Categories: Analisis

Ekonom Senior Ini Minta Para Bankir Waspadai Era Suku Bunga Tinggi

Jakarta – Kondisi ekonomi Indonesia tumbuh cukup baik didorong oleh permintaan domestik yang tinggi. Namun demikian, para bankir tetap harus waspada karena beban bunga yang semakin tinggi di tengah tren kenaikan suku bunga.

Ekonom Senior Raden Pardede mengatakan, tren suku bunga akan memasuki new normal interest rate. Salah satu yang perlu diwaspadai adalah cost bunga yang semakin tinggi. Apalagi, bank sentral AS (The Fed) diperkirakan akan kembali menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin menjadi 3,75% – 4%.

Dengan tren kenaikan yang demikian, ia memperkirakan, suku bunga The Fed tidak akan turun kembali di bawah 1% dalam 3 sampai 4 tahun ke depan. kenaikan suku bunga the fed turut mengerek naiknya suku bunga BI yang diperkirakan tidak akan kembali ke kisaran 3,5% dalam tiga tahun ke depan.

“Saya ingatkan tadi adalah bahwa ketegangan yang diakibatkan oleh kenaikan suku bunga ini bisa berakibat ke sektor lain dulu tidak langsung ke banknya kena yang kemudian Kemudian dia akan menular ke bank,” ungkapnya dalam Infobank Top 100 CEO and The Next Leaders Forum 2022 bertajuk The Secret of Effective Leadership on Crisis yang digelar Infobank di Jakarta, 23 November 2022.

Seperti diketahui, Bank Indonesia pada 16-17 November 2022 memutuskan untuk menaikkan BI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 50 bps menjadi 5,25%. Kebijakan ini untuk merespon the fed yang kembali menaikkan suku bunga acuannya sebesar 75 basis poin menjadi 3,75% – 4% beberapa hari sebelumnya.

“Jadi ongkos bunga dan kredit akan naik ke level yang lebih tinggi. Tidak sama lagi seperti yang sebelumnya,” tambahnya.

Selain ongkos kredit yang semakin mahal, potensi penularan resesi global dan ketegangan di sistem keuangan terutama akibat dari likuiditas dolar as yang mengering juga menjadi hal yang perlu diwaspadai.

Kemudian penurunan permintaan luar negeri terutama industri manufaktur padat karya dan ketidakpastian kebijakan pada tahun pemilu juga menjadi tantangan.

“Salah satu pertanyaan yang sulit dijawab adalah pembuatan kebijakan pada tahun pemilu. Tapi Berdasarkan pengalaman di tahun 2004 pengalaman pergantian pemerintah dari SBY ke Jokowi yang smooth, di 2024 juga saya pikir akan baik-baik saja,” tutupnya. (*) Dicky F

Rezkiana Nisaputra

Recent Posts

Gebyar Ramadan Keuangan (GERAK) Syariah 2026 menghimpun dana sebesar Rp 6,83 triliun

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pelaksanaan Gebyar Ramadan Keuangan Syariah (GERAK Syariah) 2026 berhasil menghimpun… Read More

6 hours ago

Catat! Ini Jadwal Pembagian Dividen WOM Finance

Poin Penting WOM Finance menetapkan pembagian dividen tunai maksimal 30 persen dari laba bersih 2025,… Read More

12 hours ago

Free Float 15 Persen Mulai Berlaku, Banyak Emiten yang Terancam Delisting?

Poin Penting BEI dan Kustodian Sentral Efek Indonesia resmi mengumumkan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi… Read More

12 hours ago

DPR Minta Bank Sumut Tingkatkan Penyaluran Kredit UMKM

Poin Penting DPR menyoroti perlunya kebijakan kredit yang lebih berpihak pada masyarakat, terutama pelaku UMKM… Read More

13 hours ago

Ketidakpastian Hukum di Sektor Keuangan: Ketika Risiko Dikriminalisasi dan Harga Dianggap Kartel

Oleh Anto Prabowo, Dosen FEB UNS Solo DI tengah dinamika kebijakan ekonomi nasional, munculnya dua… Read More

23 hours ago

Cetak SDM Unggul, BSN Gandeng Universitas Terbuka

Dalam program tersebut, BSN memberikan dukungan pembiayaan pendidikan bagi pegawai aktif yang memenuhi kriteria, baik… Read More

24 hours ago