Moneter dan Fiskal

Ekonomi Membaik, Pemerintah Tetap Waspadai Ketidakpastian Global

Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Indonesia berhasil tumbuh 5,01% pada tiga bulan pertama di 2022. Angka ini jauh membaik jika dibandingkan tahun sebelumnya yang terkontraksi -0,70%.

Melihat hal ini, Kepala Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu mengatakan, pertumbuhan pada Triwulan I 2022 menjadi bekal bagi Indonesia untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi global. Menurutnya, saat ini masih ada beberapa risiko seperti pandemi dan peningkatan gejolak perekonomian global perlu terus diwaspadai dan diantisipasi.

Misalnya saja, konflik Rusia-Ukraina yang masih berlangsung, terus menambah tekanan kepada harga komoditas global. Sementara tingkat inflasi yang tinggi di mayoritas negara di dunia, termasuk Amerika Serikat, menambah ketidakpastian arah kebijakan moneter bank sentral utama dunia, khususnya The Fed.

“Dalam mengantisipasi dinamika ke depan, APBN terus didorong sebagai shock absorber untuk tetap menjaga pemulihan ekonomi agar tetap berlanjut dan semakin menguat, menjaga penangan kesehatan dan melindungi daya beli masyarakat miskin dan rentan, dan menjaga agar pengelolaan fiskal lebih sehat dan berkelanjutan dalam jangka menengah,” ujar Febrio pada keterangannya, di Jakarta.

Adapun dalam mengantisipasi lonjakan harga yang tajam, Tim Pengendalian Inflasi Pusat menempuh berbagai upaya agar inflasi pada kisaran sasaran dengan tetap berfokus pada pemulihan ekonomi nasional. Mitigasi risiko terus dilakukan untuk mengantisipasi dampak rambatan akibat kenaikan harga komoditas global.

Hingga April 2022, tingkat inflasi tercatat mencapai 0,95%. Hal ini seiring dengan meningkatnya harga komoditas global yang masih tinggi dan menguatnya permintaan di masa periode puasa dan Lebaran. Febrio mengungkapkan, penguatan stabilitas laju pemulihan ekonomi merupakan prioritas pemerintah di tahun 2022.

Adapun pemerintah telah melakukan upaya-upaya untuk menjaga stabilitas harga. Misalnya dengan pemberian insentif selisih harga Migor curah dan kemasan sederhana, pemberian BLT pangan untuk 20,65 juta KPM (penerima kartu sembako dan PKH) dan 2,5 juta PKL makanan, menjaga pasokan batu bara dalam negeri dengan pemberlakukan denda dan kompensasi.

Pemerintah juga melarang ekspor CPO untuk menjaga kebutuhan dalam negeri dengan harga terjangkau, menjaga stabilitas harga kedelai, jagung dapat memanfaatkan cadangan stabilitas harga pangan (CSHP), serta menjaga agar program PEN tetap fleksibel. (*)

 

Editor: Rezkiana Nisaputra

Evan Yulian

Recent Posts

Transaksi MADINA Bank Muamalat Tembus Rp. 48 triliun pada akhir 2025.

Bank Muamalat Indonesia mencatat kinerja yang solid untuk layanan cash management system bernama Muamalat Digital… Read More

1 hour ago

Sejak 1976, BTN Salurkan KPR Rp530 Triliun untuk 6 Juta Rumah

Poin Penting BTN telah menyalurkan 6 juta unit KPR sejak 1976 hingga April 2026 dengan… Read More

2 hours ago

ALTO Luncurkan ASKARA Connect dan Collab, Perkuat Pengelolaan Transaksi Digital

Poin Penting ALTO luncurkan ASKARA Connect dan ASKARA Collab untuk mengintegrasikan pemantauan, pengelolaan, dan analisis… Read More

2 hours ago

BTN Targetkan Penyaluran KPR Capai 400 Ribu Unit per Tahun

Poin Penting optimistis pertumbuhan KPR tetap positif dalam 3–5 tahun ke depan, dengan target peningkatan… Read More

2 hours ago

ALTO Network Proses 30 Juta Transaksi Harian, QRIS jadi Kontributor Terbesar

Poin Penting ALTO Network memproses ~30 juta transaksi per hari hingga Maret 2026, dengan kontribusi… Read More

3 hours ago

RUPST OCBC Sepakat Tebar Dividen Rp1,03 Triliun dan Buyback 438 Ribu Saham

Poin Penting RUPST OCBC sepakat untuk membagikan dividen tunai Rp1,03 triliun atau Rp45 per saham… Read More

5 hours ago