Adrian, kondisi perekonomian nasional dalam enam bulan ke depan masih akan terus diwarnai volatilitas di pasar finansial. Volatilitas terjadi karena cenderung liar-nya pergerakan pasar global di tengah masih rentannya struktur pembiayaan pembangunan di dalam negeri. Pada saat yang sama, investasi juga diprediksi akan menurun, sehingga pertumbuhan ekonomi akan lebih rendah dari kuartal I/2019 menjadi 5%.
“Kami memprediksi pertumbuhan ekonomi di tahun 2019 secara keseluruhan hanya akan berada di kisaran 5%. Belanja konsumsi rumah tangga yang cenderung stabil dan belanja rutin pemerintah yang naik cukup besar kami perkirakan sebagai pendorong utama pertumbuhan ekonomi, tapi faktor eksternal akan menjadi rem pertumbuhan,” kata Adrian melalui keterangan resminya di Jakarta, Selasa 21 Mei 2019.
Dengan kondisi perekonomian yang masih cukup menantang tersebut, lanjut Adrian, pemerintah perlu mengambil kebijakan-kebijakan ekonomi yang agresif dan struktural agar pertumbuhan ekonomi terus meningkat.
Dirinya mengapresiasi langkah pemerintah lima tahun terakhir yang telah melakukan upgrade dalam aspek hardware dari infrastruktur seperti membangun jalan tol, jembatan, fasilitas irigasi, bandara, pelabuhan, jaringan layanan kereta, layanan sosial, serta komunikasi. Sehingga akses, konektivitas, dan mobilitas barang dan penduduk berpotensi menjadi lebih tinggi.
“Setelah lima tahun terakhir pemerintah berfokus pada upaya penyediaan infrastructure hardware, maka saat ini pasar dan pelaku bisnis berharap akan diluncurkannya upgrade dalam infrastructure software di lima tahun berikutnya. Khususnya pada tiga sasaran yang menjadi katalis terpenting dalam proses pembangunan, yaitu perbaikan iklim usaha, mobilisasi tabungan dalam negeri, dan re-industrialisasi sektor manufaktur Indonesia,” ujar Adrian.
Dirinya menilai, pelaku ekonomi kedepan berharap adanya perbaikan agresif dan signifikan dalam aspek kepastian hukum sebagai dasar bagi terciptanya kontrak bisnis yang pasti dan transparan, hadirnya sektor industri manufaktur yang kuat, serta amandemen dan harmonisasi dari sejumlah Undang-Undang dan semua regulasi terkait mobilisasi pembiayaan pembangunan yang selama ini menjadi kendala pertumbuhan ekonomi.
Sebagai informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya telah merilis data pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2019 hanya mencapai 5,07 persen, naik tipis dibanding kuartal I 2018 sebesar 5,06 persen. Pertumbuhan ekonomi terutama didorong oleh belanja pemerintah. (REZ)
Poin Penting Askrindo menjalin kerja sama dengan Pemkab Bone untuk penjaminan suretyship dan asuransi umum… Read More
Poin Penting BRI Life dan RS Awal Bros Group meresmikan fasilitas rawat inap premium The… Read More
Poin Penting Jamkrindo membukukan laba sebelum pajak Rp1,28 triliun dan laba bersih Rp1,05 triliun di… Read More
Poin Penting Status Indonesia tetap di kategori Secondary Emerging Market versi FTSE Russell dan tidak… Read More
Poin Penting Ancaman siber di Indonesia meningkat tajam pada 2025, dengan jutaan serangan berhasil diblokir… Read More
Poin Penting Rupiah dibuka melemah ke Rp17.035 per dolar AS, tertekan penguatan dolar AS. Sentimen… Read More