Market Update

Ekonom Permata Bank soal Reviu MSCI-Outlook Moody’s: Jangan Anggap Negatif

Poin Penting

  • Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, menilai penundaan reviu indeks oleh MSCI dan FTSE Russell dan penurunan outlook oleh Moody’s Investors Service bukan sinyal negatif, melainkan momentum perbaikan.
  • Pemerintah dan regulator, termasuk OJK dan BEI, telah menyiapkan 8 reformasi pasar modal, termasuk kenaikan minimum free float menjadi 15 persen.
  • Respons cepat dan komitmen perbaikan diharapkan mampu memulihkan kepercayaan investor asing dan mendorong peningkatan net buy di pasar domestik.

Jakarta – Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, menilai penundaan reviu rebalancing indeks global dari MSCI dan FTSE serta penurunan outlook Indonesia oleh Moody’s tidak perlu dianggap negatif.

“Ini jangan kita anggap sebagai sesuatu hal yang negatif, justru (menurut) saya, kita meresponsnya adalah berarti harus ada yang kita perbaiki dari kondisi ekonomi kita ya,” kata Josua kepada media di Jakarta, Kamis, 12 Februari 2026.

Ia menegaskan, perbaikan perlu dimulai dari pemerintah dan regulator, terutama dalam aspek keterbukaan informasi dan tata kelola ke depan.

Baca juga: Bos LPS Buka Suara soal Outlook Moody’s: Fundamental Ekonomi RI Tak Berubah

Diketahui, sebagai bagian dari perbaikan tata kelola, regulator yakni Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) telah menyusun rencana reformasi pasar modal Indonesia.

Adapun sebelumnya, telah dirancang delapan langkah reformasi, salah satunya peningkatan minimum free float saham menjadi 15 persen dari sebelumnya 7,5 persen.

“Jadi artinya adalah kaitannya kepada confidence dari FTSE sendiri saya pikir ya pastinya akan wait and see juga kan menunggu bagaimana komitmen atau pun apa namanya respons dari pemerintah juga ya merespons MSCI, merespons Moody’s seperti apa sehingga mungkin dia hold juga waiting-nya Indonesia gitu,” imbuhnya.

Harapan Pemulihan Kepercayaan Investor

Josua menambahkan, respons cepat pemerintah dan regulator atas penilaian lembaga internasional diharapkan mampu mendorong pemulihan kepercayaan investor asing serta meningkatkan net buy asing di pasar domestik.

Baca juga: Soal Outlook Negatif RI, Danantara Siap Berdialog dengan Moody’s

“Jadi makanya dengan beberapa kejadian jangka pendek ini pemerintah harus pelajari dan juga harus refleksikan dan harus perbaiki ke depannya agar apa pun yang dikomunikasikan kebijakan oleh pemerintah ini bisa direspons dan ditanggapi positif juga oleh lembaga internasional seperti itu,” imbuhnya. (*)

Editor: Yulian Saputra

Khoirifa Argisa Putri

Recent Posts

Portofolio Pembiayaan EV Adira Finance Didominasi Mobil Listrik

Poin Penting Pembiayaan mobil listrik di Adira Finance jauh lebih besar dibandingkan motor listrik. Porsi… Read More

51 mins ago

Bea Cukai Segel Toko Perhiasan Mewah, Pengamat dan APPI Buka Suara

Poin Penting Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kanwil Jakarta menyegel sejumlah toko Tiffany & Co… Read More

1 hour ago

Kantongi Laba Rp954 Miliar di 2025, Begini Strategi BRI Life Pacu Kinerja 2026

Poin Penting PT Asuransi BRI Life membukukan laba Rp954 miliar pada 2025, naik 25,4 persen… Read More

1 hour ago

IHSG Dibuka Turun 0,47 Persen ke Level 8.226

Poin Penting IHSG dibuka turun 0,47 persen ke level 8.226,20 pada perdagangan 13 Februari 2026,… Read More

1 hour ago

Zentara Dorong Edukasi Publik Hadapi Ancaman Siber Berbasis AI

Poin Penting Regulasi keamanan siber Indonesia dinilai sudah kuat dan setara standar global, mencakup kripto,… Read More

2 hours ago

IHSG Berpotensi Menguat, Analis Rekomendasikan Saham BKSL, ELSA hingga ENRG

Poin Penting MNC Sekuritas memprediksi IHSG hari ini (13/2) berpeluang melanjutkan penguatan ke kisaran 8.377–8.440,… Read More

2 hours ago