Jakarta – Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menyampaikan sejumlah usulan kepada Menteri Keuangan baru, Purbaya Yudhi Sadewa dalam melanjutkan estafet kepemimpinan sebagai bendahara negara.
“Saya mengusulkan kepada menteri keuangan baru, ada empat usulan. Pertama, mohon berhati-hati dalam mengeluarkan statement,” katanya, dalam acara Seminar Publik ‘Reshuffle Menyembuhkan Ekonomi?’ yang digelar daring, Rabu, 10 September 2025.
Menurutnya, seorang menteri keuangan pantang berbicara sembarangan karena setiap pernyataan akan dicermati para investor.
“Walaupun sifatnya joke (lelucon), tetapi kan kita harus pahami ketika ada wartawan yang mendengar kemudian ditulis di media online. Kan yang membaca tidak paham kalau ini joke atau tidak,” jelasnya.
Baca juga: Minta Maaf Salah Omong, Menkeu Purbaya: Ke Depan Akan Lebih Baik
Usulan berikutnya, kata Wijayanto, adalah menghindari over promise atau mengumbar janji manis. Hal itu berpotensi merusak kredibilitas di mata pasar.
“Jangan over promise, over confident dan over simplify karena market akan menilai oleh orang ini tidak paham. Jadi kredibilitasnya justru akan rusak,” ujarnya.
Selain itu, ia juga mengusulkan adanya refocusing anggaran untuk APBN 2026. Menurutnya, APBN 2025 masih banyak mengandung alokasi yang tidak tepat sasaran.
“Misalnya pemangkasan untuk transfer daerah 25 persen. Belum dipangkas saja, pemda-pemda sudah menaikkan pajak sesuka hati, PBB dan lain sebagainya,” bebernya.
Baca juga: Gantikan Purbaya, Didik Madiyono Ditunjuk Jadi Plt Ketua Dewan Komisioner LPS
Wijayanto juga mengingatkan pentingnya perbaikan manajemen utang. Padahal saat pemerintah kesulitan menerbitkan surat utang, Saldo Anggaran Lebih (SAL) justru mencapai Rp600 triliun.
“Ini kan sebenarnya akumulasi utang berlebih yang uangnya terdistribusi kemana-mana dan itu bukan uang gratis. Itu membayar bunga 6,5- 6,8 persen karena intinya SAL itu adalah SBN yang diterbitkan secara berlebihan,” tegasnya.
Usulan terakhir, Kementerian Keuangan diminta fokus mendorong pemberantasan underground economy.
Mengutip data EY, underground economy Indonesia mewakili sekitar 23,8 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) atau setara 326 miliar dolar AS.
“Kalau ini bisa dikonversi menjadi ekonomi yang legal bisa dibayangkan dengan tax ratio 10 persen saja berapa banyak potensi pajak yang bisa kita terima,” pungkasnya. (*)
Editor: Yulian Saputra
Oleh Eko B. Supriyanto, Pimpinan Redaksi Infobank Media Group EKONOMI politik perbankan Indonesia sedang sakit.… Read More
Poin Penting Kereta Whoosh sempat berhenti akibat seng di jalur, namun sensor mendeteksi dini dan… Read More
Poin Penting Jepang menandatangani MoU investasi senilai Rp384 triliun dengan Indonesia. Kerja sama mencakup sektor… Read More
Poin Penting Tiga prajurit TNI gugur dan tiga lainnya terluka dalam misi UNIFIL di Lebanon.… Read More
Poin Penting IHSG ditutup turun 2,19% pada 2 April 2026, diikuti pelemahan seluruh indeks utama.… Read More
Poin Penting IHSG melemah 0,99% sepekan, dengan lima saham utama menjadi penekan terbesar indeks. BREN… Read More