News Update

Ekonom Nilai Momentum Kenaikan Bunga Acuan BI Pas

Jakarta — Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang memutuskan untuk menaikkan bunga acuan atau BI 7-day Reverse Repo Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 4,50 persen sudah sangat tepat.

“Keputusan RDG BI untuk menaikkan BI 7DRRR atau suku bunga acuan sudah sesuai perkiraan ekonom dan itu merupakan keputusan yang tepat terutama terkait timing-nya,” tutur Kepala Ekonom PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, Ryan Kiryanto lewat pesan singkatnya kepada Infobank di Jakarta, 17 Mei 2018.

Kenaikan BI rate 25 bps dari 4,25 persen menjadi 4,50 persen yang dilakukan untuk membuat perekonomian tetap stabil, mengantisipasi pelemahan likuiditas global dan menjaga daya tahan rupiah di saat terjadi ketidakpastian pasar keuangan global. “Ini merupakan respon yang jitu dan cermat. Ketiga tujuan tersebut memang menjadi concern BI, pemerintah dan pelaku usaha,” imbuh Ryan.

Menurutnya, pasar juga bereaksi positif atas keputusan RDG BI tersebut karena sudah sesuai dengan ekspektasi pasar, terutama untuk mengantisipasi langkah The Fed yang akan agresif menaikkan Fed Fund Rate setidaknya tiga kali pada tahun ini.

Baca juga: Jaga Stabilitas, BI Siap Sesuaikan Kembali Bunga Acuan

Kenaikan BI Rate 25 bps itu menunjukkan sikap BI yang percaya diri sekaligus prudent dalam menyikapi dinamika eksternal yang masih akan berlanjut setidaknya hingga akhir semester 1 tahun ini. “Keputusan BI tersebut juga boleh diartikan bahwa BI selalu ada di pasar sehingga kebijakan dan keputusan yang diambil sudah mempertimbangkan berbagai aspek dan variabel,” papar Ryan.

Seperti diketahui, dalam konferensi persnl, Gubernur BI Agus DW Martowardojo mengatakan, keputusan BI tersebut sejalan dengan langkah Bank Sentral yang tetap ‎konsisten dalam menjaga stabiitas perekonomian di tengah ketidakpastian perekonomian dunia dan penurunan likuditas global yang tengah terjadi.

‎‎”Keputusan BI juga sebagai stabilitas rupiah dan mendorong stabilitas pasar, yang diarahkan untuk bisa mendorong kecukupan valas,” ucap Agus. (*)

Paulus Yoga

Recent Posts

Moody’s Pangkas Outlook RI Jadi Negatif, Airlangga: Perlu Penjelasan Soal Peran Danantara

Poin Penting Moody’s menurunkan outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif, namun mempertahankan sovereign credit rating… Read More

7 mins ago

Outlook Negatif dari Moody’s Jadi Alarm Keras untuk Kebijakan Prabowo

Poin Penting Penurunan outlook dari stabil ke negatif dinilai Celios sebagai peringatan terhadap arah kebijakan… Read More

34 mins ago

Danamon Pede AUM Tumbuh 20 Persen di 2026, Ini Pendorongnya

Poin Penting Danamon targetkan AUM wealth management tumbuh 20 persen pada 2026, melanjutkan capaian 2025… Read More

2 hours ago

Moody’s Pangkas Outlook Indonesia dari Stabil Jadi Negatif

Poin Penting Moody’s menurunkan outlook utang Indonesia dari stabil menjadi negatif, namun tetap mempertahankan peringkat… Read More

2 hours ago

Fundamental Solid, Bank Mandiri Perkuat Intermediasi dan Peran sebagai Mitra Strategis Pemerintah

Poin Penting Di tengah pertumbuhan ekonomi nasional 5,11 persen pada 2025, Bank Mandiri mencatatkan aset… Read More

3 hours ago

Masjid Istiqlal Jalin Sinergi dengan Forum Pemred

Forum Pemimpin Redaksi (Pemred) bersinergi dalam diskusi bertema "Peran Masjid Istiqlal di Era Transformasi Digital… Read More

4 hours ago