News Update

Ekonomi RI Tumbuh 5,11 Persen, Celios: Dari Mana Sumber Pertumbuhannya?

Poin Penting

  • Celios pertanyakan pertumbuhan PDB 5,11 persen dipertanyakan, pasalnya konsumsi rumah tangga & PMTB tak melebihi angka tersebut.
  • Net ekspor & PMTB inkonsisten – Pertumbuhan PMTB ditopang impor mesin, kontribusi net ekspor kecil.
  • Pajak kontradiktif – Penerimaan PPN & PPnBM turun meski ekonomi diklaim meningkat.

Jakarta – Center of Economic and Law Studies (Celios) menyoroti sejumlah kejanggalan dalam capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2025 yang tercatat sebesar 5,11 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), dengan pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2025 mencapai 5,39 persen yoy.

Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda mengatakan, terdapat inkonsistensi antara sumber pertumbuhan ekonomi dengan struktur kontribusi komponen produk domestik bruto (PDB). 

Ia menilai, secara kumulatif sepanjang 2025, pertumbuhan konsumsi rumah tangga dan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tidak melampaui angka 5,11 persen, padahal kedua komponen tersebut menyumbang 82,65 persen terhadap struktur PDB nasional.

“Lantas, sumber pertumbuhan yang membuat jadi 5,11 persen dari mana?” ujar Huda dalam keterangannya di Jakarta, 6 Februari 2026.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor dengan pertumbuhan tertinggi pada 2025 adalah ekspor yang tumbuh 7,03 persen yoy. 

Baca juga: Empat Petinggi OJK Mundur, CELIOS Waspadai Guncangan Ekonomi RI

Namun demikian, Huda mengingatkan bahwa ekspor tidak berdiri sendiri karena selalu diikuti oleh impor sebagai bagian dari perdagangan internasional.

Ia menilai kontribusi net ekspor terhadap PDB relatif kecil, yakni hanya sekitar 8,47 persen, sehingga sulit dipahami apabila komponen tersebut menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi nasional.

Lanjutnya, sorotan lain diarahkan pada PMTB yang disebut mengalami lonjakan akibat peningkatan impor mesin dan perlengkapan. 

Data menunjukkan pertumbuhan subkomponen mesin dan perlengkapan dalam PMTB mencapai 17,99 persen. Di sisi lain, net ekspor juga diklaim menjadi sumber pertumbuhan ekonomi sebesar 0,74 persen.

“Net ekspor diklaim menjadi pendongkrak pertumbuhan ekonomi dengan menjadi sumber pertumbuhan sebesar 0,74 persen. Jadi kita tempatkan di mana impor mesin tersebut?,” jelasnya.

Ia menilai kejanggalan data tersebut semakin kontras jika dibandingkan dengan kondisi penerimaan perpajakan. 

Sepanjang 2025, penerimaan pajak justru mengalami kontraksi cukup dalam, terutama pajak yang berkaitan langsung dengan konsumsi seperti Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM).

Baca juga: Celios Nilai Pasar Karbon Tak Efektif dan Problematis, Ini Penyebabnya

“Sewajarnya, ketika ekonomi baik, penerimaan pajak juga membaik. Alhasil, angka yang kontradiktif ini menjadi pertanyaan,” tegasnya.

Dari sisi triwulanan, konsumsi rumah tangga pada kuartal IV 2025 tercatat tumbuh 5,11 persen yoy, sejalan dengan tren musiman akhir tahun serta meningkatnya Indeks Keyakinan Konsumen. 

Namun Huda mencatat, pada periode sebelumnya konsumsi rumah tangga pernah tumbuh lebih tinggi dari angka tersebut, tetapi pertumbuhan ekonomi tidak mencapai 5,39 persen.

Ia menilai PMTB kembali menjadi faktor pengungkit utama dengan pertumbuhan sekitar 6 persen, yang ditopang oleh subkomponen bangunan serta mesin dan perlengkapan. Sekali lagi, impor mesin dinilai menjadi faktor dominan.

“Pertanyaan saya bagi BPS: Impor mesin dan perlengkapan apakah masuk ke PMTB atau Impor atau keduanya?,” tukasnya.

Lebih jauh, Huda juga mempertanyakan keterkaitan angka PDB dengan perhitungan rasio defisit fiskal. Dengan defisit anggaran sebesar Rp695,1 triliun dan rasio defisit terhadap PDB sebesar 2,92 persen, maka dibutuhkan PDB atas dasar harga berlaku sekitar Rp23.804 triliun, angka yang dinilai mendekati rilis resmi BPS.

“Angkanya hampir serupa dengan apa yang diumumkan oleh BPS. Apakah ada pesanan khusus dari Kementerian Keuangan?,” tandasnya. (*)

Editor: Galih Pratama

Muhamad Ibrahim

Berpengalaman sebagai jurnalis sejak 2014. Saat ini bertugas menulis tentang isu nasional, internasional, ekonomi, perbankan, industri keuangan non-bank (IKNB), hingga Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Recent Posts

Tandatangani Kerja Sama, Pemkab Serang Resmi Pindahkan RKUD ke Bank Banten

Poin Penting Pemkab Serang resmi memindahkan RKUD ke Bank Banten, ditandai penandatanganan PKS pada 9… Read More

5 hours ago

Transaksi MADINA Bank Muamalat Tembus Rp. 48 triliun pada akhir 2025.

Bank Muamalat Indonesia mencatat kinerja yang solid untuk layanan cash management system bernama Muamalat Digital… Read More

7 hours ago

BTN Salurkan KUR Rp2,72 Triliun hingga Maret 2026, Perkuat Beyond Mortgage

Poin Penting BTN telah menyalurkan KUR Rp2,72 triliun hingga Maret 2026, didominasi KUR kecil (75%)… Read More

7 hours ago

Sejak 1976, BTN Salurkan KPR Rp530 Triliun untuk 6 Juta Rumah

Poin Penting BTN telah menyalurkan 6 juta unit KPR sejak 1976 hingga April 2026 dengan… Read More

7 hours ago

ALTO Luncurkan ASKARA Connect dan Collab, Perkuat Pengelolaan Transaksi Digital

Poin Penting ALTO luncurkan ASKARA Connect dan ASKARA Collab untuk mengintegrasikan pemantauan, pengelolaan, dan analisis… Read More

7 hours ago

BTN Targetkan Penyaluran KPR Capai 400 Ribu Unit per Tahun

Poin Penting optimistis pertumbuhan KPR tetap positif dalam 3–5 tahun ke depan, dengan target peningkatan… Read More

8 hours ago