Wakil Ketua Komite Tetap (Komtap) II Kajian Ekonomi Global Strategis Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Josua Pardede dalam Growth Summit 2025 yang digelar Moengage dan Infobank Digital di Grand Ballroom Hotel Kempinski, Jakarta, Kamis, 7 Agustus 2025. (Foto: Zaenal Abdurrani)
Jakarta – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia memproyeksikan ekonomi digital akan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi domestik sebesar 5 persen pada 2030.
Wakil Ketua Komite Tetap (Komtap) II Kajian Ekonomi Global Strategis Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Josua Pardede menyebut pertumbuhan ekonomi digital diproyeksikan bakal terus terakselerasi dan berlangsung secara eksponensial hingga 2030.
“Kami tetap melihat bahwa kontribusi dari ekonomi digital ini akan melampaui 5 persen terhadap GDP (produk domestik bruto/PDB–red) mendekati ataupun menuju 2030,” ujar Josua dalam Growth Summit 2025 yang digelar Moengage dan Infobank Digital, di Grand Ballroom Hotel Kempinski, Jakarta, Kamis, 7 Agustus 2025.
Baca juga: Ekonom Kadin Wanti-Wanti RI Dibanjiri Produk China Imbas Tarif Trump
Josua menilai e-commerce akan menjasi sektor utama pendorong ekonomi digital di Tanah Air. Tercatat, pada 2024 saja, transaksi e-commerce berada di sekitar USD65 miliar.
“Ini artinya sekitar 70 persen dari ekonomi digital. Dan kalau kita lihat juga misalkan pertumbuhan dari uang elektronik, transaksi uang elektronik itu compare, misalkan transaksi kartu kredit ataupun dengan debit itu sudah kalah. Kalau pertumbuhannya masih double digit bahkan waktu di awal-awal uang elektronik itu bertumbuhannya triple digit,” terangnya.
Selain itu, langkah dan program prioritas pemerintah melalui Danantara, yang berencana mendorong investasi di pusat data (data center), juga menjadi faktor pendorong ekonomi digital.
Josua mengatakan pusat data akan menjadi salah satu sektor yang cukup menarik untuk menyalurkan pembiayaan pada masa depan. Hal ini seiring dengan semakin banyaknya pengembangan data center di Indonesia, seperti di Jakarta, Surabaya, dan Batam, Kepulauan Riau.
“Itu banyak sekali pengembangan data center di sana dan ini saya pikir berkaitan tadi dengan infrastruktur. Karena tanpa adanya e-commerce yang ada infrastrukturnya pun juga harus kita tingkatkan pembangunan infrastruktur. Palapa Ring, peruasan jaringan, dan juga tadi pembangunan data center. Dan lebih terpenting lagi adalah literasi dan juga SDM digitalnya,” ungkap Ekonom Kadin yang juga Kepala Ekonom Bank Permata.
Baca juga: Jurus Permata Bank Genjot Transaksi Kartu Kredit di Tengah Suku Bunga BI Turun
Josua menilai infrastruktur digital merupakan hal terpenting untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi digital. Dengan demikian, ekonomi digital Indonesia diharapkan akan tetap menjadi salah satu yang terbesar di ASEAN.
“Harapannya nanti ke depannya pun digital ekonomi Indonesia akan tetap menjadi the biggest digital economy in ASEAN. Jadi equals dengan conventional economy saat ini Indonesia kan juga the largest in ASEAN 40 persenaccounts of total economy ASEAN. Jadi sama halnya pun juga digital economy Indonesia akan berkontribusi sekitar 40 persen dari digital economy di ASEAN,” bebernya. (*)
Editor: Yulian Saputra
Poin Penting WBSA siap melantai di BEI dengan melepas 1,8 miliar saham (20,75 persen) di… Read More
Poin Penting Total zakat BSI mencapai Rp1,07 triliun dalam periode 2021 hingga 2025 dengan tren… Read More
Poin Penting Bank Sinarmas meluncurkan Simas Share dengan konsep menabung sekaligus berdonasi dari bunga tabungan… Read More
Poin Penting Alfamart menghadirkan inovasi micro cinema pertama di gerai Gading Serpong bekerja sama dengan… Read More
Poin Penting BTN mendominasi pasar KPR subsidi dengan pangsa 72 persen hingga Maret 2026, jauh… Read More
Poin Penting Prabowo Subianto bertemu Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung untuk mempererat hubungan bilateral… Read More