Ekonomi dan Bisnis

Ekonomi Indonesia Dinilai Tangguh Menghadapi Tantangan dan Gejolak

JakartaPerekonomian Indonesia dinilai Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Teguh Dartanto memiliki resiliensi dalam menghadapi berbagai tantangan dan gejolak risiko yang meningkat. Dia mengungkapkan, tantangan-tantangan ekonomi yang harus diwaspadai pemerintah. Pertama, kenaikan inflasi yang tinggi secara global di mana salah satunya terdorong oleh konflik geopolitik antara Rusia-Ukraina atau China-Taiwan, sehingga dapat mengakibatkan volatilitas di harga pangan dan energi.

Terutama inflasi di Amerika Serikat (AS) dan di Eropa, kata dia, pasti akan dibarengi dengan kebijakan moneter yang ketat dengan manaikkan suku bunga oleh bank sentral di masing-masing negara. Teguh menyebut, baru dalam sejarah AS inflasi sangat tinggi yakni menjejak 9%. Inflasi tinggi ini akan dibarengi dengan pengetatan likuiditas melalui kenaikan suku bunga di AS untuk meredam inflasi, yang pada akhirnya akan diikuti oleh negara-negara lain termasuk Indonesia untuk menaikkan suku bunga.

Mengacu data Badan Pusat Statistik (BPS), laju inflasi September 2022 sebesar 1,17%. Adapun secara tahunan pada September lalu inflasi Indonesia mencapai 5,95% secara year on year (yoy). Sementara pada Agustus lalu, inflasi tahunan Indonesia sebesar 4,69% secara yoy. Di kawasan Asia Tenggara persentase inflasi Indonesia tersebut urutan ke-4 terendah. Vietnam 2,89% yoy pada Agustus 2022, Brunei Darussalam 3,8% yoy pada Mei 2022, dan Malaysia 4,4% yoy pada Juli 2022.

Adapun negara dengan inflasi tertinggi di kawasan Asia Tenggara adalah Laos 30,1% yoy pada Agustus 2022. Kemudian Myanmar 17,78% yoy pada Mei 2022, dan Thailand 7,86% yoy pada Agustus 2022. Lalu Kamboja 7,8% yoy pada Agustus 2022, Singapura 7% yoy pada Juli 2022, serta Filipina 6,3% (yoy) pada Agustus 2022.

Tantangan berikutnya adalah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), yang menurut Teguh, bukan lagi pilihan tetapi memang sudah harus dilakukan. Di sisi lain dalam menghadapi tantangan-tantangan ekonomi tersebut, Teguh mengapresiasi langkah mitigasi yang dilakukan oleh pemerintah sehingga akan membuat perekonomian dalam negeri dapat meminimalkan dampak negatif dari kenaikan harga BBM bulan September 2022.

“Saya catat tadi bagaimana bantuan-bantuan bantalan sosial yang assistance, ada bantuan upah dan juga yang menarik adalah pengendalian inflasinya tidak hanya di level pusat, tapi juga partisipasi daerah. Dengan mitigasi terutama menjamin ketersediaan bahan pokok yang dilakukan bersama-sama dengan pemerintah daerah, ini saya rasa memberikan harapan akan resiliensi perekonomian Indonesia. Artinya inflasi pasti akan meningkat pascakenaikan harga BBM, tetapi yang penting yang perlu dijaga adalah ketersediaan dan keterjangkauan bahan pokoknya nanti,” ujarnya menekankan.

Di sisi lain Teguh pun memberikan masukan atas bantuan yang dikucurkan pemerintah. “Di dalam proses bantuan itu harus ada 3 hal yang harus kita pikirkan. Tepat waktu, harus disampaikan secepatnya agar daya belinya bisa langsung ter-recover karena ada kenaikan. Tepat jumlah, kalau seberapa besar dan seberapa lama bantuan sosial diberikan mungkin menjadi perdebatan, tetapi pemerintah harus memastikan bahwa bantuan yang diberikan minimal cukup mengembalikan kesejahteraan sebelum adanya kenaikan BBM. Tepat sasaran yang menurut saya perlu perdebatan panjang, artinya memang database yang kita miliki tidak sebagus yang kita bayangkan,” ungkapnya.

Di sisi lain di level daerah peranan pemerintah desa sangat penting dalam menopang perekonomian domestic melalui dana desa. Menurutnya desa adalah salah satu penggerak ekonomi nasional. Berdasar riset yang dilakukan pihaknya, di masa pandemi dana desa berperan penting sebagai bumper perekonomian desa sehingga bisa cepat pulih.

Dia pun memproyeksikan bahwa dampak yang paling berat terjadi pada September dan Oktober 2022. Setelah itu masyarakat akan bisa beradaptasi dan juga pelan-pelan menyesuaikan diri. Oleh karena itu, Teguh masih optimistis perekonomian sepanjang tahun ini masih bertumbuh di kisaran 5,2%-5,4%. Pemerintah harus fokus memperkuat pasar domestik atau mendorong konsumsi domestik, penguatan sektor UMKM dengan perluasan pasar (go digital), dan memacu sektor pariwisata lebih kencang baik bagi wisatawan domestik maupun asing sehingga perekonomian domestik dapat terus bergerak dan target pertumbuhan ekonomi dapat tercapai.

Apriyani

Recent Posts

Askrindo dan Pemkab Bone Bersinergi Perkuat Pelindungan Risiko dari Aset hingga Usaha Mikro

Poin Penting Askrindo menjalin kerja sama dengan Pemkab Bone untuk penjaminan suretyship dan asuransi umum… Read More

3 mins ago

Hadirkan Fasilitas Kesehatan Premium, BRI Life dan RS Awal Bros Jalin Kolaborasi Strategis

Poin Penting BRI Life dan RS Awal Bros Group meresmikan fasilitas rawat inap premium The… Read More

23 mins ago

Jamkrindo Bukukan Laba Bersih Rp1,05 Triliun pada 2025

Poin Penting Jamkrindo membukukan laba sebelum pajak Rp1,28 triliun dan laba bersih Rp1,05 triliun di… Read More

58 mins ago

FTSE Russell Pertahankan Status Pasar Modal RI, Begini Respons OJK

Poin Penting Status Indonesia tetap di kategori Secondary Emerging Market versi FTSE Russell dan tidak… Read More

1 hour ago

Kaspersky Catat Pertumbuhan Positif 2025, Target Double Digit di 2026

Poin Penting Ancaman siber di Indonesia meningkat tajam pada 2025, dengan jutaan serangan berhasil diblokir… Read More

1 hour ago

Rupiah Dibuka Melemah, Pelaku Pasar Ragu Gencatan Senjata AS-Iran Bertahan

Poin Penting Rupiah dibuka melemah ke Rp17.035 per dolar AS, tertekan penguatan dolar AS. Sentimen… Read More

2 hours ago