Ilustrasi: Pertumbuhan ekonomi Indonesia. (Foto: isitmewa)
Poin Penting
Jakarta – Center of Economic and Law Studies (Celios) menyoroti sejumlah kejanggalan dalam capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2025 yang tercatat sebesar 5,11 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), dengan pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2025 mencapai 5,39 persen yoy.
Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda mengatakan, terdapat inkonsistensi antara sumber pertumbuhan ekonomi dengan struktur kontribusi komponen produk domestik bruto (PDB).
Ia menilai, secara kumulatif sepanjang 2025, pertumbuhan konsumsi rumah tangga dan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tidak melampaui angka 5,11 persen, padahal kedua komponen tersebut menyumbang 82,65 persen terhadap struktur PDB nasional.
“Lantas, sumber pertumbuhan yang membuat jadi 5,11 persen dari mana?” ujar Huda dalam keterangannya di Jakarta, 6 Februari 2026.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor dengan pertumbuhan tertinggi pada 2025 adalah ekspor yang tumbuh 7,03 persen yoy.
Baca juga: Empat Petinggi OJK Mundur, CELIOS Waspadai Guncangan Ekonomi RI
Namun demikian, Huda mengingatkan bahwa ekspor tidak berdiri sendiri karena selalu diikuti oleh impor sebagai bagian dari perdagangan internasional.
Ia menilai kontribusi net ekspor terhadap PDB relatif kecil, yakni hanya sekitar 8,47 persen, sehingga sulit dipahami apabila komponen tersebut menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Lanjutnya, sorotan lain diarahkan pada PMTB yang disebut mengalami lonjakan akibat peningkatan impor mesin dan perlengkapan.
Data menunjukkan pertumbuhan subkomponen mesin dan perlengkapan dalam PMTB mencapai 17,99 persen. Di sisi lain, net ekspor juga diklaim menjadi sumber pertumbuhan ekonomi sebesar 0,74 persen.
“Net ekspor diklaim menjadi pendongkrak pertumbuhan ekonomi dengan menjadi sumber pertumbuhan sebesar 0,74 persen. Jadi kita tempatkan di mana impor mesin tersebut?,” jelasnya.
Ia menilai kejanggalan data tersebut semakin kontras jika dibandingkan dengan kondisi penerimaan perpajakan.
Sepanjang 2025, penerimaan pajak justru mengalami kontraksi cukup dalam, terutama pajak yang berkaitan langsung dengan konsumsi seperti Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM).
Baca juga: Celios Nilai Pasar Karbon Tak Efektif dan Problematis, Ini Penyebabnya
“Sewajarnya, ketika ekonomi baik, penerimaan pajak juga membaik. Alhasil, angka yang kontradiktif ini menjadi pertanyaan,” tegasnya.
Dari sisi triwulanan, konsumsi rumah tangga pada kuartal IV 2025 tercatat tumbuh 5,11 persen yoy, sejalan dengan tren musiman akhir tahun serta meningkatnya Indeks Keyakinan Konsumen.
Namun Huda mencatat, pada periode sebelumnya konsumsi rumah tangga pernah tumbuh lebih tinggi dari angka tersebut, tetapi pertumbuhan ekonomi tidak mencapai 5,39 persen.
Ia menilai PMTB kembali menjadi faktor pengungkit utama dengan pertumbuhan sekitar 6 persen, yang ditopang oleh subkomponen bangunan serta mesin dan perlengkapan. Sekali lagi, impor mesin dinilai menjadi faktor dominan.
“Pertanyaan saya bagi BPS: Impor mesin dan perlengkapan apakah masuk ke PMTB atau Impor atau keduanya?,” tukasnya.
Lebih jauh, Huda juga mempertanyakan keterkaitan angka PDB dengan perhitungan rasio defisit fiskal. Dengan defisit anggaran sebesar Rp695,1 triliun dan rasio defisit terhadap PDB sebesar 2,92 persen, maka dibutuhkan PDB atas dasar harga berlaku sekitar Rp23.804 triliun, angka yang dinilai mendekati rilis resmi BPS.
“Angkanya hampir serupa dengan apa yang diumumkan oleh BPS. Apakah ada pesanan khusus dari Kementerian Keuangan?,” tandasnya. (*)
Editor: Galih Pratama
Poin Penting BI menilai penurunan outlook Moody’s tidak mencerminkan pelemahan ekonomi domestik. Stabilitas sistem keuangan… Read More
Poin Penting PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) menegaskan tidak memiliki keterlibatan, baik langsung maupun… Read More
Poin Penting Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melantik 40 pejabat eselon II di DJP dan… Read More
Poin Penting BCA Digital raih laba Rp213,4 miliar, ditopang DPK Rp14,3 triliun (+22%) dan kredit… Read More
Poin Penting Pertumbuhan kredit perbankan diproyeksikan 10–12 persen, lebih tinggi dari target 2025 sebesar 9–11… Read More
Poin Penting ACA membukukan premi Rp6 triliun sepanjang 2025, tumbuh 17 persen yoy, jauh di… Read More