Moneter dan Fiskal

Ekonom Sebut Kapasitas Optimal Pertumbuhan Ekonomi RI Sedikit Diatas 5 Persen

Jakarta – Ekonom Senior dan Associate Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Ryan Kiryanto mengatakan, sesuai dengan perkiraan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia di triwulan II 2023 sebesar 5,1 persen secara tahunan (yoy) atau tepatnya di level 5,17 persen yoy dan 3,86 persen secara kuartal ke kuartal (qtq)

“Terpantau pertumbuhan PDB tahunan sejak triwulan IV 2021 hingga triwulan II 2023 secara rata-rata sedikit di atas 5 persen. Ini menunjukkan kapasitas optimal pertumbuhan ekonomi Indonesia berkisar sedikit di atas 5 persen yoy,” kata Ryan dalam keterangannya, Senin 7 Agustus 2023.

Pertumbuhan ekonomi di triwulan II 2023 sebesar 5,17 persen, utamanya ditopang oleh pertumbuhan pengeluaran konsumsi rumah tangga sebesar 5,23 persen atau setara dengan 53,31 persen dari total PDB nasional.

Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi Tumbuh 5,17 Persen, IHSG Terbang ke Level 6.886

Selain itu, dukungan pembentukan modal tetap bruto atau investasi juga tumbuh positif sebesar 4,63 persen yang setara dengan 27,90 persen terhadap total PDB nasional. “Porsi PMTB ini menggembirakan karena multiplier effects-nya yang luas dan besar bagi perekonomian nasional,” jelasnya.

Pengeluaran konsumsi pemerintah juga melesat sebesar 10,62 persen yang mengindikasikan serapan belanja yang membaik. Tak kalah pentingnya, pertumbuhan konsumsi LNPRT (Lembaga Non Profit) sebesar 8,62 persen, seiring dengan makin maraknya kegiatan di berbagai organisasi masyarakat dan organisasi politik serta sejenisnya jelang pemilu tahun 2024.

“Semua pertumbuhan tersebut merupakan resultan dari game changer berupa dicabutnya kebijakan PPKM yang mendorong mobilitas orang, barang dan jasa,” pungkas Ryan.

Kemudian lanjutnya, lonjakan konsumsi rumah tangga yang masif terjadi di April-Mei 2023, seiring dengan perayaan hari keagamaan (lebaran idul fitri). Ini diikuti dengan lonjakan konsumsi pemerintah seiring dengan mobilitas orang, barang dan jasa tersebut.

Sementara itu, aktivitas ekspor dan impor mengalami kontraksi masing-masing sebesar -2,75 persen dan -3,08 persenyang kalau dinetokan ekspor tetap positif alias surplus, dimana kontribusi ekspor sebesar 20,25 persen dan impor sebesar -18,54 persen.

“Pertumbuhan ekspor yang negatif karena ekspor barang yang menurun meskipun ekspor jasa tetap tumbuh positif. Ke depannya upaya mendorong ekspor non migas atau produk manufaktur harus ditingkatkan untuk mengkompensasi normalisasi ekspor komoditas supaya proceed ekspor atau devisa hasil ekspor (DHE) tetap meningkat secara berkesinambungan,” imbuhnya.

Secara spasial, jelas Ryan, terjadi perbaikan pertumbuhan dimana PDRB pulau Jawa tumbuh sebesar 5,18 persen dengan share 57,27 persen terhadap total PDB nasional. Disusul dengan Kalimantan tumbuh 5,56 persen, pertumbuhan ini disebabkan karena ekspor batubara yang meningkat.

Selanjutnya, Sulawesi sebesar 6,64 persen serta Maluku & Papua sebesar 6,35 persen yang tumbuh akibat adanya hilirisasi tambang.

Baca juga:  Risiko Penggunaan Teknologi AI Bagi Ekonomi, Bos BI Ungkap Fakta Sebenarnya

Namun, yang perlu diperhatikan pemerintah dalam konteks pertumbuhan spasial adalah pertumbuhan yang melambat di Bali dan Nusa Tenggara sebesar 3,01 persen dan Sumatera 4,90 persen atau di bawah PDB nasional.

“Kemudian, yang perlu diperhatikan adalah stagnasi kontribusi industri pengolahan yang sebesar 18,25 persen atau jauh di bawah capaian rerata yang sebesar 25  -30 persen pada dekade-dekade sebelumnya,” katanya.

Lebih lanjut, tambah Ryan, untuk menuju dan menjadi negara maju dengan pertumbuhan PDB nasional rata – rata 6 – 7 persen, maka reindustrialisasi atau hilirisasi menyeluruh dan kreatif-inovatif menjadi salah satu solusinya sekaligus menghindarkan Indonesia dari jebakan negara berpenghasilan menengah (Middle Income Trap/MIT).

“Ini pun masih harus didukung oleh investasi langsung sebagai salah satu mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depannya,” tutupnya. (*)

Editor: Rezkiana Nisaputra

Irawati

Bergabung dengan Infobanknews.com sejak April 2022. Lulusan Universitas Budi Luhur ini bertugas meliput isu ekonomi makro, moneter & fiskal, perbankan, hingga industri keuangan non-bank (IKNB).

Recent Posts

Bank Mandiri Pastikan Livin’ Siap Temani Transaksi Nasabah Sepanjang Libur Idul Fitri

Poin Penting Bank Mandiri memastikan Livin’ by Mandiri tetap stabil dan beroperasi 24 jam untuk… Read More

7 hours ago

Sidang Isbat Tetapkan Idul Fitri 1447 H Jatuh pada 21 Maret 2026, Ini Alasannya

Poin Penting Pemerintah menetapkan Idul Fitri 1 Syawal 1447 H jatuh pada Sabtu, 21 Maret… Read More

8 hours ago

Bank Mandiri Berangkatkan 10.000 Pemudik Gratis, Ini Fasilitasnya

Poin Penting Bank Mandiri memberangkatkan lebih dari 10.000 pemudik gratis menggunakan 215 bus ke berbagai… Read More

8 hours ago

Laba Adi Sarana Armada (ASSA) Melesat 81 Persen di 2025, Bisnis Ini Paling Ngebut

Poin Penting Laba bersih ASSA naik 81% menjadi Rp596,6 miliar pada 2025. Pendapatan konsolidasi mencapai… Read More

11 hours ago

Pendapatan Agung Podomoro Land (APLN) Tembus Rp3,57 Triliun, Ini Penyumbang Terbesarnya

Poin Penting APLN mencatat penjualan dan pendapatan usaha Rp3,57 triliun pada 2025. Penjualan rumah tinggal… Read More

12 hours ago

Macet Mudik Tak Terhindarkan karena Transaksi Tol, Ini Solusinya

Poin Penting Kemacetan mudik di tol utamanya disebabkan bottleneck di gerbang transaksi, bukan semata lonjakan… Read More

12 hours ago