Moneter dan Fiskal

Efektifitas Dan Produktifitas Utang Indonesia Masih Rendah

Jakarta- Utang Indonesia dalam tiga tahun terakhir tercatat terus mengalami pertumbuhan cukup pesat dimana pada APBN tahun 2018 total utang mencapai Rp4,772 triliun. Seperti diketahui, secara kalkulasi ekonomi sebenarnya utang bukanlah barang yang haram, karena sebenarnya utang merupakan tambahan modal guna meningkatkan kemampuan pembiayaan pembangunan.

Dengan tambahan utang, mestinya mampu untuk meningkatkan produktivitas dan akselerasi dari pertumbuhan ekonomi. Termasuk meningkatkan kualitas pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kemandirian ekonomi Indonesia, namun nyatanya outstanding utang Indonesia terus bertambah, namun produktivitas daya saing perekonomian justru menurun.

“Dampak utang dalam rangka percepatan agenda pembangunan infrastruktur memang tidak serta merta akan terjadi dalam jangka pendek. Namun, indeks Tendensi Bisnis dan berbagai survei tentang ekspektasi perekonomian tidak mengalami akselerasi pertumbuhan. Akibatnya, output pertumbuhan ekonomi tidak beranjak dari sekitar 5 persen ,” ungkap Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Ahmad Heri Firdaus di Kantor INDEF Jakarta, Rabu 21 Maret 2018.

Baca juga: INDEF: Utang Luar Negeri Indonesia Dalam Status Waspada

Ahmad menjelaskan, dengan perhitungan produk domestik bruto (PDB) harga berlaku, output ekonomi Indonesia dalam tiga tahun terakhir pada 2015-2017 meningkat dari Rp11.526,33 triliun pada 2015 ke Rp12.406,77 triliun pada 2016, dan Rp13.588,80 triliun pada 2017, atau rata-rata naik 8,74 persen per tahun.

Sementara itu, total utang Pemerintah pada periode yang sama tercatat sebesar Rp3.165 triliun atau USD229,44 miliar pada 2015 lalu Rp3.515 triliun atau USD261,64 miliar pada tahun 2016, dan terkahir Rp3.938 triliun atau USD290,7 miliar pada 2017, atau rata-rata naik 14,81 persen dengan denominasi Rupiah atau 11,52 persen dengan denominasi USD.

“Laju penambahan utang yang lebih kencang dari laju peningkatan output perekonomian ini akan semakin menggerogoti stabilitas perekonomian ke depan jika tidak segera dikendalikan,” tambah Heri.

Sebagai informasi, utang Pemerintah terus meningkat secara agresif sejak 2015. Peningkatan utang diklaim karena kebutuhan belanja infrastruktur yang menjadi prioritas kerja pemerintahan Jokowi.

Utang pemerintah melonjak dari Rp3.165 triliun (2015) menjadi Rp3.466 triliun (2017). Peningkatan utang terus berlanjut hingga APBN 2018 pada Februari menembus angka Rp4.034 triliun dan pada APBN Febuari 2018 mencapai Rp4.772 triliun.(*)

Suheriadi

Recent Posts

333 Saham Hijau, IHSG Dibuka Menguat ke Level 8.361

Poin Penting IHSG dibuka naik 0,61 persen ke level 8.361,11 (dari 8.310,22). Sebanyak 333 saham… Read More

19 mins ago

Aliansi BEM UI Menentang Pernyataan Purbaya saat Wisuda UI, Ini Pernyataan Sikapnya

Poin Penting BEM se-UI merespons orasi Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa di wisuda Universitas Indonesia soal… Read More

1 hour ago

IHSG Diprediksi Lanjut Menguat, Analis Rekomendasikan Saham BUVA, COIN hingga PANI

Poin Penting IHSG berpeluang menguat ke 8.377–8.440 jika bertahan di atas 8.172, dengan risiko koreksi… Read More

2 hours ago

Transaksi Bank Emas 33,7 Ton, Laba Pegadaian Naik 42,6 Persen di 2025

Poin Penting Laba Pegadaian 2025 melonjak 42,6% menjadi Rp8,34 triliun, ditopang pertumbuhan aset 47,8% dan… Read More

14 hours ago

IMF Usul RI Naikkan Pajak Karyawan, Begini Kata Menkeu Purbaya

Poin Penting IMF mensimulasikan kenaikan bertahap PPh 21 karyawan untuk mendukung peningkatan investasi publik dan… Read More

14 hours ago

Bursa Calon ADK OJK, Purbaya: Belum Ada Figur yang Kompeten

Poin Penting Sudah ada sejumlah pendaftar calon Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), namun… Read More

14 hours ago