Moneter dan Fiskal

Efisiensi Anggaran Berlebihan Jadi Biang Kerok Perlambatan Ekonomi RI

Jakarta – Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai efisiensi anggaran yang dilakukan pemerintah sejak awal tahun berdampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi domestik, khususnya pada kuartal I-2025.

Direktur Pengembangan Big Data Indef Eko Listiyanto menjelaskan, efisiensi yang berlebihan ini alih-alih meningkatkan produktifitas di birokrasi, namun justru memberikan delusi potensi pertumbuhan ekonomi.

“Jadi menurut saya efisiensi ini sudah berlebihan dan ternyata bukannya meningkatkan produktifitas di birkorasi apalagi di perekonomian, tapi yang terjadi justru mendelusi dari potensial growth itu sendiri,” kata Eko dalam acara KEM PPKF 2026: Efisensi Berlanjut, Mimpi 8 Persen Makin Surut?, dikutip, Jumat 30 Mei 2025.

Baca juga: Danantara, BSI, dan Peluang Emas Ekonomi Syariah di Indonesia

Eko mengatakan, banyak sektor-sektor usaha yang mengalami ‘kolaps’ akibat terdampak oleh belanja hemat Kementerian. Di mana pemerintah memangkas anggaran untuk mengadakan rapat di luar hingga kegiatan di daerah-daerah, bahkan luar negeri.

“Mungkin pada aspek lain memang harus kita evaluasi, tetapi menurut saya harusnya evaluasinya nggak berlebihan karena kemudian ternyata situasi itu diikuti cara adaptasi mereka, dengan situasi batasan anggaran itu diikuti dengan pola swasta juga, sehingga swasta juga ikut-ikutan tidak ada kegiatan-kegiatan menstimulasi perekonomian,” jelasnya.

Dia pun menyoroti realisasi pertumbuhan ekonomi sebesar 4,87 persen secara tahunan (yoy) di kuartal I-2025, yang menandakan Indonesia makin bergerak menjauh dari target 5,2 persen pada 2025 sesuai APBN.

Lebih lanjut, tambah Eko, kisaran pertumbuhan ekonomi di level 5,2 hingga 5,8 persen dalam Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) 2026 akan sangat berat. Diperlukan upaya ekstra untuk mengakselerasi pertumbuhan di tahun depan.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan bahwa efisiensi anggaran akan tetap dilakukan pada tahun 2026 sebagai upaya memperkuat kualitas belanja pemerintah.

Sri Mulyani menjelaskan, pihaknya saat ini tengah memonitor berbagai langkah efisiensi yang dilakukan sepanjang tahun ini. Menurutnya, hasil evaluasi terhadap efisiensi anggaran pada 2025 akan menjadi rujukan dalam penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2026.

Baca juga: BI Prediksi Efek Penurunan BI Rate ke Ekonomi Butuh 1,5 Tahun, Ini Sebabnya

“Pasti dilakukan, itu tadi. Jadi kalau mau disampaikan jawaban saya tegas iya dilakukan. Strateginya mengacu pada Asta Cita 8 prioritasnya Bapak Presiden, baru dan kita optimalkan berdasarkan program-program yang di develop oleh Kementerian Lembaga tentu saja dengan arahan dan guidance dari Bapak Presiden,” ujar Sri Mulyani di Kompleks DPR RI, dikutip, Rabu, 21 Mei 2025.

Bendahara negara ini menegaskan bahwa penguatan kualitas belanja pada 2026 akan dilakukan melalui efisiensi belanja operasional dan rekonstruksi belanja agar lebih produktif dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.

“Penguatan kualitas belanja dilakukan dengan melanjutkan efisiensi belanja operasional dan rekonstruksi belanja agar lebih produktif dan berorientasi pada kesejahteraan rakyat,” jelasnya. (*)

Editor: Galih Pratama

Irawati

Bergabung dengan Infobanknews.com sejak April 2022. Lulusan Universitas Budi Luhur ini bertugas meliput isu ekonomi makro, moneter & fiskal, perbankan, hingga industri keuangan non-bank (IKNB).

Recent Posts

PMI 53,8: Sirkus Musiman yang Dipuji Purbaya di Istana Sebagai Mukjizat

Oleh Eko B. Supriyanto, Pimpinan Redaksi Infobank Media Group MENTERI Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa minggu… Read More

4 hours ago

Pergerakan Saham Indeks INFOBANK15 di Tengah Koreksi IHSG

Poin Penting IHSG turun 3,05% pada penutupan perdagangan 13 Maret 2026 ke level 7.137,21, diikuti… Read More

16 hours ago

Banyak Orang Indonesia Gagal Menabung karena Pola Keuangan Salah, Ini Solusinya

Poin Penting Banyak orang Indonesia gagal menabung karena pola keuangan yang keliru: penghasilan naik, pengeluaran… Read More

16 hours ago

Berikut 5 Saham Pemberat IHSG Pekan Ini

Poin Penting IHSG melemah 5,91% pada periode 9-13 Maret 2026 ke level 7.137,21, sementara kapitalisasi… Read More

16 hours ago

IHSG Sepekan Melemah Hampir 6 Persen, Kapitalisasi Pasar jadi Rp12.678 Triliun

Poin Penting IHSG melemah 5,91% selama pekan 9–13 Maret 2026 dan ditutup di level 7.137,21.… Read More

16 hours ago

LPS Bayarkan Rp14,19 Miliar Dana Nasabah BPR Koperindo

Poin Penting LPS mulai membayar klaim simpanan nasabah BPR Koperindo sebesar Rp14,19 miliar pada tahap… Read More

16 hours ago