Perbankan

Ekonom Bank Mandiri Ramal Kredit 2024 Tumbuh hingga 12 Persen, DPK Masih Jadi Tantangan

Jakarta – PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menyebutkan bahwa pertumbuhan kredit di tahun 2024 ini diprediksi bakal mencapai peningkatan di kisaran 12 persen. Target tersebut lebih tinggi dibandingkan pencapaian kredit tahun lalu yang sebesar 10,83 persen.

Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, mengatakan industri perbankan saat ini masih cukup percaya diri target tersebut bakal tercapai, karena permintaan domestik masih cukup kuat, sehingga pertumbuhan ekonomi mampu tumbuh di kisaran 5 persen.

“Saya rasa sih low double digit sih achieve aja gitu, yang menarik itu adalah bank-bank sekarang itu masih cukup confident dengan pertumbuhan itu low double digit bukan high single digit. Jadi bayangannya mungkin tahun ini juga kaya tahun lalu kan bisa ke 12 persen yakan pertumbuhannya,” ucap Andry kepada media di Jakarta, 21 Februari 2024.

Baca juga: Target OJK 2024: Kredit Bank Tumbuh 11 Persen, Asuransi 6 Persen

Meski begitu, ia menyebutkan bahwa, yang masih menjadi tantangan di industri perbankan adalah terkait pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang tumbuh melambat senilai 3,8 persen.

“Nah memang challenge-nya di DPK di pertumbuhan DPK yang tumbuh 3-4 persen tahun lalu, kalau sekarang kan sekitar 6-8 persen target OJK, saya rasa gitu,” imbuhnya.

Andry menuturkan bahwa, untuk terus menggenjot dana murah tersebut diperlukan infrastruktur digital yang kuat, dan didukung oleh ekspansi, serta akselerasi bisnis.

“Itu makanya kita buat infrastruktur digital adalah supaya kita punya franchise penempatan dana itu lebih sustainable dari dana murah itu menggenjot dari sisi bisnis digital itu,” ujar Andry.

Baca juga: Kredit Perbankan Tumbuh 10,38 Persen, Sektor Ini Jadi Pendongkrak

Sementara itu, jika dilihat dari sisi makro ekonomi, suku bunga The Fed diperkirakan akan mengalami penurunan, sehingga dari sisi dunia usaha tentunya akan melakukan pengelolaan aset dan liabilitas untuk mencegah membengkaknya beban.

“Nah itu kuncinya di situ sekarang adalah bagaimana bank dan juga sektor swasta ya maksudnya sektor rill itu berusaha supaya ketika environment menebal, kenaikan suku bunga acuan dan sekarang suku bunga acuan menjadi turun itu marginnya bisa terjaga, kalau bank yang pasti akan menjaga cost of fund (COF),” tambahnya. (*)

Khoirifa Argisa Putri

Recent Posts

1 Dekade Modalku, Salurkan Pendanaan Rp9,2 Triliun ke 74 Ribu UKM

Poin Penting Modalku menyalurkan pendanaan Rp9,2 triliun kepada lebih dari 74 ribu UKM sejak berdiri… Read More

4 hours ago

BI Catat Dana Asing Keluar Rp7,71 Triliun di Pekan Kedua Januari 2026

Poin Penting Capital outflow Rp7,71 triliun terjadi pada pekan kedua Januari 2026, dengan dana asing… Read More

6 hours ago

JCB Genjot Transaksi Wisatawan RI di Jepang

Poin Penting JCB luncurkan kampanye “Arigato! Cashback” bagi pemegang Kartu JCB Indonesia yang bertransaksi di… Read More

14 hours ago

OJK Tunjuk Bank Kalsel Jadi Bank Devisa, Potensi Transaksi Rp400 Triliun

Poin Penting OJK menunjuk Bank Kalsel sebagai Bank Devisa sejak 31 Desember 2025 dengan masa… Read More

1 day ago

Riset Kampus Didorong Jadi Mesin Industri, Prabowo Siapkan Dana Rp4 Triliun

Poin Penting Presiden Prabowo mendorong riset kampus berorientasi hilirisasi dan industri nasional untuk meningkatkan pendapatan… Read More

1 day ago

Peluncuran Produk Asuransi Heritage+

PT Asuransi Jiwa BCA (BCA Life) berkolaborasi dengan PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menghadirkan… Read More

1 day ago